Beberapa hari belakangan ini kondisi hatiku sedang tidak baik, lumayan berantakan. Aku berusaha untuk menetralkannya, namun nampaknya belum sepenuhnya berhasil. Astaghfirullah.
Malam itu, sama seperti malam-malam sebelumnya. Aku sempatkan untuk memberikan waktu khusus pada hatiku. Sejenak melupakan beberapa amanah yang belum aku selesaikan. Biasanya, kurang dari tiga puluh menit semuanya sudah kembali baik. Rapi dan siap untuk memulai cerita baru.
Aku mulai dengan mengambil selembar kertas dan bolpoint. Aku tuliskan satu demi satu hal yang membuat hati ini tidak dalam kondisi baik. Benar-benar aku tuliskan semuanya. Lalu, aku analisis. Kenapa hal itu mengganggu hatiku? Di mana letak kesalahannya? Apa yang harus aku lakukan untuk menyelesaikannya?
Sesekali aku memandang jam mickey pada dinding kamarku. Jam yang sengaja diatur oleh ibu sepuluh menit lebih cepat dari jam-jam normal. Katanya, agar aku bisa lebih sigap bergerak, ora kelelar keleler. Sayangnya, setiap aku menatap jam itu, otakku berkata ‘itu kan sepuluh menit lebih cepat dari jam normal, santai’. Astaghfirullah, dasar aku. Maafkan aku, ibu.
Saat itu, jam di kamarku menunjukkan pukul 22.15 WIB. Itu artinya, jam normal adalah pukul 22.05 WIB. Artinya lagi, aku sudah melewati jam tidurku. Namun, belum juga selesai dengan perkara hati, muhasabah. Aku terhenti pada satu hal, urusan pertemanan. Menurutku, hal ini harus benar-benar terselesaikan. Aku tidak mau masuk ke dalam golongan orang-orang yang tidak berpikir. Aku tidak mau pula menjadi orang yang dzalim kepada temanku.
Baik, aku coba susun formula baru untuk menyelesaikan urusan ini. Agak lama memang, karena setiap aku menuliskannya, hatiku selalu bertanya ‘baikkah dengan seperti itu? Apakah tidak terlalu ekstrem?’
“InsyaAlloh itu yang terbaik”, begitu aku meyakinkan hati dan pikiranku. Menutup sesi muhasabah malam itu, muhasabah yang membutuhkan waktu paling lama dari sebelum-sebelumnya.
Lalu, apa kabar hati saat ini?
Alhamdulillah (menuju) baik.
“Itu muhasabah versiku, adakah kamu versi muhasabah yang lebih baik? Boleh banget kita berbagi”