BELAJAR DEWASA
Malam di belantara hutan rasa, kudirikan tenda kesendirian untuk kesekian. Semua makhluk berteriak dengan bahasa masing-masingnya. Kucoba tuk tak hirau bising yang pekik itu. Siapa yang asik kalau diusik? Tidak ada.
/
Paginya semua terlelap. Padahal fajar tampil begitu gemulai. Matilah riwayat ‘menghargai’ saat itu. Karena untuk dilihat bukan tampil indah, tapi tampil pada waktunya.
/
Sedang aku, jangankan beri petuah, cari makan saja susah.
/
Memangnya salah ada yang hujat? Kalau aku tak peduli. Toh di ujung kita sama-sama mati. Paling tidak aku ini ada.
/
Malam selanjutnya aku bersemayam. Tidak di dalam tenda, tapi di depannya. “Mana?! Sini bising-bising yang buat pening itu! Biar kumasak semua, aku lapar!”.
/
Bahwasanya aku tak peduli lagi dengan kata-kata yang menghujat. Sebenarnya ada puji yang tersirat.
/
Mendewasa, mengolah rasa, mencari arti lain bahasa.
— Bandung, A.















