Keteguhan Mental Sari di Usia 6 tahun
Pada hari Sabtu sore salah satu relawan YRA mendatangi rumah Sari untuk memberikan kursi roda. Ia melihat seorang anak kecil berusia enam tahun sedang menonton film kartun dari TV. Sosok anak perempuan yang manis, melakukan kesehariannya berada di ruang yang berukuran 2 x 3 meter. Karena ukuran rumahnya sangat kecil sehingga barang barang yang dimuat juga sangat sedikit. Terdapat kasur kusam tanpa sprei yang menyenderi tembok dengan warna cat abu abu yang memudar. Selain warna tembok memudar, juga terbentuk corak tetesan air rembesan karena atap yang bocor.
TV tabung jadul yang menyala untuk film kartun. Ditemani kipas kecil di samping TV untuk sedikit menyejukkan ruangan rumah. Hanya itulah seisi rumahnya, Sebenarnya tidak sedap dipandang dengan suasana yang usang rumahnya. Namun ruangan tersebut tak bisa terlepas dari kehidupan Sari, Sebab Sari hanya terduduk diam dan tidak bisa kemana mana.
“Haloo adek Sari…” Sapa relawan YRA kepada Sari yang tengah duduk dengan kaki yang lurus dan badannya tertopang tembok di belakangnya.
“iyak ka…” Suara Sari yang cempreng
“Ini kaka ingin ngasih kursi roda untuk kamu, biar kamu bisa keluar”
“itu apa ka ?” menunjuk ke arah kursi roda
“ini Kursi roda dek, biar kamu bisa kemana mana”
“oh kursi bisa jalan ka ?”
“iyakk sar hehe…”tertawa kecil mendengar pertanyaan Sari
“horeee aku bisa keluar rumah, Soalnya aku bosen di rumah” Sari yang berteriak kesenangan dengan menjulangkan tangan keatas.
“buu aku ingin naik itu” lanjutnya dengan wajah yang sangat ceria sekaligus penasaran seakan tidak sabar untuk menggunakan kursi roda. Tubuh yang melompat lompat namun hanya Pundak dan tangan yang terangkat. Sebab bagian badan kebawah saraf tidak berfungsi untuk menggerakkannya.
“sini nak ibu gendong” sahut ibunya sambil menggendong Sari memindahkannya dari bawah ke kursi roda.
Sesampainya di atas kursi roda Sari langsung melihat ke kanan kiri dengan cepat untuk memerhatikan benda asing baginya. Diraba rabalah tiap besi yang menyambung satu sama lainnya. Tangannya juga tak lepas dari dudukkan yang empuk. Juga tak terlewatkan memegang pegangan roda yang bisa membuat kursi roda maju, mundur, dan memutar.
“kenapa Sari kok seneng banget dapat kursi roda?” tanya relawan YRA
“iyakk seneng donk….” Jawab Sari
“biar aku bisa ke sekolah dan tidak di ejek sama teman aku” sambungnya Sari
“loh memangnya kenapa dek?” tanya Kembali
“iyak mas, jadi Sari ini sering kali di ejek oleh teman teman sebayanya” dipotong oleh ibunya untuk menjawab kebingungan relawan YRA. Mendengar keterangan dari ibunya, miris sekali yang dirasakan relawan YRA dan menginginkan lebih tau lagi apa yang dirasakan Sari selama ini.
Jauh sebelum YRA memberi kursi roda, Sari sering mengalami masalah karena keterbatasan yang dimilikinya.
Contohnya saat itu Sari sedang duduk terdiam di teras rumah, sambil memandang jalan di depannya. Tatapan kosong Saripun terpecahkan ketika teman temannya lewat dihadapannya.
“kamu lagi apa disana Sar?” tanya temanya
“lagi duduk aja” jawab si Sari
“emangnya bisa ? kan dia gak bisa jalan” sahut temen selainnya
“yaa wlee gak bisa main, Sari gak bisa main” dengan nada ejekkan dari temen temennya
“biarin aja” jawab cuek Sari dengan sesegukkan menahan nangis. Air mata yang terbendung. Wajahnya seketika memerah karena menahan kesal dan sedih.
Beberapa hari kemudian, Temannya lewat kembali saat Sari juga sedang duduk di teras rumah. Saat itu Sari sedang makan yang disuapi oleh ibundanya
“eh ada Sari temen temen” ucap temannya sembari membawa spidol dan kertas.
“sini dek…. sini temenin Sari” panggil ibunya kepada anak anak itu. Wajah Sari murung tiba tiba karena teringat waktu itu. Namun disisi lain ia juga ingin mempunyai teman bermain. Akhirnya Sari memberanikan diri untuk bermain bersamanya.
“nih aku punya kertas sama spidol warna warni” ucap temannya
“terus main apa ?” tanya Sari
“main gambar gambaran aja yuk Sar”
“ayukk…” Sahut Sari dengan gembira tetap sambil makan yang disuapi oleh ibunya. Awalnya mereka sangat akur dan menertawakan dengan lepas karena gambarannya semuanya sangat jelek. Saat ibunya selesai menyuapi Sari, ibunyapun masuk ke dalam untuk mencuci piring dan gelas yang tadi abis dipakai.
Dari situlah kejailan teman temannya pun di mulai. Salah Satu temannya menggambarkan pohon di kaki Sari.
“ihh jangan donk temen temen nanti kotor” usahanya Sari untuk melarang mereka menggambar di atas kakinya. Namun Apalah daya, tangannya yang pendek tidak bisa menjangkau mereka untuk mengusirnya. Terlebih lagi kakinya juga yang tidak bisa di gerakkan. Ada rasa ingin memanggil ibunya namun tadi alasannya ingin tetap bermain dengan teman sebaya.
“nanti kalau di marahin ibu gimana ?” kata Sari dengan nada memelas kasihan. Tidak mengindahkan perkataan sari, malahan teman selainnya ikutan untuk menggambar. Kini kedua kakinya penuh dengan coretan tangan yang ada gambar bunga, rumah, dan orang – orangan yang tidak memiliki kaki.
“Jangan donk…” lagi lagi Sari memintanya untuk berhenti
Seketika salah satu temennya berhenti dan berkata “oh iyaa dikit lagi masuk sekolah yaa?”
“iyaak, kamu gak sekolah Sar?” sahut temen selainnya, yang tiba tiba ingin menambah kejailannya ke Sari
“mana bisa dia sekolah, untuk ke sekolah saja harus digendong” kata temen yang bertanya tadi
“yaaa kesian dehh gak bisa sekolahhh….”
“gak bisa jalan” dengan nada mengejek, di lontarkan teman temannya dengan suara yang ramai – ramai .
“huuaa ibuuuu…..” akhirnya Sari tidak tahan untuk menangis. Suara jeritan tangis yang kencang membuat teman temannya kabur takut di marahi oleh ibu Sari. Air mata yang deras membasahi sekujur pipi. Ibunya sontak lari kedepan dan kaget melihat anaknya penuh dengan coretan di kakinya dalam keadaan menangis kejar.
“sudah yaa nak gapapa kan namanya juga lagi main, ibu gak marah kok ke kamu” kata ibunya berusaha untuk menenangkan anaknya dengan ketulusan seorang ibu.
Selain itu ada juga kejadian mengerikan yang pernah dialami oleh Sari. Peristiwanya sebelum beberapa hari Sari mendapatkan kursi roda dari YRA. Lagi lagi kejadiannya ketika Sari berada di teras. Saat itu ibunya sedang masak di dapur. Tiba tiba Ada ular piton yang muncul di samping Sari
“buuu, ibuuu, ibuu” berkali kali Sari memanggil namanya dengan suara yang keras. Ular piton yang begitu besar berjalan seperti mencari mangsa. Kemungkinan ular itu muncul dari sawah yang berada di samping rumahnya.
“Buuuu….” Suaranya semakin mengencang, akan tetapi ibu belum juga kunjung datang untuk menolongnya.
“IBBUUUUU” dengan suara lebih keras ditambah menangis ketakutan. Karena tidak ada yang bisa dilakukan selain teriaknya untuk meminta tolong. Sekujur tubuh mulai yang gemetar, saat ular semakin lama semakin dekat dengan jaraknya. Tiada henti hentinya Sari memanggil ibunya diiringi dengan isakkan tangis yang semakin lebih kencang.
ibu langsung menangkap Sari yang hampir saja dililit oleh ular piton. Lalu ibu membawanya masuk ke dalam rumah untuk menenangkan Sari dan menutup pintu dengan dorongan keras. Tidak lama kemudian ibu mendiamkan tangisan Sari, ular pitonnya pun berhasil di tangkap warga sekitar.
“Gapapa nakk ? kamu gak luka kan ?” tanya ibu sambil mengelus kepala Sari dengan pelan
“tidak buu” jawab Sari dengan suara terbata bata sambil menggelengkan kepala.
“aduhhh kesayangan ibu inii” ibunya langsung memeluk Sari sangat erat. Tangan ibu yang juga mengelus elus punggung Sari dengan tulus penuh kasih sayang. Agar Sari lebih tenang lagi.
Tersayat sayat hati relawan YRA mengetahui hal itu. Sangat memperihatinkan jika melihat usianya yang masih sangat kecil namun sudah mendapatkan perilaku seperti itu. Sulit rasanya jika terjebak dalam kondisi yang serba keterbatasan.
Di sore hari itu juga Sari meminta ibunya untuk mendorong kursi roda.
“ayukk buu kita keluar” ajak Sari sambil menggoyangkan tangan ibunya.
“bilang apa dulu sama kakanya, tuh kakanya udah baik ngasih ini ke kamu”
“makasih yaa ka makasih, makasih” ucap sari yang juga tak lepas dari senyuman manisnya. Sari langsung menghiraukan relawan YRA dan Kembali mengajak ibundanya untuk keluar Rumah. Ibunya pun mendorong keluar rumah dan berkeliling di sekitaran lingkungan. Udara yang segar, matahari yang cerah, menambah keceriaan Sari yang sedang menikmati. Terus menerus tersenyum wajahnya sambil menganggukkan kepala, melihat ke kanan dan ke kiri. Yaa walaupun hanya ada rumah di kanan kiri jalanan dan juga terdapat beberapa pohon yang bantu menyejukkan.
“heiiii aku udh bisa jalan, wleee” sontak Sari tiba tiba meneriaki temannya yang sering jail kepadanya
“lihat nih kursi baru, cantikkan”
“ke sekolah juga tidak di gendong lagi” sambungnya tiada henti pamer ke temen temennya. Tidak bisa menyangka dengan hanya satu barang yang diberikan donatur ke YRA bisa merubah kemurungan seorang anak disabilitas menjadi bahagia. Secepat itu Sari bisa kembali semangat setelah sekian lamanya memendam kesedihan yang seharusnya tidak dirasakan oleh anak seusianya.