Heh Kwetiau tau gak kamu. sedikit lagi selisih jarak antara kita akan terpangkas sampai cuma sisa 15 Km aja. Tapi mungkin berapa pun jarak antara aku dan kamu gak akan ada artinya buat kamu yah? Ya udah, biarin deh. Aku gak akan langsung bete. Santai aja.
Tapi kamu harus tau kemaren aku lewat ke depan kantormu loh. Pas banget sama jam pulang kantormu itu. Kalo kamu dengar suara motor yang menderu-deru, itu aku loh. Aku sengaja begitu biar kamu dengar. Biar perhatianmu teralih. Biar kamu tersadar. Setelah tahun lalu aku selalu patroli mengamankan jalan pulangmu dari para begal yang sempat tenar itu. Sekarang aku masih ada.
Aku harap kamu tidak lantas malah merasa terganggu dengan eksistensiku di sekitarmu. Kenapa? Karena sampai sekarang selain kamu belum ada lagi dara yang benar-benar sedang aku dekati. Bukan karena belum ada dara lain yang mendekat atau aku yang gagal mendekati mereka. Memangnya apabila benar aku yang gagal mendekati mereka, lalu apa bedanya dengan aku yang belum juga berhasil mendekati kamu. Bedanya barangkali, tidak seperti sikapku terhadap dara yang lain. Terhadapmu aku belum juga ingin menyerah. Aku masih ingin kamu mengakui keberadaanku. Jika kamu heran akan hal itu. Yakinlah aku juga heran, sama halnya seperti kamu.
Oh iya, setelah suara motorku menderu-deru di sana aku sempat di-stop oleh polisi loh. Aku disuruh menepi ke bahu jalan. Polisi itu baik. Dia cuma bertanya apakah aku punya SIM atau tidak. Lalu ku jawab, “Punya.” Tanpa perlu memperlihatkan SIM yang ada di dompet, polisi itu langsung menyuruhku pergi. Saat aku hendak memutar pedal gas, aku sudah dipanggil lagi. Eh, polisi itu ternyata malah minta foto bareng. Unik banget polisi di kotamu itu yah. Apa hal-hal seperti itu yang bikin kamu betah di kota itu. Jadi kapan kamu mau main ke Bandung?
Oke, mungkin sebetulnya kamu pernah main ke Bandung dan gak beri kabar ke aku. Tidak apa-apa toh Pak RK (wali kota) juga bilang siapapun boleh main ke Bandung tanpa harus lapor dulu ke aku, termasuk juga kamu. Tapi kalau kamu mampir ke Bandung dengan mengabari aku terlebih dahulu kan seenggaknya aku bisa menyiapkan kejutan kecil-kecilan buat kamu. Beli’in kamu gedung sate misalnya.
Ya udah deh. Ngomong-ngomong soal pak RK, kemarin waktu aku mampir di kotamu (Bogor) aku juga sempet susul menyusul dengan RK di jalanan loh. Maksudku motor BeAT putih berplat nomor F xxxx RK. Entah kenapa saat posisi BeAT itu tepat di depanku kok aku kayak ingat sesuatu tentangmu yah. Iya, aku tahu sekarang kamu sudah gak pake lagi motor beAT putih itu. Sekarang kamu pakainya motor BeAT yang warna hitam dan bercorak oranye kan. Tapi tetap saja sesuatu yang menyangkut tentang kamu ―walau cuma sedikit― tetap akan membuatku penasaran. Oleh sebab itu, waktu itu aku susul motor BeAT itu. Tapi ternyata tidak mudah. Dia malah mengencangkan laju motornya setiap kali aku mencoba menyusulnya. Terjadilah kejar-kejaran. Sebetulnya mudah untuk menyusulnya lagi. Hanya saja setiap aku sudah berada di depannya dan mulai mencoba melihat wajahnya dari kaca spion, dia selalu menghindar dan mencoba untuk menyalip lagi. Terus begitu. Sampai akhirnya kami harus berhenti di sebuah lampu merah. Aku berhenti tepat di depan motor BeAT putih itu. Sial, pas aku coba lihat wajahnya lagi lewat kaca spion, ternyata pengemudinya itu pakai masker. Lapur lah sudah.
Bagaimana? Kira-kira kamu kenal tidak dengan pengendara motor BeAT putih ber-plat nomor F xxxx RK itu? Entah kenapa aku yakin kamu kenal? Itu pasti seseorang yang dekat denganmu. Itu pasti temanmu. Atau mungkin itu saudaramu. Atau jangan-jangan itu benar-benar kamu??