Narasi dalam Mimpi (Episode 7)
Kau tau?
Cermin seperti dua sisi koin. Yang satu adalah kebalikan yang lain.
Ada dunia lain dalam cermin.
Di bawah purnama, bayangmu terpantul dengan jelas, berbinar dalam temaram bintang yang tertutup mendung. Di balik cermin sederet bayang berlarian tak tentu arah, ada beberapa puluh, atau beberapa ratus? Mereka sesekali berhenti kemudian berlari lagi, selalu dengan arah tak tentu.
Kau menghadapku, membelakangi bayang-bayang.
Kau berwarna, sedang dunia di belakangmu hitam putih.
Hati kita mungkin saja tertaut. Sebab aku rasakan kenangan menjalar dalam kepalaku, tentang bekas luka yang masih mengiris. Di dalam luka itu kau menyebut namaku. Menyeret lagi sederet kenang yang memberikan rindu. Sementara bising deru orang-orang yang berlari di belakangmu tetap terdengar. Kau hanya bisa menutup telinga dengan kedua tangan. Ingin sekali aku menjangkau dan menarikmu ke duniaku. Aku tau kita telah terikat. Namun apa alasanku menemukan cermin dwi warna seperti ini? Apa kita adalah janji yang belum tuntas?
Senyum dan lirih berganti-ganti di wajahmu. Kau dekat sekali hingga kurasakan hembusan napas di pipiku. Malam semakin gelap meneruskan kisah gelisah yang kita bagi bersama. Sebentuk janji di ujung tawa telah tercipta. Aku ada di sini ternyata untukmu. Menyuarakan resah yang kau bawa ke balik cermin; mengembalikan semangat yang sempat tertutup mendung malam ini.
Ada air mata terpantul dari balik cermin. Saat kuraba wajahku, pipiku telah basah. Pandanganku mengabur, kemudian sebuah suara mencapaiku, suaramu, suaraku.