Depression
Aku bingung harus memulai dari mana, tegangan terlalu tinggi didalam benak dan hayalanku untuk saat ini. Mata sebelah kiriku sakit, tapi tidak ada bekas luka atau lebam disana, mungkin hayalan dan setiap detik aku memang rasakan atau benar-benar ada, entahlah...
Akhir-akhir ini aku merasakan jenuh yang teramat, fikiran dan hati seakan kompak untuk memusuhiku dan renggut keceriaanku. Semu sekali, aku melihat lorong panjang dan gelap dalam benakku, saat itu aku sendiri tanpa secuil cahaya redup maupun terang. Berandailah karna aku suka, tapi bukan yang saat sekarang ini.
Aku benci membahas aktifitas yang tengah ku lalui, jangan tanya apapun. Diruangan ini, dimeja dan komputer aku tengah berkutik untuk lekas selesaikan pekerjaan membosankan. Aku mengambil beberapa kertas untuk disalin dan ketika jumlah helai kertas yang diambil pas dengan hasil salinan, maka aku berpikir sebentar lagi aku akan mati. Iya benar, kerap sekali aku berandai tentang kematian ketika depresi seperti saat ini. Salah besar dengan mengetahui takdir lebih dulu dibandingkan Tuhan.
Salah satu hal kenapa aku suka disibukkan dengan kegiatan meski hanya mencari kutu kucingku. Saat sendiri dan melamun, aku terlalu pengecut untuk melawan fikiran yang sepertinya ingin sekali aku mati. Dan buatku ingin marah pada semua orang. Rumit terlau berprasangka buruk tentang diri dan takdir, aku benci mengatakan iya, tetapi memang benar iya. Mereka bilang enak menjadi aku, ah sial, tidak sama sekali. Aku buta rasa untuk bisa menerima tekanan, aku tuli rasa untuk mendengar setiap bentakkan orang. Aku benci dan bosan untuk mengingat kematian lagi.
Aku ingin sehat, tapi penyakit apa yg ku derita? Terlalu hebat sampai sekarang aku memikul ini sendiri tanpa ada yang tau, dan hanya diwakilkan tulisan ini yang buat pembaca akan malas dari melirik kalimat pertama karna terlalu membosankan. Tak apa, biarlah sejadinya saja aku sedikit membuka borgol yg selama ini ku tangguhkan.












