Sejak kecil, aku tidak pernah benar-benar mengerti apa itu cinta. Saat teman-teman SD sibuk dengan cinta monyet mereka, aku justru lebih sibuk menjadi anak guru yang takut ketahuan melakukan hal-hal aneh.
Aku masih ingat ketika kelas empat SD. Hari itu aku tidak mengikuti upacara karena sedang sakit dan menunggu di kelas sendirian. Tiba-tiba seorang teman laki-laki datang memberikan surat.Katanya surat cinta. Aku bahkan tidak membacanya sampai selesai. Setelah melihat sekilas isinya, surat itu langsung kusobek. Bukan karena marah atau benci, melainkan karena takut ibuku yang juga mengajar di sekolah itu mengetahui semuanya. Lucu kalau diingat sekarang. Aku bahkan tidak mengerti mengapa seseorang bisa menyukai orang lain.
Saat SMP, teman-temanku mulai berpacaran. Aku tetap tidak paham. Dalam pikiranku saat itu, pacaran hanya membuang waktu. Pernah sekali mencoba membuka diri, tetapi baru beberapa kali bertukar pesan, aku merasa aneh sendiri dan mengakhirinya.
SMA pun tidak jauh berbeda. Hingga suatu hari menjelang kelas duabelas, aku sempat mengagumi seorang laki-laki dari sekolah tetangga. Hanya kagum. Tidak pernah berbicara, tidak pernah berkenalan. Aku hanya tahu ia aktif di organisasi keagamaan sekolahnya. Bertahun-tahun kemudian aku mendengar kabar bahwa ia menikah dengan teman masa SMAnya. Anehnya, saat mendengar kabar itu aku tidak merasakan apa-apa. Rasa kagum itu ternyata memang hanya singgah sebentar.
Kupikir begitulah hidupku akan berjalan.
Tanpa drama cinta, tanpa kisah patah hati.
Ternyata aku salah, tahun 2017 saat kuliah S1, aku sedang sibuk mengurus organisasi yang anggotanya tersebar dari berbagai daerah di Indonesia. Di tengah kesibukan itu, ada seorang laki-laki yang sering membantu dan memperhatikanku.
Masalahnya, aku adalah manusia yang sangat tidak peka. Aku menganggap semua orang memang sebaik itu. Sampai suatu hari ia mengirimkan jilbab ke kosku dan teman-temanku mulai menggoda. Dari situlah muncul pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah kupikirkan
Untuk pertama kalinya aku membawa pertanyaan itu dalam doa. Aku melakukan istikharah berkali-kali. Aku tidak bercerita kepada siapa pun. Tidak meminta pendapat siapa pun. Aku hanya berdoa sederhana
"Ya Allah, jika dia memang jodohku, dekatkanlah. Jika dia baik untukku, mudahkanlah."
Waktu berjalan. Kami sempat kehilangan kontak karena kesibukan masing-masing. Hingga suatu hari kami kembali berkomunikasi ketika aku membutuhkan bantuan di kota tempatnya melanjutkan studi. Saat itu aku bahkan sudah lupa bahwa aku pernah mengistikharahkannya. Teman yang menemaniku berkata, "Kayaknya dia suka sama kamu. Nggak mungkin sebaik itu kalau nggak ada apa-apa."
Beberapa bulan kemudian, ia menghubungiku lagi. Kali ini dengan tujuan yang lebih serius.Ia mengajakku untuk ta'aruf. Aku yang baru memulai kuliah lanjutan merasa bingung. Pesannya bahkan kubiarkan selama berminggu-minggu karena aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku menyiapkan CV ta'aruf dengan hati-hati, merevisinya berkali-kali, mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin inilah jalan yang Allah bukakan.
Namun di sinilah aku melakukan kesalahan yang kelak sangat kusesali. Aku setuju menjalani proses ta'aruf tanpa pendamping atau perantara. Aku terlalu percaya. Aku melihat latar belakang keluarganya yang baik. Aku melihat pendidikan dan penampilannya yang religius. Aku mengira semua itu cukup menjadi jaminan. Ternyata tidak. Di balik percakapan yang tampak sopan, terjadi sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Suatu hari ia mengirimkan foto yang sangat tidak pantas. Aku terkejut. Lalu itu terjadi lagi. Dan lagi.
Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana
Aku syok, kecewa, merasa dikhianati oleh ekspektasiku sendiri.
Bukankah ini proses yang katanya diniatkan untuk ibadah?
Bukankah ini proses yang katanya dijaga?Aku memilih diam. Menjauh. Tidak lagi membalas pesan-pesannya.
Di saat yang sama, aku sedang disibukkan oleh penelitian dan berbagai tugas akademik. Perlahan komunikasi kami menghilang.
Hingga suatu hari, pada bulan November, ia kembali menghubungiku. Kali ini untuk mengatakan bahwa ia sedang dijodohkan oleh orang tuanya. Aku masih ingat rasanya. Seperti ada sesuatu yang runtuh dalam dadaku. Katanya ia akan datang ke rumah seorang perempuan karena ada acara keluarga. Belakangan aku tahu itu bukan sekadar acara biasa. Itu adalah proses menuju pernikahan.
Aku marah, sangat marah, memblokir semua akses komunikasi dengannya.
Lalu aku menerima undangan pernikahannya yang dikirim lewat sahabatnya. Ketika mengetahui siapa perempuan yang dipilihnya, aku semakin terluka. Bukan karena perempuan itu buruk. Sama sekali bukan. Tetapi karena saat itu aku merasa harga diriku runtuh.
Aku bertanya-tanya dalam hati
"Jadi selama ini apa yang sebenarnya terjadi?"
"Mengapa aku diperlakukan seperti ini?"
"Mengapa aku harus mengalami pelecehan lalu ditinggalkan?"
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa henti. Luka itu ternyata jauh lebih dalam daripada yang kusadari. Mungkin karena ia menyentuh luka lama yang selama ini belum benar-benar sembuh. Mungkin karena untuk pertama kalinya dalam hidup, aku membuka ruang di hatiku yang selama ini tertutup benteng baja kokoh tinggi untuk seseorang laki-laki.
Apa pun alasannya, aku tenggelam dalam kesedihan yang panjang. Bahkan berpikir pun terasa menyakitkan. Penelitian yang seharusnya kuselesaikan menjadi berantakan. Selama hampir tiga tahun aku berjuang keluar dari kegelapan yang tidak dipahami banyak orang.
Namun di tengah semua itu, Allah mengajariku sesuatu. Bahwa istikharah bukanlah alat untuk memastikan seseorang menjadi jodoh kita.Istikharah adalah cara Allah menunjukkan mana yang harus tetap tinggal dan mana yang harus pergi. Aku dulu berdoa agar Allah mendekatkan jika memang dia jodohku. Hari ini aku menyadari, mungkin jawaban dari doa itu justru adalah dipisahkan. Karena Allah mengetahui apa yang tidak aku ketahui. Sebagaimana firman-Nya
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)
Dulu aku mengira kehilangan itu adalah hukuman. Sekarang justru sebagai perlindungan. Dulu aku mengira patah hati adalah akhir dari cerita. Sekarang aku tahu itu adalah awal dari pelajaran tentang batasan, harga diri, dan tawakal.
Aku belajar bahwa keshalihan tidak bisa dinilai hanya dari penampilan. Aku belajar bahwa proses yang baik harus dilakukan dengan cara yang baik. Aku belajar bahwa ta'aruf tanpa penjagaan bisa membuka pintu-pintu yang tidak seharusnya terbuka.
Dan yang paling penting, aku belajar bahwa nilai diriku tidak ditentukan oleh siapa yang memilihku atau meninggalkanku. Nilai diriku ditentukan oleh Allah yang menciptakanku. Mungkin kisah ini bukan kisah cinta yang berakhir di pelaminan. Tetapi ini adalah kisah tentang seorang perempuan yang perlahan belajar bahwa cinta terbesar bukanlah ketika seseorang memilih untuk tinggal. Melainkan ketika Allah menjaga kita dari sesuatu yang sejak awal tidak ditakdirkan untuk menetap.