tentang menjadi orang tua — sore bersama Bapak #MariBercerita
Dulu waktu SMA, saya punya teman dekat yang alergi telor dan jadinya gak bisa makan banyak hal yang saya sukai, cake terutama. Karena sayang (euuugh wkwk), saya ngide bikinin kue tanpa telor. Saya mulai bereksperimen sejak pagi, bersenjatakan resep dari beberapa blog terkenal. Singkat cerita, trial saya tidak semulus yang saya bayangkan, tetapi karena ambis gak mau dibantuin, saya bilang ke Mama untuk membiarkan saya berusaha sendiri.
Mama dengan sabar membiarkan saya mengacaukan dapur dan menghabiskan bahan, sambil sesekali menengok di sela-sela aktivitasnya. Saat adzan zuhur dan saya belum juga selesai, Mama akhirnya ngajak ngomong. Karena sudah zuhur dan saya harus segera sholat, opsi yang paling baik adalah membiarkan Mama membantu, toh Mama hanya membantu sedikit di bagian akhir, kue itu tetaplah hasil kerja kerasku. Saya menerima tawaran bantuan Mama, dan akhirnya jadilah kue dengan bentuk dan rasa yang saya bayangkan.
Cerita hari itu adalah salah satu momen yang tidak pernah gagal membuat tertawa kala terkenang, dan karenanya menjadi salah satu cerita favorit orang tua untuk mengejek saya. Begitu juga yang terjadi sore tadi.
Di tengah percakapan tentang kekonyolan kami dan berbagai bentuk keahlian yang mau tidak mau harus dimiliki Bapak dan Mama sebagai konsekuensi dari membesarkan kami berenam, saya bertanya kepada Bapak, "dari kita kecil sampe sekarang, pasti sering sekali Bapak gemas toh sama anak-anaknya Bapak dan caranya kita hidup?"
Sambil tertawa, Bapak menjawab, "namanya orang tua itu, sayang, sudah kodratnya memang untuk selalu khawatir, mau anaknya sudah umur berapa pun tetap saja khawatir. Tapi, setiap kali khawatir, Bapak sama Mama ingatkan diri sendiri, Bapak Mama sudah didik kalian sebaik mungkin, Insya Allah anak-anaknya Bapak Mama pasti selalu berusaha jadi sebaik-baiknya manusia."
Bapak lalu menyampaikan bahwa orang tua sering kali terjebak pada statusnya sebagai "orang tua", yang sudah lebih dulu mengalami, lebih banyak pengalaman, lebih punya pengetahuan tentang cara-cara yang efektif dan lebih efisien. Akibatnya, mudah sekali memaksakan perspektif yang "lebih baik dan terbukti benar", pula memaksakan bantuan demi efektivitas dan efisiensi, dan dianggap sebagai bentuk cinta dan kasih sayang kepada anak.
Kata Bapak, orang tua harus selalu mengingatkan dirinya, bahwa anak punya caranya sendiri, bagaimanapun berbeda, bagaimanapun terlihat lambat dan tidak efisien, bagaimanapun membuat orang tua geregetan, that is their way of doing things. Biarkan anak mengalami pembelajarannya secara mandiri. Orang tua cukup mengawasi dan menawarkan bantuan pada waktu yang memang sudah seharusnya mengintervensi.
Sejak kecil, sepanjang saya mampu mengingat, prinsip di keluarga kami selalu seperti itu. Sebagai anak, kamu bebas untuk memilih dan menentukan jalan hidup yang terbaik menurutmu, tapi kamu juga harus bertanggung jawab dan menjalani konsekuensinya, apa pun itu. Keputusan adalah milikmu, begitu juga, konsekuensinya adalah milikmu. Tugas orang tua adalah menyediakan sumber daya semaksimal mungkin, dan menemani anak dalam batas ruang yang anak izinkan. Tetapi, yang harus selalu diingat anak, setiap kali anak merasa lelah, setiap kali anak mengalami kegagalan, setiap kali anak butuh bantuan dan dukungan, orang tua akan selalu ada membersamai anaknya.
Dibesarkan oleh orang tua yang menetapkan prinsip demikian tegas namun indah dan penuh kasih sayang adalah privilege yang tak ternilai harganya. Privilege itu semakin mampu saya renungkan dan hargai seiring waktu dan bertambahnya usia.
Saat pertama kali menjadi orang tua, Bapak dan Mama baru berusia 26 dan 23 tahun. Di tengah berbagai kekurangan, dengan segenap kedewasaan dan kebijaksanaan yang dapat mereka kerahkan, Bapak dan Mama mampu berolah pikir dan bersama merumuskan model menjadi orang tua dan mendidik anak yang menjadi fondasi kehidupan beliau berdua.
Menjadi orang tua adalah tentang menunggu dengan sabar tanpa mengabaikan, tentang mengintervensi dengan tegas tanpa mengecilkan eksistensi anak sebagai individu yang utuh.
Menjadi orang tua adalah tentang berbagi kebijaksanaan tanpa meremehkan kompleksitas pikiran dan proses berpikir anak.
Menjadi orang tua adalah tentang memberikan ruang kepada anak untuk memproses emosinya dengan jujur tanpa khawatir dihakimi, lalu memberikan alasan yang lebih dari cukup agar anak kembali padanya, mencari kehangatan dan jawaban pada orang tuanya.
Sejak dulu anak-anaknya masih dalam gendongan, hingga kini keenam anaknya sudah dewasa, Bapak dan Mama prinsipnya masih sama. Orang tua harus menjadi sumber kenyamanan, ketenangan, dan kehangatan. Hanya dengan itu, hubungan yang begitu unik ini bisa selamanya dirayakan tanpa beban.












