Tak Sama Dengan Lainnya
Sedang menuju tengah malam. Aku masih terjaga seperti biasa. Memandang langit-langit kamar sambil pikiran menjelajah menembus ruang dan waktu. Seperti biasa, selalu ada buku ukuran A5 dengan kertas tanpa garis dan bolpoin hitam yang siap membantuku menangkap kata-kata dari angan. Katanya menulis bisa menjadi sebuah terapi emosi bagi orang-orang introvert sepertiku.
Kali ini pikiranku tidak sedang mencari ide tulisan, melainkan sedang merenungkan nasib sendiri. 29 tahun bukan usia yang muda, sudah pantas untuk memikirkan tentang pernikahan. Bukan tentang menikahnya, tapi aku merasa di titik membutuhkan seseorang yang bisa membersamai secara utuh, dan tidak ada solusi atas hal itu selain dengan jalan pernikahan.
"Aku pernah membaca terjemahan kitab suci yang menyebutkan bahwa segala sesuatu diciptakan secara berpasangan. Apakah aku termasuk di dalamnya? Tapi hal itu mudah berlaku bagi orang-orang dengan normal. Sedangkan anak dari keluarga brokenhome sepertiku itu tidak pernah bisa semudah itu. Sudah berapa kali niat baikku memninang seseorang terhalang status keluarga yang tak lagi utuh. Orang tuaku yang tidak bisa mempertahankan hubungan membuat anak-anaknya mendapat label yang sama, seolah 'perceraian' sudah menjadi salah satu jenis asam amino pada DNA. Yang tidak bisa bertahan itu orang tuaku dan bukan aku, aku juga bukan mereka, meskipun aku anaknya. Aku masih melihat sorot mata tidak percaya dan kasihan dari orang-orang ketika melihatku. Tidak jarang juga mereka meragukanku untuk membangun rumah tangga. Aku memang tidak punya orang tua yang utuh tapi bukan berarti aku tidak punya perencanaan penuh untuk hidupku. Dengan segala ketidakutuhanku ini, apakah aku boleh memiliki seseorang yang menerimaku secara utuh? Kalau boleh, ijinkan aku menemukannya dalam radarku"
Berat sekali kepalaku malam ini dan tulisan ini membuatku semakin pusing. Kalau aku menyimpan tulisan ini di bawah bantal apakah akan ada Peri Kata yang datang untuk memberiku beberapa koin emas? Kita lihat saja besok.
Selamat malam.
@kurniawangunadi @careerclass














