Part I: Love It If We Made It.
Siang hari di Jakarta yang terik dan penuh kemacetan, diiringi suara bising klakson, Disa melangkahkan kaki ke arah sebuah coffee shop ‘kekinian’. Ujung matanya mencari-cari seseorang yang telah menunggunya.
“Hai, lama ya nunggunya?” tanya Disa sambil sedikit tersenyum, menghampiri orang yang ia cari sedari tadi.
“Oh, hai...” jawab lawan bicaranya, seorang pria yang mengenakan kaos polos hitam dibalut jaket canvas berwarna hijau army.
“...nggak terlalu lama kok, Dis.” pria itu tersenyum hangat, mempersilakan Nadisa untuk duduk di depannya.
“Wajar lah, dari Bandung ke Jakarta ‘kan memang butuh waktu yang nggak sedikit.” tambah pria itu lagi.
Nadisa merespon pernyataan sang pria dengan mengangguk sedikit terkekeh. Masih sedikit canggung, walaupun hari itu adalah pertemuan ke-3 antara Disa dan sang pria.
“Lo udah pesan minum, Re?” tanya Disa kepada pria itu.
“Belum, lo mau pesan?” tanya Rey.
Disa mengangguk sembari membuka-buka menu yang ada di tangannya.
“..jangan pesan kopi, ya, Dis?” ucap Rey.
Seketika Disa cemberut, dengan raut muka yang sedikit ‘bete’, ia menghela nafas.
‘Lucu sekali’ pikir Rey. Rey hanya tersenyum.
“Nanti sakit perut lagi, ‘kan udah tau nggak bisa minum kopi, kenapa masih suka bandel, sih?” tambah Rey lagi.
“Kan kopi enak!” jawab Disa sedikit tidak santai.
“Iya, yaudah, teserah deh.” Rey merespon Disa dengan apa adanya.
Pasalnya, Disa memang seseorang yang susah sekali untuk diberitahu. Rasanya Rey seperti bosan dan enggan untuk memarahi Disa perihal kesehatannya ataupun tingkah lakunya.
Pertemuan ketiga Rey dan Disa tak semudah pertemuan pertama mereka. Berasal dari aplikasi, mereka merencanakan untuk bertemu, setelah sebelumnya mereka berdua bercerita tentang hal kecil, hal besar, hingga membuka aib satu sama lain.
Pertemuan pertama dan kedua mereka diawali dengan makan bersama dan dilanjutkan menginap di salah satu hotel di Kota Jakarta.
Friends with benefit, orang-orang bilang seperti itu.
Pertemuan ketiga pun berujung sama, bertukar peluh untuk melampiaskan nafsu belaka. Hanya sekedar teman, tanpa perasaan, atau mungkin belum.
“Holy shit” kutuk Rey sembari membenarkan posisinya, berbaring di sebelah Disa sambil sama-sama mengatur nafas.
“Capek.. tapi enak” ucap Disa
“tapi capek” tambahnya lagi.
“Lo sama mantan lo gimana sekarang, Dis?” Tanya Rey seketika.
“Ya gitu deh, Ardan udah gak sengotot dulu semenjak tau gue sama lo deket” jawab Disa.
Rey sedikit menghela nafas lega, seraya memandang langit-langit kamar hotel, ia secara tak sadar tersenyum tipis.
Rey seketika menolehkan wajahnya ke arah Disa yang berada di sampingnya. Memasang wajah bertanya-tanya, menunggu Disa melanjutkan kata-katanya.
“...dia masih suka ngajakin ketemuan, sih.” sambung Disa.
“..menurut lo, gimana?” tanya Disa yang menolehkan wajahnya, menatap Rey.
“Oh..” Rey kembali melihat ke arah langit-langit. Mencoba berpikir saran apa yang akan ia lontarkan.
“Ya menurut gue, kalau sekedar ketemu sih ketemu aja, Dis. Emang kenapa?” kata Rey sambil berdiri dan menggunakan celananya. Kemudian berjalan menuju nakas, mengambil sebatang rokok.
“Gapapa sih, gue cuma khawatir aja.” Jawab Disa.
Rey menyelipkan rokoknya di antara sela bibirnya, membakarnya lalu menghisap rokok itu.
“..lo kan tau gue sama dia udah bareng-bareng selama 5 tahun, Re. Ada kebiasaan gue dan dia yang masih belum bisa gue ubah dengan kebiasaan lain” tambah Disa.
Rey mengangguk, membuka pintu balkon seraya menghembuskan asap rokoknya.
“Gue terkadang masih kangen bareng-bareng sama Ardan” lanjut Disa.
“Tapi kan lo tau gimana makian orang tua Ardan setelah tau anaknya 5 tahun berhubungan sama lo, Dis.” ucap Rey mengingatkan.
“Lo juga tau mantan lo kasarnya kayak apa, Dis. Pekan lalu, pas lo ngambil barang-barang lo di kosan dia juga lo sambil nelfon gue kan?” tanya Rey.
“Lo kayak gitu, karena takut kan Ardan bertindak kasar sama lo?” sambungnya lagi.
“Iya sih, gue takut dipukul” jawab Disa sambil sedikit tertawa.
“Walaupun gue tau saat itu Ardan gak akan mukul, tapi tetep takut.” Disa menjelaskan.
Rey menggaruk kepalanya, sebelah tangannya masih berkutat dengan rokoknya yang belum habis.
“Ya gue sih terserah lo, gue di sini bukan siapa-siapa lo juga” kata Rey.
“Kita cuma temen, Dis. Gue cuma mau bantu lo doang kok. Sisanya lo yang menentukan mana yang baik buat lo, gitu kan?” jelas Rey.
Disa tertegun dengan jawaban Rey yang terlihat peduli namun tidak peduli. Ada benarnya juga, semua pilihan hidup Disa, memang hanya dia yang bisa menentukannya.
“Lo sama mantan lo gimana, Re?” tanya Disa iseng.
“Lo kenapa tiba-tiba nanyain mantan gue sih?” tanya Rey.
“Lo aja nanyain mantan gue, kenapa gue gak boleh nanyain tentang lo dan mantan lo?” Balas Disa.
Rey memang orang yang tertutup, kisah masalalunya ia simpan rapat-rapat dan ia buang jauh-jauh.
“Gue sama dia baik-baik aja. Kayak orang gak kenal sih. Gue yang menjauh.” Ucap Rey.
“Gue kalau udah nggak suka sama orang, ya gue cabut. Gak kayak lo...”
“Gak kayak gue yang gak bisa lepas sama mantan gue” Lanjut Disa
“Nyokap gue udah nanyain mulu kapan gue bawa pacar ke rumah” Rey tertawa, mengalihkan pembicaraan.
“Ya bawa lah. Lo tuh ganteng, kerjaan udah ada, punya usaha, income stabil, nyari cewek gampang” kata Disa.
“Gak segampang apa yang lo ucap” bantah Rey.
“Gue punya trust issue, Dis. Sampe sekarang gue susah banget percaya sama orang, nyaman sama orang”
“Tapi sama gue, lo nyaman?” tanya Disa.
Rey sedikit kaget dengan ucapan Disa.
“Ya karena gue tau lo gak bakal suka sama gue, Dis. Beda” Jawab Rey asal.
Disa hanya mengangguk sambil menenggak air mineral botol yang ada di sampingnya.
“Lo mau gak gue ajak ketemu orang tua gue?” Tanya Rey to the point.
Disa hampir menyemburkan air yang baru saja ia minum.
“Cuma ketemu aja, pura-pura jadi pacar gue. Sama kayak apa yang gue lakuin buat bikin mantan lo gak berulah. Mau kan? Kita saling ngebantu lah.” Bujuk Rey.
“Nyokap lo, baik kan?” Tanya Disa.
“Ya baik lah, gila. Lo trauma ya gara-gara pernah kena semprot mantan calon mertua lo?” Ledek Rey.
“Iya sih, gue agak takut gitu sekarang kalau ketemu ibu-ibu” Jawab Disa sambil tertawa.
“Besok ya, Dis? Gue minta tolong, sekali aja.” Tanya Rey lagi.
“Okay. Tapi kalau nyokap lo marah-marah gue langsung pulang ke Bandung ya?” Jawab Disa.
“Gak bakal marah, nyokap gue baik kok. Kalau nyokap gue marah, lo boleh marahin gue balik. Deal?” Rey menunggu persetujuan Disa.
“Deal” Jawab Disa sambil tersenyum.