月光桜 // Seaofclouds Ks
seen from Malaysia

seen from Lithuania
seen from Germany

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Australia

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from Kosovo

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from Poland

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Canada
月光桜 // Seaofclouds Ks

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Ingin merasakan kembali, atmosfer dimana "setiap insan pendaki hanya seperti semut yg berjalan berentetan di dinding rumah"
Keluarlah temui alam semesta yang luas, kau akan bertemu dengan hakikat kehidupan.
Melihat diri ini tidak ada apa apa nya ditengah hamparan ciptaan-Nya.
"Kita mendaki gunung, agar kita bisa melihat dunia ini terbentang luas. Bukan sebaliknya, agar dunia melihat kita." - Tere Liye
Ketika menapak naik, kita menyadari bahwa diri ini kecil dan tak berdaya.
Ketika menapak turun, kita semakin menyadari bahwa diri ini lebih kecil lagi dan lebih tak berdaya.
Ketika menapak pada tujuan dengan selamat, disitulah rasa syukur bertempat.
🌳
PAGI - SIANG - SORE
Dokumentasi perjalanan, Sumbing & Sindoro
Gunung Sumbing via Kaliangkrik, Ujian Energi dan Mental di Awal
Pendakian kedua saya dimulai. Kali ini, Gunung Sumbing via Kaliangkring menjadi tujuan saya.
Saya memang bukan cah wanderlust yang sering travelling sana-sini. Hanya kebetulan kalau diajak jalan, saya banyak bisanya. Saya juga gak sebegitunya sama mendaki gunung. Sampai sekarang, baru Gunung Merbabu aja yang saya kunjungi, itupun tahun lalu. Gunung Bromo gak masuk hitungan kan, ya? Hehe
Kali ini, masih dengan teman SMA saya yang setahun lalu mengajak untuk naik ke Merbabu, saya diajak untuk naik ke Sumbing via grup SMA. Tanpa pikir panjang tentunya saya iyakan ajakan itu. Jadilah tanggal 17 April kemarin, sore setelah melakukan pesta demokrasi se-Indonesia (coblosan pemilu), saya beserta tiga teman saya (Bagus, Pepi, dan Fonda) berangkat menuju Magelang menggunakan mobil. Ini juga menjadi kali pertama pengalaman saya melakukan perjalanan darat menggunakan mobil pribadi via Tol Pandaan – Magelang. Perjalanan sampai di Magelang menghabiskan waktu kurang lebih 5 jam, waktu tempuh yang nayamul cepat menurut saya.
Sesampainya di Magelang, saya bertemu dengan Faishal (@shaltype) dan teman-teman Mageletter (komunitas hand lettering & kaligrafi di Magelang). Kemudian lanjut istirahat di rumah Faishal untuk agar besok paginya bisa langsung berangkat ke Kaliangkrik. Inilah gunanya ikut komunitas menurut saya. Bisa punya banyak teman yang tersebar di berbagai kota dan bisa dimanfaatkan jika sedang butuh tempat singgah sementara. Hehe
Perjalanan dari pusat kota Magelang ke dusun Butuh Kaliangkrik memakan waktu kira-kira 2 jam. Menurut informasi yang saya baca sebelum melakukan pendakian, jalur Kaliangkrik ini merupakan jalur yang paling ekstrim untuk mendaki Gunung Sumbing, namun pemandangan sangatlah yoi sekali. Saya sebenarnya juga kurang paham mengapa teman-teman saya memilih Kaliangkrik sebagai jalur keberangkatan. Tapi pikir saya waktu itu, “ah gapapa, paling juga ekstrimnya masih wajar, Namanya gunung, kan. Lagipula pemandangannya katanya juga indah”. Ternyata, semua itu terbantahkan sejak pertama kali mobil kami diparkir dan jalan menuju titik basecamp sudah sangat menggoda sekali. Wow.
Untuk pendaki senin-kamis seperti saya ini, dikasih salam pembuka berupa trek sangat menanjak gini rasanya asik sekali, ya. Tapi di dalam hati sih tetap sambat. “cur, durung-durung kok wes munggah nemen”.
Setelah sampai di basecamp, melakukan registrasi, sedikit mengatur nafas dan melakukan doa pemberangkatan, akhirnya kami berempat mulai melakukan pendakian sekitar jam 1 siang. Di sinilah ujian kesabaran pertama langsung dimulai. Mulai basecamp menuju pos 1 hingga pos 2, jalan yang ditempuh memang sangat menanjak. Dari basecamp menuju pos 1, treknya lebih didominasi dengan jalan menanjak berbentuk bebatuan. Di sepanjang jalan kita masih sering berpapasan dengan warga lokal yang berangkat atau pulang dari kebun mereka. Tak jarang mereka juga membawa hasil bumi dari kebunnya menuju rumah mereka di bawah sana. Setiap berpapasan dengan mereka, rasanya seperti menambah sedikit semangat untuk tetap kuat melangkah. Karena setiap berpapasan, mereka pasti menyapa kami dengan pertanyaan, “minggah, mas… (naik, mas)” dengan senyum khas dari raut wajah yang sangat ramah. Ya walaupun rata-rata tiap berpapasan selalu menyapa dengan pertanyaan yang sama, itu malah menjadi hiburan tersendiri bagi kami biar agak lupa dengan capeknya melangkahkan kaki satu per satu.
Setelah beristirahat sebentar di Pos 1, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2. Jalannya juga masih sangat menanjak berbentuk tangga berbatu. Memang sepertinya ujian mendaki Gunung Sumbing via Kaliangkrik ya dimulai dari basecamp hingga Pos 2. Trek yang berbentuk tangga berbatu memang sangat menguras energi dan mental. Meski begitu, kami tetap berpegang pada filosofi alon-alon asal kelakon, walaupun pelan-pelan yang penting bisa sampai dengan selamat.
Kami berempat sampai di Pos 2 menjelang maghrib, sekitar jam 5 sore. Cukup lama kami berhenti di Pos 2 karena setelah berjuang di jalanan menanjak sebelumnya. Tapi, mengingat trek menuju pos 3 cukup landai dan matahari juga sudah hampir terbenam, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3. Di sepanjang perjalanan menuju Pos 3, kita akan beberapa kali menemui tebing bebatuan dengan sumber air yang mengalir. Jadi, gak perlu khawatir lagi kalau missal di tengah jalan persediaan air kita mulai menipis. Bisa diisi ulang di sepanjang perjalanan menuju Pos 3. Santai.
Kami sampai di Pos 3 sekitar jam 8 malam. Karena sudah cukup malam, akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda di Pos 3. Suasana di Pos 3 waktu itu cukup ramai. Malah bias dibilang penuh, sih. Kami sendiri mendirikan tenda di spot paling ujung di Pos 3, dengan tanah yang lumayan miring. Gapapa, yang penting bisa tidur malam ini. Seperti malam-malam biasanya ketika mendaki gunung, kami menghabiskan waktu dengan mengisi perut, ngobrol sana-sini dengan topik yang beragam, hingga akhirnya bersitirahat dan bersiap untuk esok hari.
Keesokan harinya, ketika matahari mulai menampakkan sinarnya, terlihat jelas bahwa Pos 3 ini benar-benar ramai dan memang tidak ada ruang kosong lagi untuk mendirikan tenda. Kami bersyukur. Kemudian saya dengan satu orang teman saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke puncak, atau minimal ke Pos 4. Karena sudah sampai sejauh ini dan nanggung aja, pikir kami berdua. Sedangkan dua teman saya yang lainnya memilih untuk beristirahat di tenda karena memang sudah tidak kuat lagi melanjutkan perjalanan.
Trek menuju pos 4 lumayan berat di titik-titik awal, karena jalannya yang mengecil, menanjak, dan dipenuhi dengan bebatuan. Namun selepas itu, trek menanjak seperti yang standar lah menurut saya. Ohya, kalau bicara pemandangan, perjalanan melalui Kaliangkrik ini memang kita selalu disuguhi pemandangan yang sangat indah. Apalagi perjalanan dari pos 2 hingga menuju puncak. Saya baru benar-benar menikmati pemandangan yang sangat yoi ketika melakukan perjalanan menuju Pos 4. Di ketinggian yang hampir mencapai 3000 mdpl, pemandangan yanag disuguhkan gunung Sumbing ini memang benar-benar swangar. Saya bisa melihat garis horizon sebagai batas antara awan dan langit aja udah bisa ngerasa sweneng pol. Waksi!
Perjalanan menuju pos 4 berlangsung lumayan cepat. Walau rasanya setiap langkah yang saya lakukan, otot-otot mulai protes dan meminta untuk istirahat. Hingga akhirnya sampai di Pos 4 dan kami berdua memutuskan untuk cukup sampai di sini saja. Cukup melihat puncak sumbing dari sini saja. Karena selain masih membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam lagi untuk menuju puncak dengan trek menanjak yang nayamul sekali, kami berdua sudah kelelahan. Rasanya kurang bijak kalu dipaksakan. Memang sedikit kecewa. Tapi kesehatan dan keselamatan jelas yang utama, kan? Lumayan lama kami menghabiskan waktu di Pos 4. Bertemu seorang kawan-kawan baru dan menghabiskan waktu mengobrol dengan mereka. Sampai diberi 2 mangkuk mie goreng dan mie rebus. Wow, rejeki naik gunung, nih. Hehe.
Setelah dirasa cukup, kami berdua akhirnya turun lagi menuju tenda kami di Pos 3. Sekitar jam 1 siang, kami berempat memutuskan untuk melakukan perjalanan turun menuju basecamp. Kurang lebih sekitar 4 jam kemudian kami sampai di basecamp. Matahari sudah mulai turun dan adzan maghrib berkumandang. Ini tandanya perjalanan kami di gunung Sumbing telah usai. Setelah membersihkan diri dan makan, kami melanjutkan perjalanan pulang.
Setiap pendakian memang memiliki cerita tersendiri. Terima kasih gunung Sumbing dan Kaliangkrik karena telah memberikan saya pelajaran bahwa seberat apapun proses awal yang kita lakukan, selama kita yakin, bersabar dan gak menyerah, semua akan menghasilkan pada waktunya. Meskipun hasil akhirnya gak sesuai dengan apa yang kita bayangkan sebelumnya, namun percayalah bahwa memang itu yang terbaik. Walaupun kali ini saya belum berhasil sampai di puncak, sudah sampai sejauh ini buat saya merupakan kebahagiaan tersendiri.
Salam.
Foto selengkapnya bisa dinikmati di sini Photoset 1 - https://potretdunyo.tumblr.com/post/185144486622/gunung-sumbing-via-kaliangkrik-1-sebuah-set-foto Photoset 2 - https://potretdunyo.tumblr.com/post/185165684442/gunung-sumbing-via-kaliangkrik-2-sebuah-set-foto
__ @dimazfakhr Bali, 0525

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Jika ragu, jangan diterusin
Ada rasa menyesal. Coba rasa lelah malam itu bisa ditangguhkan sejenak. Kapan lagi bisa ke sini? puncak mahameru sudah di depan mata. Tetapi rasa ragu mendominasi. Bahkan ego yang biasanya memenangkan perdebatan, malam itu dia diam saja. "Tidur saja di tenda. Logistik tidak mendukung. Fisik diragukan bisa mengalahkan tanjakan".
Akal menimbang-nimbang. Tapi yasudahlah. Di gunung, kamu tidak mengalahkan siapa pun. Di gunung, bukan puncak sebagai tujuan. Melainkan pulang dengan selamat. Nasihat klasik. Tapi bener.
Akhirnya saya memutuskan tinggal di tenda. Merelakan mahameru. Memilih berdiam di kali mati. Namun demikian, ketika pagi datang, ada penyesalan terbesit dalam hati. Belum tentu ada kesempatan seluas ini untuk mendaki lagi. Benar saja, bahkan lima tahun setelahnya belum ada kesempatan kedua.
Tetapi, jika malam itu saya memaksa diri. Belum tentu hari ini saya masih ada di sini. Menulis catatan ini.
Di setiap langkah kaki tersimpan sajak
Ketika sang kanan tak berpijak
Maka, sang kiri akan membuat jejak
Derap langkahnya pasti
Jarak pindahnya beradaptasi
Awalnya tertatih-tatih
Lama kelamaan semakin gigih
Di telusuri setapak demi setapak
Hingga terlihat sebuah puncak
Yang ingin dijaga dengan semangat
Juga ingin dipeluk erat
Tapi,
Puncak bukan untuk dikejar
Dengan rasa sukar, kita akan belajar
Bahwa perjalanan tak dapat ditukar
Merbabu, 25 Maret 2019
Seperti berada diantara kumpulan kapas-kapas... ☁☁☁☁☁ . . . #negeriatasawan #senjakalaitu #awanputih #perempuanpecintalangit #mountains #rooftop #andongpeak #gunungandong #pendakian #pendakiindo #photoofthedays