Kita adalah penghuni ruang antara, yang lahir di sela kepak sayap fajar yang jingga, namun dipaksa menua sebelum senja benar-benar menyapa.
Tidakkah kau merasa ngilu di ulu hati? Melihat betapa angkuhnya matahari mendaki langit, lalu betapa pasrahnya ia tenggelam ditelan bumi.
Kita menyebutnya keindahan, namun bagi jiwa yang sadar, itu adalah lonceng peringatan.
Sebuah metafora tentang usia yang kau sangka masih sejauh samudera, padahal ia hanya sependek tarikan napas yang belum tentu kembali ke dada.
Kita sering terjebak dalam retorika masih ada hari esok, memoles wajah agar terlihat abadi di mata manusia, menyusun rencana seolah maut bisa diajak bernegosiasi di meja kerja.
Padahal kita ini hanyalah hamba, bukan? Seorang hamba yang kedaulatannya dibatasi oleh jam pasir yang terus meluruh.
Kita tak punya kuasa menahan fajar agar tak berganti siang, sebagaimana kita tak punya daya menunda uban agar tak menghias kening.
Fajar dan senja membuat hati teriris, karena mereka adalah bukti bahwa kemerdekaan kita adalah semu.
Kita tidak bebas memiliki waktu, kita hanya dipinjamkan waktu.
Dan di setiap detiknya, ada hak dan kewajiban yang menagih untuk ditunaikan.
Maka, biarlah rasa sendu itu menetap sebentar di hatimu. Bukan untuk membuatmu layu, tapi agar kau ingat untuk segera pulang sebelum gelap benar-benar mengunci pintu.
Sebab turning point terbaik bagi seorang pendosa yang lelah adalah, saat ia sadar bahwa usianya adalah senja yang sedang melaju dan satu-satunya pelabuhan yang aman hanyalah sujud yang tak lagi terburu-buru.
Kita tidak butuh pengakuan dunia yang fana, kita hanya butuh selamat saat cahaya benar-benar habis di cakrawala.
Di antara fajar yang terbit dan senja yang redup, ada hamba yang tertatih mengeja arti hidup. Waktu tak pernah menunggu, ia hanya berlalu, meninggalkan kita yang seringkali masih terpaku pada debu.