Perjalanan
Bahwa hidup kita adalah perjalanan. Berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Yang pasti, waktu terus bergerak maju, tak mampu kita tahan meski sedetik.
Barangkali ini tak cocok disebut perpindahan karena perpindahan tidak memperhitungkan jarak perjalanan. Hanya posisi awal dan posisi akhir yang menentukan. Bila ini disebut perpindahan, maka aku akan terlihat tak berpindah sama sekali. Berasal dari negeri antah berantah dan kembali ke titik itu kembali. Diam.
Entah apalah istilah yang cocok. Ini adalah perjalanan pulang, kembali ke titik asal setelah sekian lama pergi. Telah banyak hal yang terjadi selama perjalanan. Jalanan yang tak selalu lurus, seringkali bertemu tikungan tajam. Tak melulu tentang jalan yang datar, kadang harus menaiki tanjakan atau turunan tajam. Bukan pula tentang melaju dengan kecepatan maksimal, kadangkala harus berhenti sejenak. Menikmati perjalanan, mensyukuri keadaan, mengambil hikmah dari apa yang telah terlewati.
Perjalanan yang tak singkat, waktu tempuh menyentuh bilangan tahunan. Berkali-kali menyesuaikan diri dengan lingkungan, kadangkala terombang-ambing kala badai menghadang. Berusaha menjaga keseimbangan.
Tak sedikit jumlah orang-orang yang ditemui. Baik yang sekadar lewat, kadang singgah sesaat maupun yang memilih untuk menetap. Meninggalkan kesannya masing-masing. Mencipta ingatan yang kelak lekat menjadi kenangan.
Perjalanan pulang menjadi sama beratnya dengan perjalanan pergi. Bahkan lebih berat mungkin. Tapi kehidupan harus terus berlanjut, fase ini telah penuh dan harus berpindah ke fase selanjutnya. Jika ini tentnag berat meninggalkan, tapi pada kenyataannya satu per satu akan tetap pergi. Ini hanya tentang fase diriku yang lebih cepat dimulai, sehingga aku yang harus meninggalkan terlebih dahulu.
............. (bersambung)
H-1 pulang, 30 Oktober 2017| Kabupaten hujan















