Dunia tidak Baik - Baik Saja
Photo by Thomas Park on Unsplash
Melihat kondisi dunia akhir ini yang sedang tidak baik-baik saja, saya jadi ingin menuangkan unek - unek di kepala. Dialami seluruh manusia di dunia ini, belakangan harga kebutuhan sehari-hari naik secara luar biasa, tidak perlu saya tuliskan disini seberapa besar kenaikannya, karena memang bisa dirasakan secara langsung, kalau kita berkaca ke hukum penawaran dan permintaan, saat harga naik artinya secara jumlah permintaan ada kenaikan atau secara ketersediaannya semakin sedikit, hal ini menjadi semakin kontras, dengan dunia usaha yang selalu menekankan pentingnya pertumbuhan, harus semakin besar market size nya, semakin tinggi revenue nya, dan lain sebagainya, padahal seperti kita sama-sama pahami, sumber daya di dunia ini sebetulnya terbatas, dengan dunia usaha yang seakan tanpa pernah puas selalu memacu pertumbuhan, jangan-jangan selama ini, kita sedang menggali kuburan kita sendiri masing-masing?
Hal lainnya lagi yang sebetulnya terjadi adalah overselling atau overproducing, tentu kita tahu, belakangan perhatian terhadap kerusakan alam sedang tinggi-tingginya, karena bencana alam terjadi dimana-mana, musim hujan kok panas, musim kemarau kok ya banjir, tetapi disisi lain, kita melihat perusahaan otomotif masih terus menggenjot produksi nya, kita bisa melihat dengan mata kepala kita sendiri bagaimana di kota-kota besar, jumlah kendaraan begitu tidak sebanding dengan ketersediaan jalan ataupun lahan parkir, bagaimana polusi udara begitu parah di kota besar, tetapi seperti ada candu, dunia usaha perlu menghidupi setiap orang yang berada dibawah naungannya, sehingga membatasi jumlah kendaraan seperti hal yang hampir tidak mungkin terjadi. Contoh lainnya, mengenai perumahan, dengan membangun perumahan, artinya ada lahan yang harus dibebaskan, yang tentu saja mengambil alih peran lahan hijau, kita lihat bagaimana lagi-lagi perusahaan properti sangat gencar membangun, padahal angka serapan perumahan tidak setinggi peningkatan persediaan properti, efeknya adalah kita lihat banyak pengembangan yang tumpang tindih, tidak ada lagi lahan terbuka, semua tempat dihiasi ruko dan perumahan, yaa jangan berharap ada lahan terbuka, karena tentu tidak mendatangkan cuan.
Bahkan belakangan saya menjadi skeptis dengan embel-embel Green yang sering kali diberikan kepada produk, investasi atau perusahaan, karena sepertinya "usaha" menjadi hijau itu tidak sebanding dengan kerusakan yang terjadi, dan seakan menjadi sekedar basa basi atau "pembenaran" dari berbagai dampak kerusakan yang ditimbulkan.
Kalau ditingkat individu mungkin contoh mudah lainnya adalah saat keluar handphone baru, sepatu model baru, baju baru dan lain sebagainya, selalu ingat, akan ada sampah dari barang yang sempat kita pakai, semakin sering mengganti barang, semakin banyak sampah, berapa banyak sampah yang dihasilkan dan menggunung serta mencemari lingkungan kita hanya dari kebiasaan kita.
Kemirisan ini kemudian jadi bahan permenungan saya, sebetulnya kalau setiap perusahaan dan individu membatasi dirinya, dengan tidak menjadi serakah untuk mengeruk sebanyak-banyaknya sumber daya, apakah dunia ini bisa menjadi lebih baik? karena sepertinya dengan cukup saja, sebetulnya semua bisa baik-baik saja, selintas juga saya teringat akan kata-kata, saat seseorang mengambil lebih dari "jatah-nya" sebetulnya dia sedang mengambil "jatah" orang lain, mungkin tidak secara harafiah dan langsung, tetapi mungkin salah satu contoh nyata, perusahaan properti yang secara serampangan membangun perumahan, bisa saja dia mengambil jatah orang untuk menghirup udara segar yang dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan, bisa jadi dia merampas hak orang untuk merasakan hidup tanpa banjir, dan lain sebagainya, atau saat kita mengkonsumsi lebih dari semestinya, harga barang menjadi naik, yang tadinya bisa dijangkau saudara kita yang miskin, menjadi tidak lagi terjangkau, atau makanan yang semula cukup untuk menghidupi banyak orang, karena mencari cuan, perusahaan menumpuk semua stoknya supaya harga menjadi menggila, dan orang-orang kaya juga ikutan menumpuk barang tersebut, masih segar diingatan apa yang terjadi waktu pandemi Covid beberapa waktu lalu, masker tidak terjangkau oleh masyarakat dan tenaga medis, karena ulah beberapa pihak, atau minyak goreng dan beras yang beberapa waktu terakhir naik tidak kira-kira.
Tapi tulisan saya ini tidak bermaksud menyerang pihak manapun, hanya sekedar unek - unek, kalau ada yang merasa tersinggung, saya minta maaf sebesar-besarnya.











