Here’s my yearly Mermay doodle, starring myself and my son as merpeople. When I have to wake him on weekdays, we often cuddle and he likes to smoosh his face against mine 🥰
seen from Russia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Saudi Arabia

seen from Singapore
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Germany
seen from China

seen from United States
Here’s my yearly Mermay doodle, starring myself and my son as merpeople. When I have to wake him on weekdays, we often cuddle and he likes to smoosh his face against mine 🥰

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
보고싶다아아아아아아아아아아 🥺
Sabar dan Syukur
Bismillahirrahmanirrahim (dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang).
Pagi yang indah.. menjelang siang, cahaya matahari mulai terik menelusup hampir tepat di atas kepala, aku bersama 3 orang teman berangkat menuju suatu tempat, agenda awal Agustus yang baru dapat terlaksana di pertengahan September tahun ini, sekaligus menjadi agenda penutup liburan semester ini.
Nama daerahnya Selo, Boyolali, letaknya di tengah-tengah antara dua gunung yang gagah di sebelah utara kota Jogja, apalagi kalau bukan Merapi dan Merbabu. Ya.. benar saja hari itu kami akan mendaki, setelah beberapa waktu yang lalu di iming-imingi seorang teman, yang katanya gunung ini punya jalur pendakian yang indah, ah jadi penasaran, seindah apa.
Singkat cerita awalnya banyak yang tertarik ikut ekspedisi ini, tapi pada akhirnya hanya menyisakan 4 orang saja, tapi tak mengapa, mereka punya kesibukan dan tanggung jawab masing-masing, dan mungkin belum rezeki mereka bisa ikut mendaki kali ini.
Tepat pukul 13.00, setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam, sampai juga di basecamp pendakian Gunung Merbabu, meskipun ini bukan pertama kali kami mendaki, tapi prosedur dan syarat-syarat pendakian gunung ini sedikit berbeda, walaupun sedikit ribet, tapi tak apa demi keselamatan bersama. Cukup lama kami istirahat dan memenuhi syarat-syarat pendakian siang itu. Setelah waktu Ashar, akhirnya kami mulai perjalanan menuju puncak yang sudah diperkirakan dari awal paling tidak 7 jam perjalanan.
Tidak jauh beda dengan gunung-gunung lain, awal perjalanan ditemani banyaknya pepohonan nan hijau, kicauan burung-burung di dalam hutan, cahaya mentari yang menyelinap masuk diantara daun-daun yang rindang dan pastinya.. jalan menanjak. Ditengah perjalanan kerap kali kami berpapasan dengan pendaki lain yang sudah sedari kemarin mendaki, terlihat raut wajah lelah dan lesu mereka ketika turun, tapi senyum sumringah mereka tidak ada yang bisa menutupi. Ternyata benar, sedekah itu nggak harus di masjid/kotak amal, sekalipun digunung, ternyata sedekah itu bisa dilakukan, walaupun paling murah, asal ikhlas, InsyaAllah jadi pahala yang melimpah. Melihat senyum para pendaki lain yang turun, jadi tambah penasaran, sebenarnya ada apa diatas sana.
Entah mungkin sudah tak terhitung kami beradu salam dan berbalas senyum dengan pendaki lain, memang sangat ramai kala itu, entahlah apa yang mereka cari diatas sana, tiap insan pasti punya penilaian subjektif masing-masing, kalau aku sih, cuma pengen aja, nggak tau kenapa menurutku alam itu seakan memancarkan candu dan kerinduan, rasanya enak aja duduk santuy dibawah pohon entah di gunung atau dipantai, kemudian nyruput teh atau kopi, sambil mikirin perekonomian negara kali ya…hehe, serasa banyaknya masalah, berjuta problem, dan selaksa kesulitan yang menghadang tiba-tiba menghilang, kalau nggak percaya coba aja.
Oke balik lagi ke gunung, ternyata apa yang dikatakan mas-mas saat di basecamp tadi benar, dia bilang “nggak usah naik mas, capek”. Dan terbukti, belum ada setengah perjalanan, kaki ini mulai lelah, badan pun mulai kaku, ditambah angin dingin berhembus menelusup di sela-sela kain baju, tapi teringat kisah Rasulullah dahulu, bersama para sahabat yang menempuh puluhan kilometer untuk berhijrah, hati ini serasa ingin bangkit dan terus melanjutkan pendakian, tapi apalah daya badan ini sudah tak kuat lagi, dan kami juga tak ingin mendzalimi badan sendiri, jadi kami putuskan untuk istirahat sejenak. Nggak kebayang dulu selelah apa para sahabat menempuh perjalanan panjang di jazirah arab demi menyebarluaskan risalah Islam, selelah apa Siti Hajar bolak-balik dari safa ke marwah demi mencari air untuk anaknya Ismail, ah dibandingkan itu semua mungkin kita hanya sebatas remah rengginang di kaleng khong guan yang hanya ada ketika saat lebaran.
Hari mulai petang, cahaya mentari mulai beringsut menghilang, senja pun tak dapat terpandang, karena terhalang bukit nan tinggi menjulang dan pohon yang rindang, angin dingin semakin menyeruak masuk sampai ke tulang-tulang, jari jemari semakin kaku, namun cahaya bulan akhirnya datang menyelinap diantara awan-awan petang. Maghrib.. kami cari tempat yang lapang dan mulai menunaikan kewajiban kami sebagai seorang Muslim, karena keterbatasan air kala itu, tayamum pun jadi solusianya, sungguh sebenarnya agama ini adalah agama yang mudah, tapi bukan berarti kita boleh mengampangkanya, selepas shalat, kami beranjak untuk menuju tempat yang akan kami gunakan untuk bermalam.
Tepat pukul 21.00 lebih sedikit, setelah perjalanan yang cukup melelahkan, menelusup diantara gelapnya malam, kaki yang mulai terbujur kaku setelah menanjak diantara bebatuan, akhirnya sampai juga di suatu tempat, yang dinamakan sabana 1, kami tidak sendiri, ternyata disana sudah berdiri sedari tadi, puluhan tenda berjejer rapi, suasana yang tadinya sunyi, tiba-tiba menjadi ramai sayup-sayup para pendaki dimalam hari. Tenda kami dirikan di salah satu sisi, selepasnya, kami memanaskan air dan kami buat kopi sachet yang sudah kami bawa dari rumah.
Alhamdulillah, malam itu cuaca sungguh bersahabat, langit berlukis awan malam dan bertabur bintang sangat terlihat malam itu, sambil menyeruput kopi mata ini tertuju pada cahaya bintang-bintang yang berada di bawah gunung, ternyata bukan cahaya bintang, melainkan cahaya kota Boyolali yang terlihat jelas dari atas sini, ternyata dari atas, kota itu terlihat kecil, sangat kecil, rumah, hotel, gedung, apartemen, dari atas terlihat sama, ah ternyata benar, kita itu bukan apa-apa, dari tempat ini terlihat jelas kita itu hanya setitik kecil, lantas apa yang mau kita sombongkan? Kita bukan apa-apa di dunia ini, dibandingkan dengan Allah, Tuhan yang maha besar, yang menciptakan langit dan bumi. Satu per satu pertanyaan di awal tadi mulai terjawab, ada apa sebenarnya diatas sana, ketemu satu, ternyata diatas sini ada rasa syukur, yang mungkin kalau dibawah sana kita sukar untuk melihatnya.
Sedikit tentang syukur, tiap manusia punya cara bersyukur masing-masing, ada yang bersyukur bisa beli mobil untuk keluarganya, ada yang bersyukur bisa punya rumah sendiri, ada yang bersyukur bisa hidup tanpa berpikir besok mau makan apa, dan adapula yang bersyukur hari ini alhamdulillah bisa makan. Tidak semua orang punya gaji, tapi semua orang punya rezeki, dan itu semua sudah dijamin, banyak sedikitnya tergantung cara kita mengusahakannya, berkah tidaknya tergantung cara kita menjemputnya, dan pahit manisnya tergantung cara kita mensyukurinya. Bagaimana mau diberi banyak kalau yang sedikit saja tidak kita syukuri?. Kalau kata seseorang, kunci kedamaian hati ada di tempat pangkas rambut, karena disana kita ga pernah lupa buat bercukur, he..he..he.
Nggak kerasa, cangkir ini mulai kehabisan kopinya, mata ini mulai mengantuk dan jari tangan mulai membeku, serasa badan ini berkata, “sudah malam waktunya tidur perjalanan masih panjang esok hari”. Benar saja, kalau menurut peta, dari tempat kami bermalam menuju puncak, perkiraan waktu tempuhnya kurang lebih 2,5 jam perjalanan lagi, ah..tak apa kita syukuri dulu perjalanan hari ini. Tiba waktunya tidur, sambil membayangkan kejutan apa yang akan kita dapat esok hari, masih dengan rasa penasaran yang sama, seperti apa gunung yang kata orang adalah salah satu gunung yang punya jalur pendakian terindah di pulau ini. Malam yang syahdu dengan langit yang cerah, sayup-sayup terdengar suara serangga yang sedang berdzikir kepada sang pemilik jagat raya, mata penuh dosa ini akhirnya mulai terpejam, “Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut” “Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup, dan dengan nama-Mu aku mati”.
Bersambung…
Aku menemukan cinta pada setiap bagian di hidup ku. Cinta yang tidak terlepas dari perencanaan-Mu, dari apa yang telah Kau gariskan.
Aku percaya bahwa sesulit apapun keadaan saat ini adalah wujud nyata dari cinta itu. Pun dengan semua kebahagiaan yang menyertainya. Aku selalu percaya bahwa akan ada kebaikan kelak.
Sebab Allah selalu memampukan kita dalam banyak hal. Mungkin kita masih terhitung jarang bersyukur, jarang merenungi banyak nikmat-Nya.
Sunset, Merbabu, 3142 mdpl
Di setiap langkah kaki tersimpan sajak
Ketika sang kanan tak berpijak
Maka, sang kiri akan membuat jejak
Derap langkahnya pasti
Jarak pindahnya beradaptasi
Awalnya tertatih-tatih
Lama kelamaan semakin gigih
Di telusuri setapak demi setapak
Hingga terlihat sebuah puncak
Yang ingin dijaga dengan semangat
Juga ingin dipeluk erat
Tapi,
Puncak bukan untuk dikejar
Dengan rasa sukar, kita akan belajar
Bahwa perjalanan tak dapat ditukar
Merbabu, 25 Maret 2019

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Senja Menyapa
Senja,
Suara adzan magrib tiba-tiba Membuyarkan lamunanku Mengetarkan jiwa yang sedang galau Adzan magrib ini tiba-tiba Menelusuk ke dalam relung jiwa Merasuki alam pikiran
Senja,
Detik-detiknya selalu dinanti Membuat jiwa terpesona Ia nampak malu-malu Tuk lenyap dari balik bumi Langit pun memerah Jiwa pun luluh
Senja,
Kisah hidupku tak boleh berakhir sampai di sini Biarkanlah langkah kaki menuju jalan-jalan setapak Yang nantinya akan menjadi jejak Dengarkan suara hati yang berbisik Yang akan menuntun pada keridho-an Illahi Rabbi
Senja,
Inilah bentuk cinta Sang Maha Kuasa Yang menghadirkannya rembulan ke alam semesta Menggantikan cerahnya siang hari
Ngagrong, 31 Desember 2016
Dari merapi yang tak pernah ingkar janji hingga merbabu yang selalu bikin rindu sementara aku masih diam-diam mengagumi mu Ahh aku rindu.. . . . . . 📌loc: #3142mdpl #merbabu #merapi #anganpendaki #pendakiamatir #pendakinusantaraku #zonapejalan #langkahpendaki.id #pejalangunung #mountains_id #indonesiahikers #jelajah.alam.indonesia #galerigunungindonesia #generasipendaki #idhikers #sahabat_pendaki #pendaki_modus #pendakislow #camerapendaki (di Merbabu Mountain)
Merapi dan Merbabu
Karena yang membahagiakan selain melihatmu adalah menatap Merapi dan Merbabu.
Oh iya, menurutmu, jika Merapi dan Merbabu bernyawa apakah mereka akan saling jatuh cinta?