KKN (Part.2) - Hal Yang Kusadari
Banyak hal yang aku sadari disaat berada jauh dari keramaian kota ini. Tinggal serumah dengan 20 orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Sedikit waktu sendiri. Diminta berbaur kesana-sini.
Aku menyadari bahwa aku memang tidak se-gaul itu. Tidak mudah tiba-tiba berakrab diri dengan 20 teman lainnya. Tidak mudah terbuka pada orang yang baru aku temui. Juga tidak mudah untuk mengutarakan apa yang aku rasakan sesungguhnya. Kenapa? Entahlah.
Aku juga menyadari bahwa aku se-introvert itu. Jarang berbaur, komentar beberapa teman kkn-ku. Lebih banyak menghabiskan waktu sendiri, di kamar, bermain dengan handphone, bercerita dengan teman lewat internet. Haha. Miris ya. Disaat ada 20 teman lain yang bisa diajak bercerita langsung, aku malah memilih bercerita dengan teman lain yang entah berada dimana. Bukan ansos, hanya saja preferensi yang berbeda?
Aku menyadari bahwa aku tidak sepintar itu dalam membuat lelucon. Salah satu teman kkn berkomentar bahwa terkadang aku mengutarakan jokes yang ga lucu. Ya aku memang bukan seorang pelawak.
Aku menyadari bahwa aku dulu (sampai sekarang) bukanlah tetangga yang baik. Aku tidak pintar basa-basi. Ya memang. Aku salah satu diantara sekian orang lainnya yang kerjaannya hanya di rumah dan di rumah lagi. Jarang bersosialisasi dengan tetangga. Begitupun di desa kkn ku kali ini. Aku dituntut untuk ‘berbaur’ dengan warga. Tapi bagaimana caranya?
Aku juga menyadari bahwa aku orang yang menyebalkan. Entahlah apakah aku yang terlalu sensitif atau bagaimana, tapi aku merasa beberapa teman kkn sudah mulai menunjukkan ketidaksukaan mereka padaku? Dan aku tipe orang yang jika merasa orang lain tidak menyukaiku, aku akan bersikap awkward dengan mereka. Bingung harus berinteraksi seperti apa. Apakah aku sudah melampaui batas sebagai sesesorang yang baru ditemui selama 20 hari?
Ya kita memang tidak bisa membuat semua orang menyukai kita. “Kita ada bukan untuk menyenangi orang lain.” Maka mulailah aku mencoba untuk tidak peduli. Ya aku memang begini. Jika tidak suka silahkan benci sesukanya. Aku tidak ingin menghabiskan tenagaku untuk berpura-pura.
Kesadaran bahwa aku minim pemahaman bahasa sunda sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Aku butuh les privat sih ini. Tapi yaaa belajar dari pengalaman adalah jalan yang aku pilih karena sepertinya itulah yang paling mungkin kulakukan sekarang.
Hal terparah yang aku sadari selama kkn adalah………aku salah masuk jurusan apa ya? Aku memilih jurusan murni dari keingintahuanku saja. Tidak terlalu memikirkan kedepannya seperti apa. Jujur ya aku masih bingung dengan kedepannya aku ingin menjadi apa dan seperti apa.
Aku senang mengikuti berbagai tes kepribadian dan rata-rata mengatakan bahwa pekerjaan yang cocok untukku adalah psikolog, penulis, pekerja sosial, dan guru. Hmm……..entahlah. Apakah benar?
Usiaku sekarang telah menuntutku untuk berpikir serius akan masa depan. Tapi aku bingung. Banyak hal-hal yang baru aku sadari dan aku sadari 100% baru belakangan ini disaat aku dihadapkan dengan situasi yang berbeda. Hal ini membuatku kembali berpikir ulang.
Kemudian aku juga menyadari bahwa aku terlalu banyak berpikir. Ya seperti sekarang ini.
Desa Ciawi, Wanayasa
(2 Minggu lagi beres KKN)