Ketika Ayah Mengajak Salat
Ada yang sedang memukul pintu
Ada yang sedang menopang dagu
Membunuh derit- derit sebab dihidupkan oleh angin
Lalu ia berlari ke halaman depan
Suara teriakan- teriakan dari dalam tanah
Suara tangisan-tangisan daun yang berguguran
Haus, panas, dan rasanya ingin mati saja
Lalu disiramkannya pada bunga-bunga yang kuyu melayu
Serta pohon-pohon yang menangis tanpa air mata dihadapannya
Sementara senyumnya merekah
Tangannya geram mencekik rumput
Mencabut nyawanya hingga tak bersisa akar-akarnya
Terik matahari mengingatkannya untuk mengambil tangga
Menaikinya untuk merapikan atap yang bocor
Sebab mata anak perempuannya mengingatkannya
Kala dingin dan titik-titik air saling berkejaran menombak kulit
Kala sendu dan suasana haru menghentikan awan melintasi bulan
Menganggu penghuninya dengan menggagalkan lelapnya
Ketika tuhan memanggilnya
Membersihkan diri dan mengambil air wudhu
Hingga ia selesai berdoa setelah wudhu
Anak perempuannya masih termangu di dekat jendela
Sesekali meniupkan napasnya di kaca dan membuat tulisan kecil di sana
Ditepuklah pundaknya lalu keluarlah suara halusnya