Memahami Islam sebagai Tuntutan Eksistensial Manusia
Banyak orang beranggapan bahwa dengan menjalankan ibadah ritual seperti shalat dan puasa, mereka sudah cukup berislam. Namun, sering kali kehidupan terasa kosong dan tidak memuaskan. Mengapa demikian? Salah satu alasannya adalah karena kita hanya mengenal Islam sebagai agama, bukan sebagai din yang sesungguhnya. Pemahaman Islam sebagai din memberikan kita perspektif yang lebih luas daripada sekadar definisi agama tradisional. Islam sebagai din mencakup aspek keimanan, budaya, peradaban, dan pandangan hidup secara keseluruhan. Syed Muhammad Naquib al-Attas, seorang pemikir Muslim terkemuka, menjelaskan bahwa konsep din ini berasal dari ayat dalam al-Qur’an yang dikenal sebagai "ayat perjanjian" (QS. Al-A’raf: 172). Dalam ayat ini, terdapat fenomena yang disebut alastu, di mana seluruh keturunan Nabi Adam memberikan kesaksian sebelum mereka lahir ke dunia. Fenomena alastu menandakan adanya perjanjian awal antara manusia dan Allah, yang mengandung makna penyerahan diri. Namun, lebih dari sekadar penyerahan, terdapat rasa keberhutangan dalam diri manusia. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya sekadar agama, melainkan juga sebagai rasa tanggung jawab yang mendalam. Keberhutangan ini muncul karena Allah menciptakan manusia dari ketiadaan. Oleh karena itu, makna dasar Islam sebagai din adalah keadaan berhutang dari sudut pandang manusia. Namun, dari perspektif Allah, Dia tidak memberikan hutang, melainkan karunia berupa keberadaan atau eksistensi kepada manusia. Ketika seseorang merasa berhutang kepada Allah, tentu ada kewajiban untuk melunasi hutang tersebut. Namun, cara membayar hutang kepada Tuhan berbeda dengan membayar hutang kepada sesama manusia. Untuk melunasi keberhutangan kepada Allah, manusia harus mengembalikan diri kepada-Nya. Makna "kembali" di sini mengharuskan kita untuk memahami tanda-tanda Allah yang ada di alam semesta. Kita tidak hanya melihat alam sebagai keindahan, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran yang membantu kita mengenal Allah sebagai Sang Pencipta. Dengan memahami tujuan dan takdir kita di dunia, kita dapat memperoleh pengetahuan yang lebih dalam. Konsep Islam sebagai din membawa kita pada kesadaran bahwa setiap individu memiliki kontrak suci dengan Allah yang telah dimulai sejak berada di alam alastu. Kontrak ini mencerminkan ikatan jiwa yang kuat antara manusia dan Tuhannya. Setiap individu bertanggung jawab atas setiap perbuatan yang dilakukannya, tanpa ada jiwa lain yang bisa menggantikan tanggung jawab tersebut. Inilah yang menjadikan etika sangat penting dalam Islam. Dalam menjalani kehidupan, kita tidak akan menemukan celah untuk menghindar dari pengawasan Allah. Segala sesuatu, baik yang terlihat maupun yang tidak, berada dalam pengawasan-Nya. Setiap tindakan, mulai dari cara berpikir hingga interaksi dengan sesama, merupakan bagian dari usaha untuk memenuhi perjanjian suci tersebut. Namun, untuk memenuhi janji kepada Allah, kita harus berperilaku adil terhadap diri sendiri. Adil di sini berarti tahu diri dan tidak melupakan hakikat diri kita. Syarat utama untuk berperilaku adil adalah ilmu. Tanpa ilmu, kita akan kesulitan untuk menempatkan segala sesuatu pada posisi yang semestinya. Penting untuk mengetahui dari mana sumber ilmu itu berasal dan untuk apa ilmu tersebut digunakan. Ilmu yang benar adalah ilmu yang tidak menyesatkan dan mampu membimbing kita kembali kepada hakikat perjanjian awal dengan Allah. Seperti yang dijelaskan dalam Shahih Bukhari, ilmu harus didahulukan sebelum perkataan dan tindakan. Setiap amal yang kita lakukan harus didasari oleh keyakinan bahwa janji Allah adalah kebenaran yang mutlak. Akhirnya, makna Islam sebagai din mengajarkan kita bahwa hidup di dunia ini memiliki tujuan untuk melunasi keberhutangan dan memenuhi janji kepada Allah. Tuntutan ini menjadi alasan mengapa kita harus beradab, mampu menundukkan ilmu, dan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Tanpa ilmu dan sikap adil, kita akan seperti pengembara yang melupakan kontrak sucinya. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama memahami dan memaknai Islam dengan sepenuh hati.
Jangan hanya menjadi Muslim yang sekadar menjalankan ritual, tetapi jadilah Muslim yang memiliki pemahaman yang mendalam dan intelektual. Baca selengkapnya di Batuter.Com Link Center : https://tautanku.com/batutercom













