“Gimana ya caranya move on?”, tanyamu padaku.
“Berputus asalah darinya seperti sebuah nasehat....”, ucapanku terhenti ketika melihat sosoknya yang tiba-tiba muncul menyapaku, ah aku sadar bahwa mengatakan lebih mudah daripada melakukan.
“Seperti nasehat tentang cinta matahari ke bumi”, lanjutku. “Kadang kau harus meneladani matahari. Ia cinta pada bumi, tapi mendekat pada nya justru akan menghancurkannya”, imbuhku.
“Baiklah, lantas jika analoginya begitu, berarti jodoh juga ngga akan ketemu?”, tanya mu kembali.
Sosok yang tadi menyapaku itu menjawab, “L’amour Nest Past Parce, Que Mais Malgre, seperti ungkapan pepatah Perancis, cinta itu walaupun dan bukan mengapa. Walaupun matahari tidak mendekati bumi, ia tetap mencintainya, bahkan rela memberikan sinarnya tanpa mengharap apapun dari bumi. Begitulah cinta, walaupun dan bukan karena.” Setelah mengatakan itu, sosok tadi lantas pergi meninggalkan ku sebuah pernyataan yang penuh dengan pertanyaan. “Apakah ini artinya aku harus tetap mencintainya walau tak berarti sebaliknya?”,ucapku dalam hati.
Hatiku masih tertaut pada sosok yang sama, yang datang dan pergi tanpa terduga. Ia bukanlah pilihan, karena pilihan berarti memiliki opsi lain untuk dipilih, sedangkan hati ini tak pernah melihat bahwa ada yang lebih indah darinya. Mungkin inilah yang disebut dengan tujuan, ketika semuanya berjalan, bukan pada pilihan melainkan pada keinginan.
“Kekuasaan seorang pemimpin ada di tangan rakyat kan? Tak ada rakyat, tak akan bisa seseorang disebut pemimpin?”, tanya sosok itu di sela waktu menanti dosen mengisi kuliah.
“Ya lalu kenapa, kau takut?”, ucapku.
“Lantas bagaimana hubungan Tuhan dengan hamba Nya? Jika tidak ada hamba tak mungkin disebut Tuhan kan, berarti Tuhan menciptaan kita hanya karena ingin diakui ke Tuhanannya?”, tanyamu kembali.
“Logical fallacy lagi?”, jawabku. Sebagai seorang pemimpin organisasi, ia sering kali mengajakku berdiskusi, memperbarui pengetahuanku, memancingku pertanyaan yang tak lain untuk menuntunku pada pemahaman yang baru. Mataku yang cacat memang memaksaku memilih bangku terdepan supaya aku bisa memahami kuliah yang diberikan. Sialnya ia selalu datang ketika kuliah sudah dimulai dan satu-satunya bangku yang tersisa tak lain adalah bangku di deretan terdepan, posisi yang sering aku tempati. Pertanyaanya kali ini sedikit lebih berat dari biasanya, bisa saja aku mengiyakan pertanyaannya, seperti kebiasanku yang cenderung pasif ketika ia mengajakku berdiskusi. Bukan aku tak suka diskusi, tapi dia selalu menyebalkan, ada saja caranya untuk membantah pendapat yang aku ajukan, tidak buruk memang, membuat otak kita bekerja, tapi entahlah memilih mengalah lama-lama membuatku nyaman daripada harus berdebat panjang dengannya. Uniknya pertanyaan kali ini menuntunku pada sebuah jawaban yang justru membuatku percaya pada Tuhan.
Pertanyaan itu membuatku bekerja keras untuk memikirkannya, tentu saja kali ini aku akan nampak bodoh jika menyetujui pendapatnya, menganggap Tuhan yang menurut “logical falaccy”-nya gila dengan pengakuan. Logical falaccy merupakan gejala berpikir yang salah disebabkan oleh pemaksaan prinsip-prinsip logika tanpa memperhatikan relevansinya, alih-alih menyesatkan justru pernyataan-pernyataannya membuatku semakin banyak merenung dan memahami berbagai macam peristiwa dan kejadian, termasuk Tuhan.
“Karena jika memang hamba diciptakan hanya untuk mengakui sifat ketuhanan dari Tuhan itu sendiri, maka Tuhan lah yang gila”, jawabku. “Jika memang begitu, Tuhan malah tidak akan menciptakan kita sebagai hamba, karena sifat ke Tuhanan tidak bergantung pada ada atau tidaknya kita”, ucapku.
“Tapi nyatanya Tuhan menciptakan kita untuk beribadah kan? Bukankah itu tanda bahwa Tuhan membutuhkan pengakuan?”, bantahmu.
Aku menyerah tapi tetap berusaha mencari jawaban terbaik untuk mematahkan logikanya. ”Bukan, bukan begitu, justru dengan ibadah kita lah yang membutuhkan pengakuan. Pengakuan akan ketidakberdayaan manusia pada Tuhan, bukan malah sebaliknya”,kataku.
“You see but you didn’t observe Nja”, kemudian ia sejenak terdiam dan kembali melanjutkan penjelasannya, “Karena sifat Tuhan tidak bisa disamakan dengan manusia, bukankah jelas itu logical falaccy seperti yang sudah kau sebutkan tadi, ah kau kurang jeli Nja. Lain kali kita coba lagi.” Saat aku hendak bertanya lebih lanjut kepadanya, Pak Agus-dosen mata kuliah pemasaran sosial sudah duduk di tahtanya, pertanda bahwa aku harus menunda rasa penasaranku tentang sifat Tuhan yang memang berbeda dengan mahluknya.
Ketika kuliah usai, seperti biasa Pak Agus memberikan kami tugas kelompok yang bisa dikatakan amat menyiksa, karena entah kenapa aku harus berpasangan dengan Fajar, sosok yang diam-diam telah banyak membuat otak dan hatiku bekerja seimbang, antara logika yang sering kami diskusikan berdua dan juga perasaan yang masih penuh dengan tanda tanya. Belum sempat aku bertanya, ia sudah melanjutkan opininya, menatap mataku seolah ingin meyakinkan pendapatnya sambil berkata, “Bukankah dari Adam kita belajar, ketika malaikat bertanya kepada Tuhan tentang manusia yang dikhawatirkan berbuat kerusakan? Tapi kau tahu Nja, logika Tuhan berjalan di luar logika mahluk-Nya. Hukum Tuhan bahkan lebih lembut bahkan diabndingkan dengan mereka yang menghukum atas nama Tuhan.”
“Baiklah kalau begitu, lantas apa maksudmu mengatakan ini padaku?”
“Siapa yang tak ingin hidup luar biasa sih Nja, siapapun mau kan? Tapi sayangnya mereka salah dala, menempuhnya. Ada yang ingin luar biasa dengan mencintai harta, ada pula yang ingin luar biasa dengan mencintai tahta, mencintai hal-hal yang sifatnya dunia. Padahal jika kita ingin menjadi luar biasa, tentu kita harus mencintai yang berbeda dari kebanyakan manusia. Siapa yang Maha Berbeda itu?”
“Yaps, jika inginkah hidup yang luar biasa, maka cintailah Ia yang Maha Berbeda, karena Ia tak akan tega mencintai Mu dengan cara yang biasa.”
Percakapan itu mendapatkan tempat khusus di hatiku, aku mengakui bahwa kau adalah sosok yang pantas di kagumi. Waktu telah jauh berlalu dari percakapan indah itu, sebentar lagi akan banyak penghalang untuk bertemu denganmu. Aku menyepi, ditemani gerimis dan sekotak coklat di pangkuanku. Coklat memang manis, namun kini manisnya telah pergi bersama kenangan yang berlalu, menyisakan pahit bernama rindu. Aku memberanikan diri membuka sekotak coklat itu, kutemukan selembar tulisan yang berbunyi
Persahabatan itu layaknya coklat, ia amatlah manis. Semakin manis maka semakin mahal harganya, seharusnya pun semakin baik bungkusnya, supaya tidak mudah hancur, rusak ataupun dimakan serangga. Begitu pula persahabatan kita Nja, aku harap bisa kita bungkus dengan bungkus terbaik, dan sebaik-baik bungkus itu adalah taqwa. Ini sekotak coklat untukmu, aku akan pergi, coklat itu juga tak akan bertahan, tapi ingat jadilah seperti coklat. Jaga dirimu Nja, bungkus dirimu dengan sebaik-baik bungkus bernama taqwa, aku senang bisa mengenal sahabat sepertimu.
Tangisku pecah ketika membaca tulisan itu, aku mengakui kelemahan terbesarku saat ini adalah merindukan diskusi yang senantiasa mendewasakan cara berpikirku. Kau akan terbang ke Belanda melanjutkan studi disana, meninggalkanku dengan sekotak coklat yang penuh tanya. Mencintai Ia yang Maha Berbeda, menjadi satu-satunya caraku untuk percaya akan segala takdir indah yang telah di ciptakan-Nya.