Maka di kampuslah kau bisa menimbang-nimbang isi kepala yang kau punya selama ini. Argumen-argumen yang kau paparkan kerap pupus oleh aduan argumen lain dari seorang teman sekelas atau dari dosen sekali pun. Di kampus pulalah kau bisa menyejajarkan bahu dengan orang orang (yang merasa diri) berwawasan luas, untuk kemudian kau keluar dari ruang kuliah dalam keadaan waswas. Bahwa teori teori yang kau geluti selama ini tak sesuai dengan kerangka kurikulum misalnya. Bahwa kurikulum telah membantu teman teman sekelas untuk mengungkungkan diri dalam teori teori tinggi tapi tak pernah bisa membumi ketika kau terapkan di meja-meja warungkopi.
Sabtu, 20 Sept 2014, pagi pagi sekali aku bangun, mandi, pakai shampo, sabun dan gosok gigi. Kemudian dengan gegas berpakaian rapi. Ada kelas di kampus yang mesti kuisi setelah dua tahun sebelumnya kutinggalkan begitu saja. Kupacu sepeda motor dari Emperom menuju Darussalam dengan gesa. Untuk kelas pertama, aku tak ingin terlambat. Tiga belas menit, enam simpang berlampu merah, kulalui dengan selamat tanpa kurang suatu apa, tanpa keduluan dosen memasuki ruang kuliah.
Sesampai di kampus, dua tahun tak menginjakkan kaki di sini, ada nuansa lain yang harus kuhadapi. Ruang ruang kuliah telah banyak bertukar tempat. Teman teman lama sudah tak tampak batang hidungnya lagi. Kebanyakan sudah lulus dalam setahun dua tahun belakangan, sisanya lagi ‘melarikan diri’. Aku mesti beradaptasi lagi. Sama seperti bagaimana aku beradaptasi di semester pertama. Mesti menjawab pertanyaan pertanyaan dari teman baru seperti dulunya kuliah di mana, jurusan apa, dan bekerja di mana? Aku bersyukur pohon pohon angsana yang tumbuh teduh di halaman kampus tak pernah mengeluarkan pertanyaan yang sama. Adaptasi begini rupa berlangsung singkat. Dosen masuk, yang lain sibuk dengan diktat.
Di kelas, ada sebelas teman baru duduk dalam formasi huruf U menghadapi seorang dosen, yang sedari masuk pertama sibuk membersihkan layar dua smartphone dan satu laptopnya. Udara dingin di sini. Mesin pendingin yang tertancap di dinding atas kelas dengan suhu 22 derajat celcius terasa sangat tak nyaman untukku pengidap sinusitis ini. Tapi teman teman lain tampak begitu nyaman, kecuali salah satu di antaranya tak melepas jaket berlogo klub bola Real Madrid sedari masuk tadi. Barangkali ia berasal dari daerah pesisir utara, dan tak terbiasa dengan udara wilayah tengah di ketinggian pegunungan.
Kelas pertama diisi dengan mata kuliah Ilmu Tasawuf. Dosen telah angkat bicara setelah kesibukan pertamanya selesai. Aku menyimak. Yang lainnya juga. Suhu dalam ruangan tambah dingin, tapi kemudian berimbang dengan suhu pembicaraan bertopik pemberlakuan syariat di Aceh. Itu mengemuka setelah dosen menguraikan pandangannya tentang hukum cambuk terhadap 8 orang tersangka pelaku judi di Masjid Taman Makam Pahlawan, Gampong Ateuk kemarin. Ia berpendapat, yang sangat disayangkan dari pemberlakuan syariat di sini adalah hanya berlaku untuk orang orang kecil saja. Selalu yang kena hukum cambuk orang orang kelas menengah kebawah, sementara para koruptor yang posisinya di dinas dinas pemerintahan tak pernah tersentuh. Ini lucu. Menurutnya begitu. Lantas pembicaraan beralih pada topik tasawuf itu sendiri.
Seseorang memilih jalan sufi, untuknya ia sebut sebagai calon sufi, haruslah terlebih dahulu mengekalkan tobatnya dengan sungguh-sungguh. Baru kemudian si calon sufi mengekalkan ibadahnya baik wajib mau pun sunat dengan sungguh-sungguh pula. Sang dosen menekankan, sungguh-sungguh di sini dalam artian selalu dalam sifat ikhlas, tidak riya, wara’ dan dalam prosesnya tersebut si calon sufi tidak serta merta meninggalkan tanah dan tetap dalam keadaan menginjak bumi. Maksudnya, ketika si calon sufi berproses untuk kesufiannya itu, ia tak serta merta meninggalkan tugasnya sebagai makhluk sosial, tidak melepaskan tanggungjawabnya sebagai seorang kepala rumah tangga, kepala sekolah, dosen, guru, teungku, atau bahkan tidak serta merta melupakan tanggungjawab atas dirinya sendiri.
Ini bagian penting menurutku. Bahwa membumi apa pun ...