BENERAN BISA KAYA LEWAT JALUR DHUHA ??
Pernah suatu ketika, ada seorang yang protes ke saya, "Ustadz, saya sudah dhuha, sudah sedekah, bahkan tahajud. Tapi kenapa rezeki Saya gini-gini aja?"
Masak sih info dari Rasulullah ﷺ tentang fadhilah suatu amalan salah??
Yuk kita bahas...
Pertama.. Alloh dan RasulNya tidak mungkin salah. Bahwa Dhuha, Tahajud, Sedekah, dan apapun amalan yang dikaitkan dengan rezeki, memang benar adanya. Cuma, yang harus dibenerin sebenarnya adalah mindset kita.
Kitanya saja yang selalu mikir bahwa rezeki itu harus duit. Dan bahkan yang kita bayangin sewaktu melakukan dhuha, tahajud atau sedekah adalah, "Habis ini, bakalan ada yang nganter duit banyak nih harusnya.", atau minimal berpikir nemu duit dengan cara gampang secara ajaib dan tiba-tiba..
Begitulah rata-rata cara mikir kita kalau sudah kaitannya dengan amalan yang dikabarkan berdampak terhadap rezeki. Serba ajaib, tiba-tiba, langsung instan dan Goals-nya adalah kaya..
Padahal, rezekinya orang sholat itu, sebenarnya ya sholatmu itu sendiri.
Dhuha-mu itu sendiri sudah rezeki. Tahajud-mu itu sendiri sudah rezeki. Sedekah-mu itu sendiri sudah rezeki dari Alloh
Coba renungkan sejenak, nggak banyak lho orang hidup yang Alloh izinkan untuk bisa dhuha, sedekah, apalagi tahajud disertai istiqomah.
Kalau antum mendapati kepikiran melakukan itu semua, bahkan belajar tentang amalan itu, maka itu sebenarnya adalah Rezeki.
Bisa kenal dhuha itu rezeki. Bisa dapat kesempatan bangun tahajud itu rezeki. Bahkan sebenarnya, bisa sujud kepada Alloh saja itu sudah rezeki. Karena hari ini, masih banyak orang yang belum Alloh perkenan bersujud kepadaNya. Hidayah itu mahal..
Kalau kemudian ada sebagian orang yang diberikan kelapangan rezeki oleh Alloh, biarlah itu jadi misterinya Alloh. Yang penting, tidak akan rugi ketika kita tetep istiqomah dhuha, tahajud atau sedekah..
Mau sampai kapan menyesali amal ibadah kepada Alloh. Buat Alloh kok nyesel. Rasanya kurang pantas kata "nyesel" dikaitkan dengan amal hanya lantaran ukuran kita adalah nggak kunjung dapat duitnya...
[Ust. Andre Raditya]
















