Regulasi emosi tanpa discernment berisiko membuat kita menjadi sangat adaptif terhadap sistem yang sebenarnya membunuh kita pelan-pelan. Yuk marah yuk~~

Andulka
sheepfilms

bliss lane
Interview Vampire Daily

blake kathryn

ellievsbear
he wasn't even looking at me and he found me

shark vs the universe
EXPECTATIONS
Lint Roller? I Barely Know Her

roma★
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
𓃗
Not today Justin
macklin celebrini has autism

Product Placement

#extradirty
Cosmic Funnies

titsay
seen from South Africa
seen from Uruguay

seen from France

seen from Russia
seen from Mexico

seen from Finland
seen from United States

seen from Armenia
seen from Finland

seen from Dominican Republic
seen from United States
seen from Malaysia
seen from Finland

seen from Brazil
seen from Canada
seen from United States
seen from Finland

seen from United States
seen from Paraguay
seen from United States
@sandimolata
Regulasi emosi tanpa discernment berisiko membuat kita menjadi sangat adaptif terhadap sistem yang sebenarnya membunuh kita pelan-pelan. Yuk marah yuk~~

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
merawat luka
dalam urusan merawat luka, manusia itu ada dua macamnya. yang pertama, orang yang merawat luka untuk sembuh, menyembuhkan luka. yang kedua, orang yang merawat luka agar lukanya tetap ada, memelihara luka. keduanya sangat beda.
iya, ada orang yang merawat luka agar lukanya tetap terpelihara. pasalnya, luka itu memberikannya “kenyamanan”, memberi alasan-alasan untuk tidak menjadi versi diri yang terbaik. bahkan, memberi alasan untuk bersikap tidak baik dan tidak adil kepada orang lain. terus-menerus, dia merasa menjadi korban. terus-menerus, dia menunggu orang lain untuk “bertanggung jawab” atas luka-lukanya.
merawat luka untuk sembuh itu sangat berbeda. orang yang memang bertekad sembuh, sedari awal, sadar bahwa butuh usaha yang tidak setengah-setengah untuk benar-benar sembuh. dia tahu bahwa seringkali yang harus dia lawan adalah hawa nafsu dirinya sendiri. dia harus keluar dari zona nyaman yang berpusat pada lukanya. dia bertanggung jawab atas dirinya. dia mengamini bahwa sembuh adalah keputusan.
tentu saja, merawat luka untuk sembuh ada ujiannya. perasaan ingin marah lagi, perasaan ingin sedih lagi, perasaan ingin relapse lagi. sesekali ada hal-hal yang membuat diri ter-trigger lagi. mereka tidak bisa dihindari, datang sendiri. saat itulah, kemampuan untuk membedakan trigger dan threat (ancaman) menjadi sangat penting.
semoga Allah menyembuhkanmu, merawatmu, menghapus luka-lukamu, memberimu kebahagiaan yang tidak terbatas, melimpahimu dengan ketenangan yang nyata.
Pernah Berguna, Pernah Tidak, Lalu Berguna Lagi
Kami pernah diberi satu trik sederhana oleh seorang dosen. Aku lupa dosen yang mana tepatnya. Beliau bilang, seburuk apa pun harimu, cobalah untuk tersenyum. Literally tersenyum—angkat sudut bibirmu. Niscaya suasana hatimu akan berubah.
Dulu aku menurut saja. Aku belum cukup kritis untuk sadar bahwa teori dan hidup tidak selalu punya hubungan linear. Jadi aku percaya. Lagi pula, kami hidup di ranah akademik yang terbiasa menuntut segala sesuatu punya dasar data.
Rupanya, memang ada penjelasannya. Sebuah konsep yang sering disebut facial feedback hypothesis dalam psikologi. Di mana ekspresi wajah juga bisa memengaruhi emosi, bukan cuma emosi yang memengaruhi ekspresi wajah.
Jadi ketika seseorang tersenyum, bahkan meski dengan sedikit paksaan, otak bisa membaca sinyal itu sebagai “situasi relatif aman” lalu menurunkan ketegangan tertentu.
Sejak pertama kali mendengar itu, aku menganutnya untuk waktu yang lama. Cukup lama sampai di suatu titik, lika-liku kehidupanku tak lagi cukup ditangkal dengan upaya macam itu. Konon, kapasitas penderitaan manusia bertingkat. Memang ada fase hidup tertentu di mana trik seperti itu terasa seperti plester kecil di dinding yang retak besar. Saat memaksa melakukannya, aku justru merasa seperti seorang badut yang sedang melakukan pertunjukan di tengah pemakamanku sendiri.
Begitu pun, kegagalannya di satu fase tidak otomatis membuat trik itu sepenuhnya tidak berguna.
Kupikir awalnya aku menulis ini untuk membagikan trik itu. Ternyata bukan. Aku menulis ini juga untuk mengakui bahwa aku sempat mengira bahwa ketika suatu cara tidak mampu menyelamatkanku di titik terburuk; tak lagi bekerja, maka berarti cara itu salah; konsepnya palsu.
Padahal seperti yang kubilang, bisa jadi aku hanya sedang berada di fase hidup yang terlalu rumit untuk ditenangkan dengan hal sesederhana itu.
Justru setelah banyak badai dan fase itu berakhir, aku merasa trik itu bekerja lagi.
It is easier to clean a messy room than a messy mind. A room allows decisions. You can pick things up, sort them, throw away what no longer belongs to you. The disorder is visible. You can stand in the doorway and see exactly what needs fixing. But a messy mind offers no such clarity. Nothing lies separately. Every thought is tied to another, every memory pulling a hidden thread behind it. You try to focus on one feeling and suddenly you are carrying ten others you did not intend to touch. What seemed small opens into something heavier, older, unfinished. There is no clear sign of what should stay and what should be let go. You don’t even know where to begin. ~ farah
“RESIDU“
Tidak ada yang pecah. Tidak ada yang runtuh. Semuanya tetap berdiri seperti biasa,
Hanya ada satu persetujuan kecil yang diberikan tanpa paksaan. Takut sempat muncul—tipis, hampir tak terdengar,
Namun keinginan lebih rapi, lebih terlatih, lebih tahu cara berbicara. Dan iman— ternyata tidak setinggi yang dibayangkan. Ia pendek. Rapuh. Masih begitu Mudah ditawar,
Dosa selesai dalam hitungan detik. Seperti korek digesek lalu padam. Tapi sesuatu tertinggal. Bukan api. Bukan luka yang terlihat. Melainkan lapisan hitam yang menempel pelan di dalam hati,
Seorang anak manusia tidak langsung hancur. Ia tetap berjalan. Tetap berbicara. Tetap terlihat utuh. Namun di dalam, ada bagian yang tahu bahwa ia masih juga kalah—bukan karena dipaksa, melainkan karena memilih,
Betapa rendahnya iman itu, hingga satu bisikan kecil lebih dipercaya daripada seluruh peringatan yang pernah didengar. Dan yang paling mengerikan: Tidak ada yang menuduh. Tidak ada yang menunjuk dosanya agar dihukum,
Hanya kesadaran sunyi yang menetap, seperti bayangan yang tidak bisa dipisahkan dari tubuhnya sendiri,
Dosa memang singkat. Sedang keadilan tidak pernah lalai. Yang tersembunyi dari mata manusia tetap berdiri jelas di hadapan Yang Maha Melihat. Sejak itu, takut bukan lagi hanya bayangan—melainkan saksi bahwa hati tahu: Setiap pilihan akan menemukan timbangannya. Setiap tindakan akan menemui konsekuensinya. Setiap keputusan akan selalu ada penyesalannya.
Dan, takut semakin membesar setelahnya. Meski tak pernah siap dengan segala konsekuensi, nyatanya dosa tetap dilakukan, bukankah harusnya siap menerima konsekuensinya jika akhirnya tetap memilih melakukan sebuah dosa?
Manusia itu menjawab “Tidak, aku tidak siap, tak pernah siap”. Lucu ya, haha

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Elegi Sang Tumbal;
"Aku tidak menghilang,
Aku dihilangkan.."
Rasanya seperti berdiri di tengah ruangan yang penuh cahaya, lalu seseorang dengan sengaja mematikan lampunya dan mengunci pintu dari luar. Namaku dihapus dari percakapan seolah-olah aku adalah noda yang memalukan. Aku ada, aku bernapas, aku bicara, tapi mereka memutuskan bahwa aku tidak lagi nyata. Itu bukan sekadar ditinggalkan; itu adalah pembunuhan karakter secara halus. Kamu tidak hanya kehilangan orangnya, kamu kehilangan hakmu untuk dianggap ada.
...
"Aku tidak pergi,
Aku dilepaskan.."
Ada luka yang menganga saat kamu menyadari bahwa selama ini kamu adalah satu-satunya yang menggenggam dengan jemari gemetar, sementara dia hanya menunggu waktu yang tepat untuk membuka telapak tangannya.
Ini bukan tentang perpisahan yang manis dengan air mata penuh haru. Ini adalah pengkhianatan terhadap kesetiaan. Kamu dipaksa menjadi abu bahkan sebelum apimu padam. Kamu dipaksa menjadi masa lalu, saat otakmu masih sibuk merencanakan masa depan.
Jangan pernah berani menyebut ini sebuah kepergian. Kepergian punya kaki untuk melangkah, punya suara untuk pamit, dan punya ego untuk memilih. Tapi aku? Aku tidak punya itu semua.
Dan kamu, jangan tanya rasanya..
Simfoni Tak Sama
Tak perlu mencuri pandang pada lintasan yang bukan milikmu, tiap telapak kaki memiliki peta dan rahasianya sendiri. Biarkan detak menuntunmu pada jalan yang telah digariskan, tanpa perlu merasa tertinggal oleh binar yang tampak di mata orang lain.
Menjadi rapuh bukanlah sebuah kekalahan atau tanda bahwa kau telah hancur, itu adalah bukti bahwa jantungmu masih berdenyut dengan hangat, bahwa kau adalah makhluk yang memiliki rasa dan batas yang nyata. Tak selamanya harus berdiri tegak menantang angin yang kencang.
Tanggalkan topeng yang memaksamu untuk selalu tampak pahlawan di hadapan dunia, tak ada kewajiban untuk memahat tawa saat batinmu sedang merintih perih. Kau berhak atas segala emosi yang hadir tanpa perlu merasa bersalah.
Sangat lumrah jika hari ini kamu merasa sedang tidak berdaya, karena keberadaan paling murni, duka adalah tamu yang sah untuk disambut. Hingga nanti kesiapan itu datang kembali bersama fajar yang baru.
Jujurlah pada lukamu, agar ia tahu cara untuk pulih.
Kamu dan orang lain sama.
kamu terluka, orang lain pun terluka. Semua orang memiliki lukanya masing-masing. Setiap hari menyiksa, setiap hari menumbuhkan sesak. Tidak hanya terluka, tapi juga sulit untuk melepaskan, sulit merelakan. Dan yang paling parah adalah menyalahkan apa yang terjadi atas jalan-jalan hidup, atas apa yang di alami.
Tidak ada yang tidak terluka, semuanya terluka. Tapi cara mengatasinya yang berbeda. Bahkan ketika bertemu orang-orang, lalu mengobrol santai, tidak ada yang tahu bahwa masing-masingnya memiliki luka. Dan luka itu dalam parahnya. Tapi ketika berjumpa, biasa saja, tidak menunjukkan reaksi. Dan yang terlihat adalah keadaannya baik-baik saja.
Padahal setelah pergi meninggalkan, masing-masing kembali berperang dengan lukanya masing-masing. Berperang dengan hal rumitnya masing-masing. Dan kalau bisa melihat, tidak akan ada yang sanggup. Bahkan merasa takjub, bagaimana seseorang bisa melewati hal-hal itu sendirian. Bagaimana masih bisa bernafas ketika dihantam ombak besar. Bahwa kalau diberi kesempatan untuk melihat, orang-orang yang melihat pun mungkin terkapar kesakitan
Kamu menyimpan luka, orang-orang pun menyimpan luka. Percayalah, setiap orang yang terlihat di depan mata pandai untuk menyembunyikan luka. Dan akan kembali menerabas luka itu setelah selesai berjumpa denganmu. Mereka akan kembali termenung, memberantas hal-hal rumit mereka, sebagaimana kamu.
Kamu terluka, orang lain pun terluka.
@menyapamakna1
Sebaik apa pun niatmu, akan selalu ada yang salah paham. Karena tidak semua orang melihat dengan hati yang jernih. Sebagian melihat lewat luka, sebagian lagi lewat prasangka.
Benar kata Ali bin Abi Thalib:
“Orang yang membencimu tidak akan pernah melihat kebaikanmu, meski kamu berbuat baik sepanjang waktu.”
Maka tugasmu bukan membuat semua orang mengerti. Tugasmu hanya menjaga niat tetap lurus, dan hati tetap tenang.
Karena pada akhirnya, yang tahu isi hatimu bukan mereka — tapi Allah.
"Memperlakukan manusia dengan benar jauh lebih bermakna daripada mengumbar ayat ayat suci yang tak pernah hidup dalam perilakumu."

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
– Jackie Wang
Be that penguin
Aku ingin hidup dengan ucapan selamat pagi di setiap hariku
Aku ingin hidup dengan segelas air putih yang selalu disuguhkan olehmu
Aku ingin hidup dengan menghirup semerbak dari leher dan tulang belikatmu
Aku ingin hidup dengan pelukan hangatmu di tengah derasnya hujan
Aku ingin hidup dengan tawamu meski dunia dipenuhi riuh pertikaian
Sayang, aku selalu ingin mencintaimu
Meski nanti, kamu sudah tidak bernyawa lagi
Soal Hidup dan Miliaran Manusia di Muka Bumi
Semesta tidak berpusat pada dirimu seorang. Kamu tidak perlu merasa berhutang atas kebahagiaan orang lain. Pun tidak selamanya orang lain membutuhkanmu untuk mendapatkan kebahagiaan yang ia idamkan.
Jerih payahmu ada batasnya, tapi keinginan orang lain tidak. Jangan habiskan dirimu untuk membahagiakan mereka yang bahkan tidak mau tahu seberapa besar luka yang kau tanggung demi melihat mereka tersenyum.
Kebahagiaan mereka bukan tanggungjawabmu. Sesekali tegaslah pada dirimu. Jika kamu berniat membantu orang lain, membuat mereka bahagia, sebelum kamu melakukannya pastikan bahwa kamu tidak sampai harus 'menyakiti' dirimu.
Memang, berbuat baik itu selalu menuntut pengorbanan, dan akan selalu demikian. Namun, kebahagian yang demikian itu hanya lahir ketika dilandasi oleh asas keridhoan dan tidak sampai menghilangkan hak, khususnya diri sendiri.
Maka dari itu, semesta tidak berpusat pada dirimu seorang dan pastikan bahwa kamu betul dalam keadaan 'siap' jika ingin membantu :)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
“Don’t kill flowers growing inside of you for someone who doesn’t appreciate the way you bloom.”
— Billy Chapata
Sankyu, Me
Setahun terakhir ini—barangkali dua, atau tiga—aku hidup dalam irama yang menggerus tenaga. Ketabahan terus-menerus ditagih, ditarik dari tubuhku tanpa jeda. Sampai-sampai aku lupa bagaimana rasanya bernapas dengan benar. Tapi dari luka-luka itu, tumbuh juga kedewasaan dan nilai yang tak bisa kupungkiri, betapapun tak sopan caranya.
Selamat, ya, masih bertemu kembali dengan waktu yang menandai kelahiranku. Kali ini, aku tidak lagi membenci tanggal ini. Terima kasih, sudah belajar menarik batas. Terima kasih, sudah belajar membedakan kasih dari kasihan. Terima kasih, sudah mau memahami bahwa menjadi baik itu mulia, tetapi menjadi utuh itu wajib hukumnya. Terima kasih, sudah jauh lebih percaya bahwa ini cara Tuhan menghaluskan tepi-tepi tajam dalam diriku—mengikis keras kepala dan ketakutanku. Terima kasih, ya, sudah belajar begitu banyak.
Sudahan, ya, kerasnya. Meski setahun ini penuh drama, pandanglah transformasinya.
Lahirlah kembali. Lebih cerdas, lebih jernih, lebih berani.
Kita rayakan semua nilai yang berhasil kita himpun selama ini, hari ini.