Sepotong Kenangan dan Sepeda Motor yang Mulai Lusuh
Apa kabar?
Hampir sepuluh tahun tanpa kabar tentang "kita". Tentu saja begitu, dan memang seharusnya begitu. Lagi pula, untuk apa juga ada pembaruan? Meski begitu, aku ragu jika kamu sudah benar-benar lupa bahwa kita pernah saling bertaut.
Kita memang sudah punya dunia masing-masing. Punya alur cerita yang tak lagi bersilangan. Tapi jujur saja, kita tidak pernah benar-benar menjauh, kan? Aku masih melihatmu dari kejauhan, dan aku rasa, kamu pun melakukan hal yang sama.
Jangan salah paham. Aku cukup bahagia dengan hidupku sekarang, dan aku yakin kamu pun begitu. Aku menulis ini bukan karena rindu yang ingin kembali. Aku hanya ingin mengenang bagaimana rasanya menjadi kita yang dulu—saat segalanya terasa jauh lebih sederhana.
Dulu, cinta hanya soal rindu dan rasa percaya. Kita bisa resah seharian hanya karena dua hal itu saja. Hari ini? Ternyata itu tidak cukup. Cinta di masa dewasa butuh pondasi finansial, toleransi yang tak habis-habis, dan tanggung jawab yang berat. Tanpa itu, kestabilan hari-hari kita pasti akan goyah. Hidup sekarang memang menyenangkan dengan cara yang berbeda, tapi aku merindukan "rasa" itu. Rasa rindu yang murni, yang resah tanpa tahu alasannya, tanpa beban hal-hal lainnya.
Sampai sekarang, aku terkadang masih bingung kenapa dulu aku bisa mencintaimu sedalam itu. Padahal, aku sudah sangat bersyukur dengan cinta yang kumiliki sekarang. Mungkin, kalaupun kita akhirnya berjodoh, kita akan tetap merindukan masa-masa itu juga. Jadi, ini sebenarnya bukan tentang kamu, tapi tentang sebuah kisah masa lalu yang ternyata tidak buruk-buruk amat. Sedikit lucu, agak tidak masuk akal, tapi aku bersyukur pernah mengalaminya.
Kemarin aku mampir ke toko tanamanmu. Tempat yang bagus. Aku datang bersama keluarga kecilku; ada istri, anak, bahkan mertua. Aku juga sempat bertemu orang tuamu di sana. Segalanya terasa aneh sekaligus akrab di saat yang sama.
Kamu tidak ada di sana, tapi aku melihat motor Beat itu. Masih terparkir, meski sekarang terlihat sudah mulai lusuh. Dia saksi bisu saat aku mengendarainya membelah kota bersamamu, sampai akhirnya kita punya cerita tentang "kue".
Kue apa? Ah, iya. Kuetiauw.











