#MonthlyProject - Sebuah Pengandaian
Mari berandai-andai.
---
Saat ini aku sudah bersama seseorang-yang aku rasa-cukup bisa menyeimbangkan kegilaanku saat ini. Aku harap Dia sosok yang bukan hanya baik tapi juga memiliki banyak kekurangan. Sosok yang bisa jadi sangat terampil ketika berkomunikasi, tapi jadi sangat bodoh ketika harus berurusan dengan catatan detil pengeluaran. Karena aku tidak butuh pangeran sempurna, ini bukan dongeng!
Kami akan sering bertengkar, tapi selalu bisa menahan diri untuk tidak berlebihan. Banyak juga kejadian-kejadian lucu dan bodoh yang kami lakukan bersama. Saat itu terjadi, kami akan menertawakan diri masing-masing dan berlomba siapa yang paling bodoh. Karena aku keras kepala, Dia akan lebih sering mengalah.
Ada juga saat dimana kami akan saling frustasi terhadap permasalahan yang terlalu sulit untuk kami hadapi. Ketika itu terjadi, dia hanya akan diam tanpa berbicara apapun. Tapi ekspresinya mengeras, seakan sudah lelah. Aku lagi-lagi menangis tanpa suara, menumpahkan segalanya melalui air mata. Lalu setelahnya, kami akan saling bertukar pelukan untuk mengingatkan kehadiran masing-masing. Kadang pertengkaran yang berlarut membuat kami lupa satu sama lain.
---
Awal mulanya aku akan sangat sulit diyakinkan. Setelah mengalami banyak kegagalan dan menjadi saksi mata jatuhnya hubungan, aku menjadi sangat keras hati dan acuh dengan hal-hal berbau romansa. Dia datang tanpa sebuah aba-aba, tapi entah kenapa aku seperti memang sudah disiapkan untuk menerima kedatangannya. Istilah ‘Jodoh tak akan kemana’ seolah menjadi nyata ketika itu bisa aku alami sendiri.
Dia lalu berusaha meyakinkanku, bahwa sisa petualangan hidupnya ternyata ada aku di dalamnya. Sekuat tenaga membuat aku percaya, dengan caranya yang sederhana namun tepat, Dia seperti tahu gerak-gerik apa yang akan meluluhkan hati yang perlahan mulai terbuka pintunya. Tapi seperti yang disebut di awal, aku ini keras kepala! Tentu saja ini tidak akan mudah.
Sampai akhirnya ada satu titik aku yang kedapatan mencari Dia di sela-sela kegiatan harianku. Aku mulai terbiasa dengan kehadirannya, usahanya, dan setiap tingkah lakunya yang sederhana. Lalu tiba dimana Dia menunggu jawaban apa mungkin kami bisa melangkah bersama, aku menatap matanya tajam sambil berkata lugas dan singkat ‘Iya’. Mukaku merah padam menahan malu, padahal hanya satu kata itu saja yang keluar. Dia sudah tersenyum lebar kegirangan sambil terus-terus melihatku yang menunduk menyembunyikan wajah.
Keluargaku menerima Dia bahkan sebelum aku mengiyakan. Sahabat-sahabatku bahkan bersekongkol merencanakan pertemuan-pertemuanku dengannya. Kucingku senang sekali kalau dia berkunjung ke rumah, padahal yang datang bukan hanya Dia. Pintar sekali memang, merebut hati orang-orang terdekatku dengan misi supaya dilancarkan usahanya. Tapi aku sadar, memang itu cara yang bisa membuatku menerima dirinya sekarang.
---
Dia yang sosoknya aku bicarakan di atas, sampai sekarang masih belum nampak batang hidungnya. Aku tidak tahu akan berapa lama lagi dan tidak tergesa-gesa juga supaya segera dipertemukan. Semua ada waktunya dan bukan aku yang menentukan. Jika memang ternyata memang bertemu, aku berharap ketika itu aku sudah lebih mencintai diriku sendiri. Minimal menerima segala sakit dan luka, lalu berusaha untuk bisa memperbaikinya perlahan. Dan untuk Dia yang sosoknya aku bicarakan di atas, semoga ketika datang kurang lebih seperti yang aku ceritakan. Memang ini hanyalah sebuah pengandaian di masa yang akan datang, tapi terselip doa di setiap kalimat yang tertulis.
Jakarta, 6 Agustus 2020
20.27
sn
Mencoba menulis sesuatu yang sepertinya ‘UWU’ tapi ngga tau juga ding hahahaha.










