JAMAN DAHULU,
pelaporan atas kekerasan dalam rumah tangga kepada lembaga yg berwenang apakah menjadi hal yang wajar ya?
Cerita ibu, jaman dahulu kesopanan anak begitu terjaga. Tidak ada anak yang berani meninggikan nada suara di depan bapak atau ibu. Seorang istri pun juga begitu ketiks berlaku kepada suami.
Berjalan dengan menunduk, pun ada yang berjongkok ketika hendak berbicara dengan bapak (sang kepala keluarga). Tak heran, anak anak mereka tidak ada yang membangkang atau berkata/berperilaku kasar kepada orang yang lebih tua.
Belaku juga di diriku. Menjadi dewasa ini kita harus lebih bisa menempatkan diri dalam porsinya. Diriku dididik dengan penuh "ketegasan", yaa begitulah aku menyebutnya. Andai teman teman sekolahku tau akan keadaan keluargaku yang penuh dengan ketegasan di keseharian.
"Bapak, dari dulu harus mendidik kalian dengan keras. Karena bapak juga dididik seperti ini oleh nenek kalian. Dan bapak percaya dengan didikan keras ini, kalian pasti berhasil dikemudian hari"
Ya, dari kecil kami sudah tidak asing dengan peraturan memaksa, bentakan nada tinggi, tamparan tangan, hingga pukulan benda tumpul. Sampai hati ketika meningat masa lalu, hanya air mata yang menetes.
Kami sadar, kami dapat perlakuan itu semua karena kami berbuat salah, bandel, dan tidak penurut. Bahkan, dibentak di depan umum pun membuat kami sangat tidak kuat menahan ini semua.
Hidup dengan keterbatasan ekonomi, membuat kami menyadari harus hidup sekeras masa lalu. Tidak terbayang dengan adanya tekanan dalam batin menambah penyiksaan dalam hati kami.
Sekarang, umurku sudah mencapai kepala dua. Melihat kebelakang, tekanan bak keluarga prajurit, hanya menyisakan tangis. Pada umur yang sudah dikategorikan dewasa, menuntunku untuk mengambil pembelajaran yang paling berharga.
(Tak disangka, ketika menulis ini aku menangis sesenggukan. Hanya terbayang ketika dibentak, ditampar, atau dipukul. Memar? Pasti. Pasti berbekas di badan, pun di hati.)
Kita bisa membuktikan dengan didikan bapak yang sangat keras bak prajurit, menjadikan kita pantang menyerah. Kita membuktikan bahwa kita bisa lebih dari orang tua kita yang hanya pekerja buruh pabrik bergaji tak wajar.
Kita membuktikan, mencatatkan nama kita di lulusan sekolah sekolah terbaik. Belajar di kampus negeri terbaik UGM-UNS. Membuktikan terhadap ejekan para tetangga, yang sering meremehkan keluarga kita. Anak anak bapak mendapatkan apa yang dicita-citakan oleh bapak dan ibu. Lulus PTN dengan cumlaude atau nilai bulat yaitu 4.00, sudah tertera di dalam ijazah.
Ya. Kita dididik dengan otoriter. Dalam hal belajar, pukul 9 adalah alarm kita berhenti untuk belajar. Tidak bisa menjawab pertanyaan atau gagal dalam mengerjakan PR? siap siap akan dibentak, dicubit, hingga kaki di atas kepala di bawah. Tapi batin atau psikis yang aku dan kakak-kakak ku punya, adalah batin yang kuat untuk menerima itu semua dari bapak.
Buah dari itu semua, apa yang kita dapatkan? Melapor ke lembaga anti kekarasan? TIDAK. Kita tidak terbesit sekecil apapun memikirkan akan melaporkan bapak kita ke lembaga kekerasan.
Apakah kita termasuk menormalkan KDRT? HAHA, TIDAK.
Diri saya pribadi tidak ingin menormalkan KDRT, atau mengajak orang lain untuk berbuat seperti apa yang ayah saya lakukan. TIDAK ADA NIATAN SAMA SEKALI.
Semua itu adalah pilihan setiap keluarga, apa yang terbaik menurut kondisi keluarga dan keluarga masing-masinglah yang menentukan. Itulah pilihan keluarga kita, dan itulah yang kita lakukan dan kita dapatkan.
Kita mendapatkan ketegaran, pantang menyerah, rela berkorban, tahan banting, dan apapun yang dilakukan oleh bapak selama ini adalah didikan yang menjadikan aku dan kakak kakak ku menjadi seperti sekarang.
Untuk apa yang kita akan turunkan kepada anak, akan kita tentukan bersama keluarga ku nantinya. Aku berharap didikan itu berhenti di keluargaku saat aku kecil dan berhenti di kala aku saat mendapatkannya waktu dulu. Itu adalah didikan yang tidak pantas untuk dilakukan pada jaman ini atau untuk masa mendatang. Jadi stop untuk para orang tua, agar menasehati ketika anak dirasa salah dengan kelembutan, ketenangan dan kasih sayang.
Jangan memberikan bekas kepada fisik atau psikis anak. Untuk menghapusnya akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Lakukan physical affection kepada anak, karena setiap anak mempunyai psikis yang berbeda-beda.













