Aku yang tak mengertimu atau kau yang belum cukup percaya padaku?
— Kanopi, GD2
Not today Justin
Mike Driver
tumblr dot com
he wasn't even looking at me and he found me
Game of Thrones Daily
ojovivo
trying on a metaphor

pixel skylines

JVL
Cosimo Galluzzi

TVSTRANGERTHINGS
styofa doing anything

shark vs the universe

One Nice Bug Per Day

祝日 / Permanent Vacation

Janaina Medeiros
sheepfilms

titsay
seen from Russia

seen from T1
seen from Germany
seen from United States
seen from Finland
seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye
seen from Türkiye

seen from Azerbaijan

seen from United States

seen from Canada

seen from Spain
seen from T1

seen from T1
seen from United States

seen from T1
seen from Japan

seen from United States
seen from Chile
@kyardh
Aku yang tak mengertimu atau kau yang belum cukup percaya padaku?
— Kanopi, GD2

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Andai Aku Bisa Abai
Setiap kali pesan darimu masuk di ponselku, aku ingin bisa menahan diri untuk tak segera membaca dan membalasnya; melatih diriku untuk menganggap bahwa kau bukan bagian penting yang aku tunggu.
Setiap kali tak ada kabar darimu berminggu-minggu aku ingin bisa menahan diri untuk tak menyapa lebih dulu; melatih diriku untuk menganggap bahwa ketiadaanmu bukanlah masalah besar bagiku.
Bagimu, tentu aku hanya penghangat bayang kosong di sisimu. Yang tak akan pernah kamu minta tinggal jika aku ingin pergi. Aku adalah pesan-pesan yang tak punya kesempatan untuk dibalas dengan euforia yang sama besarnya.
Bagimu, tentu aku hanya pengisi sepi dalam ruang hatimu yang begitu luas. Yang tak akan pernah mendapat tempat istimewa sebagai penghuni satu-satunya. Aku adalah perasaan-perasaan yang tak cukup indah untuk dijadikan sebagai kenangan.
Aku pernah berharap menjadi satu-satunya yang kau ingini, ternyata aku hanyalah satu-satunya yang bermimpi.
Aku pernah berharap menjadi satu-satunya orang yang kau anggap penting, tetapi ternyata hanya aku satu-satunya yang menganggap “kita"penting.
Aku ingin lari–sambil berharap semakin jauh aku mengayuh kaki, maka semakin tertinggal pula rasa keingintahuan akanmu. Bukankah semuanya akan lebih mudah jika aku pergi ke tempat di mana mata kita tak pernah bisa bertemu lagi?
Aku ingin menikmati hari–yang tanpa kamu. Aku sudah tidak lagi berharap akan ada sebait pesan singkat yang mampir di ponselku seterlambat apa pun itu. Bukankah kamu telah menganggap ‘kita’ sebagai kecelakaan tersedih yang pernah kamu alami?
Tapi, tidak apa, dalam hidup tidak semua cinta adalah kepunyaan. Jika dengan berjalan sendiri-sendiri membuatmu bahagia, maka pergilah. Kelak, aku pasti mampu mengenangmu dengan biasa-biasa saja.
Tapi, tidak apa, dalam hidup tidak semua akan terbalaskan. Seperti perasaan-perasaan yang telah kujaga lama nyala hangatnya ini. Karena, siapalah aku yang sederhana ini untuk kamu yang sempurna di mataku?
Aku ingin punya kesempatan mengabaikanmu, hingga kau menyimpan tanya dalam dirimu yang tak berani kau sampaikan padaku "kamu kenapa?”
Aku ingin punya kesempatan menghilang dari hidupmu, hingga kau menyimpan rindu yang tak berani kau katakan. Hingga kau diam-diam mencari tahu kabarku, hingga kau diam-diam memperhatikan seluruh gerak gerikku, hingga tak sengaja kau menulis namaku setiap kali kau kesepian.
Tetapi selalu saja, “hai, apa kabar?” darimu menghapus segala usaha. Seperti air mata yang diam-diam melunturkan tulisan-tulisan ini… Seperti langkah kaki yang diam-diam selalu memilih kembali; Seperti kebodohan yang kulakukan sekali lagi—dan lagi.
Tulisan ini ditulis bersama dengan kak @susyillona.
terima kasih sudah percaya sama mimpi-mimpi saya. terima kasih sudah percaya sama mimpi-mimpi kamu. terima kasih sudah percaya sama saya ketika tidak ada yang percaya–bahkan ketika diri saya sendiri tidak. terima kasih sudah percaya bahwa saya berharga dan saya bisa.
terima kasih sudah selalu menjadi semangat saya. terima kasih sudah selalu muncul di saat saya membutuhkan makna. terima kasih sudah selalu hadir di setiap musim.
terima kasih sudah menyayangi saya. terima kasih sudah menyayangi saya dengan cara yang kamu pilih. terima kasih sudah selalu mengawasi saya, membersamai saya saat dekat maupun saat berjarak.
akhirnya– terima kasih sudah memaafkan, menerima, dan melepaskan. selamat jalan. sampai jumpa bukanlah selamat tinggal. selamat jalan.
Seperti Lagu
Pada suatu hari, aku menemukanmu. Seseorang yang membuat hatiku tenteram hanya berkat kehadiranmu saja. Seperti lagu, aku tak ingin berhenti mendengarmu. Betapa musik dalam dirimu menggugah sesuatu dalam diriku; seperti perasaan yang dulunya terkubur kini menjelma harapan yang bersinar cerah.
Kamu mungkin datang begitu saja atau memang sengaja sudah disiapkan untukku. Tanpa bisa aku duga. Tanpa bisa aku cegah. Seperti lagu, lagu yang aku dengar sebelum kamu ada menjadi tidak menarik lagi sama sekali. Betapa lirik yang dikatakanmu memberikan sebuah makna baru untuk melewati hari-hari yang tidak selalu menyenangkan ini. Tapi karenamu, aku selamat.
Kamu membuatku kecanduan, karena kok waktu kamu tidak ada, aku rindu ya? Rasa-rasanya, ada yang tidak komplit. Seperti lagu, aku butuh untuk mendengarmu setiap saat, selama yang aku mau. Betapa nada suara yang dialunkanmu mengajarkanku suatu hal; bahwa bahagia itu bisa hanya sesederhana meletakkan percaya pada janji seseorang.
Namun, semua orang bisa jemu. Aku, kamu, kita tahu itu. Seperti lagu, muak bisa tiba-tiba menyerang. Pada suatu waktu, kegembiraan itu terisap. Aku berhenti mendengarmu dan kamu berhenti bersuara. Lantas, selebihnya sepi. Mungkin, aku hanya ingin menakar sehampa apa aku jika kamu tidak ada. Atau barangkali, bukan aku yang bosan, melainkan kamu yang butuh pendengar lain.
Pada akhirnya, kamu pun masuk ke dalam barisan lagu-lagu yang (pernah) aku favoritkan. Seperti lagu, orang-orang datang silih berganti ke dalam hidup. Ada yang berhasil menarik perhatian, ada yang sengaja dilewatkan saja, tapi ada beberapa juga yang disimpan, dan beberapa…dihapus. Dan di mana tepatnya letakmu, aku tidak ingin memberitahumu.
Aku selalu bilang; kamu seperti lagu. Tapi, kamu juga bukan seperti lagu. Karena ketika sebuah lagu berhenti, aku masih bisa memutarnya berulang-ulang kali. Namun, ketika kamu berhenti, aku tidak bisa memutar balik semua kenangan yang telah kita lalui. Aku tidak tahu bagaimana caranya membuatmu melihatku seperti dulu lagi. Dan, aku tidak punya daya untuk mengembalikan euforia yang kita rasakan pada awalnya.
Satu yang aku ingin kamu ketahui adalah; walaupun musikmu telah lama berhenti, walaupun mungkin aku telah lama lupa beberapa bagian dari lirikmu, tapi aku tetap bisa merasa tenang ketika mengalunkannya, meski hati yang tergerus pelan-pelan akan menjadi taruhannya.
Apa yang Kita Minati?
Sejauh ini kita lebih banyak melakukan apa yang orang lain inginkan untuk diri kita. Standar untuk diakui dan diterima adalah standar yang ditetapkan oleh orang lain. Untuk menjadi orang yang sukses kita harus memiliki prestasi di bidang matematika, ekonomi, fisika, atau olahraga. Atau kita telah menjadi karyawan tetap di perusahaan multinasional. Kemudian banyak orang menaruh kekaguman pada kita.
Prestise adalah perhiasan paling berkilau. Rasa-rasanya semua orang menginginkan nilai kesuksesan yang seperti itu. Hidup rasanya ringan dan tidak ada beban. Seolah-olah masalah tidak akan bisa datang.
Meski demikian, tidak setiap orang terlahir dengan bakat yang sama. Tentu ini sudah banyak dibicarakan oleh para ahli psikologi. Namun, masih saja kita terjebak dalam lingkaran setan yang sama: kesuksesan dalam arti keberhasilan meraih mimpi-mimpi bergelimang materi.
Sudah banyak pula kiat dan cara untuk mengatasi problem yang mendera kehidupan sebagian masyarakat urban ini. Sebagian ada yang berhasil, sebagian yang lain mengalami kegagalan karena berbagai sebab, seperti malas membaca, malas bertanya, atau malas menerapkan nasihat-nasihat yang ada.
Kendati begitu, sungguh beruntung sebagian orang yang melawan arus. Mereka menjauh dari hiruk-pikuk, lalu melakukan menurut kata hati mereka. Apa yang mereka peroleh? Tentu mereka tidak bisa memperlihatkan wujud kesuksesan mereka, sebab kesuksesan mereka berbentuk abstrak. Dengan kata lain, ia hanya bisa dirasakan. Dan barangkali bisa dibagikan lewat bahasa hati ke hati.
Lalu di bagian mana kita bertempat? Seperti apa kesuksesan menurut pribadi kita?
Apa yang hati kita inginkan itulah kepribadian kita sesungguhnya. Apakah kita akan melawan diri kita sendiri? Apakah kita menutup mata hati kita pada apa yang ia inginkan demi kesuksesan di mata orang lain?
Jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas ada pada kesunyian dan perenungan kita saat kita memiliki waktu untuk sendiri. Berhenti sejenak dan berdiamlah untuk mendengar apa yang hati kita katakan. Saat mendengarnya, ingatlah apa yang ia inginkan.
selengkapnya unduh di komidiputar.wordpress.com

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
KAMU BIASA SAJA
Kamu biasa saja.
Mana pernah aku menanti-nantikan kedatangan kamu setelah dua minggu kamu tidak menghampiri? Aku tidak penasaran ke mana kamu akan menghabiskan waktu setiap pekannya, jadi aku tidak perlu berusaha untuk menyisihkan waktu agar bisa ketemu kamu.
Kamu biasa saja.
Makanya, waktu kamu tidak ada, aku tidak rindu. Aku selalu menganggap pertemuan kita sama seperti aku bertemu dengan teman lainnya; ya biasa saja. Sama sekali tidak ada debar-debar lugu atau perasaan senang yang berlebihan.
Kamu biasa saja.
Aku bahkan sangat bisa mengabaikan chat dari kamu, padahal aku sudah mendengar ada bunyi notif. Ya gimana, aku kan tidak menyetel nada dering khusus untuk kamu, jadi tidak ketahuan kalau itu kamu. Lagian, aku juga tidak berharap kamu akan mencariku di kesepian itu.
Kamu biasa saja.
Ya itu basa-basi saja sih kalau aku perhatian ke kamu; ketika aku memastikan kalau kamu baik-baik saja, atau waktu aku bilang ‘hati-hati ya’ pada setiap perjalananmu, atau pas aku ingatkan kamu agar tidak keseringan begadang. Karena, ya untuk apa? Kan kamu tidak istimewa.
Sekali lagi ya, aku cuma mau bilang; kamu itu biasa saja.
Dan aku tahu, bagimu; aku juga biasa saja.
Tapi, aku bohong.
Dan aku tahu, kamu tidak.
Perjalanan Melupakanmu
Aku memutuskan untuk berhenti. Membiarkan remah-remah kenangan yang pernah kita ciptakan, tersapu angin bersama gugur daun kering yang merapuh. Dengan gemetar kututup kotak memori yang berisikan keping-keping hati yang dulu sempat tersusun rapi, kini berantakan nyaris tak membentuk. Kita; simpul yang telah tandas, ingin segera aku kuburkan dalam-dalam di dasar segara perasaan yang kau tinggalkan.
Aku memutuskan untuk berhenti. Membiarkanmu pergi tanpa peduli telah menghancurkan harapku. Sedang aku harus mengemasi segala cerita yang pernah kita rangkai, menaruhnya di laci paling dasar dan menguncinya, agar tak lagi kubuka. Kuakui, melupakanmu bukan perkara mudah, terlebih ketika kenangan kita beterbangan seperti capung kala petang mencumbu senja; indah yang harus kuhentikan.
Aku dan kamu sempat menjadi kita yang melangkah seiring. Membunuh waktu dan rindu dalam riak tawa dalam ruang semesta tanpa batas. Hingga pada suatu ketika perpisahan mengalir dari birai kenestapaan. Beku; serupa gelas kaca yang kau biarkan menggigil dalam dekap musim dingin. Dadaku sesak, lidahku kelu. Ada hampa di sana yang sedang mempersiapkan diri, melepas ceria satu demi satu.
Air mataku gugur setiap kali kuingat kamu, setiap kali bayangan tawamu terlintas dalam anganku. Tidak lagi ada rindu sebagai alasan untuk jumpa denganmu, tidak ada lagi perjalanan untuk menuntaskannya. Kini dan selanjutnya, aku akan menanggung rindu sendirian, menikamnya dengan kejam. Meski akhirnya, jantungku layak terhunus pedang panas yang menyala saga. Tak apa, jika ini adalah jalanku untuk bahagiamu.
Pasca kepergianmu, ada yang harus berkali-kali kuhadapi. Sepi yang menggaungkan jerit nurani, pun dengan luka yang kian perih, dihujani derai yang mengalir dari sudut netra. Aku baik-baik saja, sejujurnya aku telah muak dengan pernyataan itu. Berulang kali kurayu diri agar mau berdamai dengan segala yang tersisa. Menyiapkan langkah untuk mengurungi perjalanan baru; perjalanan melupakanmu.
Pernah kamu bertanya, perihal apa yang bisa kamu lakukan untuk membuatku membaik. Berdoalah, berdoalah agar segala ingatan tentangmu segera terpangkas. Pun dengan aku sedang berusaha mengendalikan hatiku, menghapus aksara yang menyusun namamu. Menata kembali hari depanku yang tanpamu. Berdoalah untukku, dan aku percaya bahwa mengarungi perjalanan melupakanmu, aku mampu.
Semesta, 6 Juli 2017
@hujankopisenja - @gelangkaret
Timbangan Miring
Tak sadarkah kamu, bahwa timbanganmu miring sebelah. Dan parahnya lagi, miringnya ke arah yang salah. Sebenarnya atas dasar apa pertimbangan yang kamu ambil?
Lihatlah, kadar rindu yang aku rasakan terlalu berat untuk ditimbang. Tidak adil jika hanya secuil rindu yang kau takarkan untukku. Sudah rusakkah timbanganmu? Ketidakpedulianku mulai menghilang, dan aku lelah menjadi seseorang yang entah terlalu bodoh atau terlalu baik bagimu.
Aku sudah jengah dengan semua ini, aku tak ingin langkah kita seiring lagi. Tapi aku bisa apa? Aku terjebak dalam siklus kebodohanku sendiri.
Aku suka kamu - Aku mendatangi dan Kamu meresponku - Kamu menyamankan, kemudian berlalu - Aku terluka - Aku melihatmu tersenyum - Lalu, aku kembali menyukaimu. Begitu seterusnya.
Bandingkanlah aku dengan masa lalumu. Ia tidak pernah berjuang dan selalu menyalahkanmu, sedangkan aku tak pernah menyerah dan selalu membenarkanmu.
Atas segala ketidakadilanmu, aku selalu menujumu. Timbangan miringmu masih selalu aku maklumi. Mungkin bagimu, aku lebih baik dilupakan saja. Tapi bagiku, kamu dihukum saja. Karena mungkin aku tak benar-benar sanggup untuk melupa.
terinspirasi dari kak @kunamaibintangitunamamu
Ruang Untukmu
Kau boleh datang dan pergi sesukamu. Tetapi kenanganmu dalam ingatanku, sudah bukan hakmu lagi. Pergilah, silakan temukan orang-orang yang kau anggap bisa lebih mencintaimu, lebih dari apa pun yang bisa kuberikan. Untukmu, telah kusediakan ruang tamu. Kelak jika nanti kau lelah, kembalilah, aku bersedia mendengarkan keluh kesahmu.
Benar katamu, bahwa aku adalah sebuah rumah. Kala itu, sempat ada ruang istimewa bersinggasana megah. Kunamakan ia hati. Tempatmu bertahta, tanpa perlu kata seleksi. Di sana kau menjadi ratu, dengan segala kewenangan merawat setiap detailnya. Menjelma cinta menjadi ornamen di setiap sudutnya. Siapa kira, ternyata kau jua yang mampu membuatnya hancur, serupa remah berserakan tanpa teratur.
Nyatanya segala apa yang istimewa nan megah tak lantas mengamini kau untuk menjadi penghuni tetap, masih ada rasa tak puas; itu yang kucoba simpulkan akan lakumu selama ini. Haruskah aku menuntut? Akan apa yang tak kau balas dengan semestinya? Kau membuat benakku dipenuhi dengan tanda tanya yang menyesakkan.
Aku mulai muak sekarang. Pergilah, bawa semua kenangan kita tanpa tersisa, bagiku mengenangmu sungguh menyakitkan serta mengundang kepedihan, biarkan aku terpuruk tanpamu.
Namun tak usah khawatir, perihal mencintaimu ada yang sudah kusiapkan sedari dulu. Sebuah ruangan tak terjamah masa dimana hanya ada kau disana. Jadi tak masalah jika ingin menetap atau sekedar singgah. Aku baik-baik saja, bahkan ketika kau pergi tanpa aba-aba.
Rumpun Aksara, Juni 2017
@ibnufir @duatigadesember @hujankopisenja @gelangkaret @ahmedfauzyhawi @biashujan @kotak-nasi @arian @risnasanbe @rayuanhujan @ariqyraihan @sitimasruroh @wangsadiredja @putrawhillyam @rizadwi @tigapuluhnovember @naskahsenja
Aku baik-baik saja, bahkan ketika kau pergi tanpa aba-aba.
Sudah Padahal Belum
Ada yang sudah merasa kehilangan, padahal belum sempat memiliki. Ketika itu mungkin dia sedang lelah dengan kesendirian, sehingga butuh hangatnya sebuah rengkuhan. Bukankah itu lebih baik, ketimbang dia harus terus-menerus merutuki hilangnya sesuatu yang belum dimiliki.
Ada yang sudah patah, padahal belum sempat jatuh. Ketika itu mungkin dia sedang rapuh. Sehingga benteng pertahanannya mudah sekali terkoyak hingga runtuh. Bukankah itu lebih baik, ketimbang dia harus luruh akibat remehnya sebuah gemuruh.
Ada yang sudah merasa ditinggalkan, padahal belum pernah sekalipun melangkah bersisian. Mungkin ketika itu langkahnya sedang tak ringan, sehingga butuh genggaman yang harus memapah langkahnya ke tujuan. Bukankah itu lebih baik, ketimbang dia harus kelelahan mengejar langkah yang memang enggan dibersamakan.
Ada yang sudah merasakan pedihnya sebuah perpisahan, padahal belum sempat mengecap indahnya pertemuan. Apalagi menikmati manisnya sebuah kebersamaan. Saat itu mungkin hatinya sudah terlampau lelah dalam penantian, butuh jeda sejenak untuk menapaki perjalanan. Bukankah itu lebih baik, ketimbang dia harus berhenti memperjuangkan segala bentuk kata semoga yang masih menjadi rahasia Tuhan.
Ada, memang akan selalu ada yang demikian. Merasa sudah merasakan suatu akibat padahal belum melewati sebab. Barangkali baginya hidup hanya untuk menjawab serangkaian proses sebab akibat, dan menganggap bahwa prasangka yang mampu menjadi tolok ukurnya.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Lucunya, ada yang lebih baik memilih menulis saja daripada mengucapkan langsung lewat mulutnya.
Menulis, memiliki jeda. Pilihan kata yang baik bisa dipilih dan diramu hingga seindah-indahnya, pun bisa dicatat bila sempat lupa.
Sedangkan berucap tentu tidak begitu. Bisa jadi apa yang ia katakan tak sebagus tulisannya. Bisa jadi ia yang lancar merangkai kata di jemarinya ternyata tergagap menyebutkan kata.
Terlebih, bila itu soal cinta.
Siapa yang salah? Aku dengan perasaanku, atau kamu dengan ketidakpedulianmu?
6:01 (via kyardh)
Nyatanya, kau takkan pernah bisa menyalahkan perasaan maupun keadaan.
Menyalahkan keadaan hanya akan membuatmu semakin tidak karuan, sedang kau tidak bisa menyalahkan perasaan begitu saja karena sejatinya perasaan itu ada untuk dihargai, bukan untuk disakiti.
Bagaimana bisa seseorang membutuhkan cinta, sedang di hidupnya sama sekali tidak mempercayai keberadaannya.
Pekalongan, 18 April 2017 06:22
Satu hal yang perlu kau sadari bahwa; setiap raga yang bernyawa juga berhak merasakan bahagia.
16 April 2017 20:09
Untukmu, Yang Dulu Pernah Kuberi Predikat 'Sahabatku'
Untukmu, yang dulu pernah kuberi predikat 'sahabatku' Terima kasih sudah menyadarkanku arti persahabatan, Bahwa ia memang tak seperti apa yang dikatakan orang-orang, Tak sama seperti yang aku bayangkan. Untukmu, yang dulu pernah kuberi predikat 'sahabatku' Katanya sahabat itu selalu ada, Katanya sahabat itu selalu mengerti, Katanya lebih baik mempunyai 1 sahabat daripada 1000 teman. Nyatanya apa? Semua itu bohong, Semuanya hanya omong kosong! Untukmu, yang dulu pernah kuberi predikat 'sahabatku' Untukmu, yang katanya akan selalu ada disaat aku membutuhkanmu Untukmu, yang dulu pernah berjanji untuk tidak akan pergi Terima kasih aku ucapkan. Terima kasih, sudah mengajariku banyak hal, Termasuk halnya sebuah penghianatan.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Terserah apa katamu, yang jelas aku begitu. Entah bagaimana kamu kepadaku, Terserahlah! Itu urusanmu. Sedari dulu kau memang tak pernah menganggapku ada, kan? Bukan aku, tapi perasaanku. Sedari dulu kau memang tak pernah menghargai apa yang telah kutulis untukmu; surat-surat itu, bukan begitu? Tak apa, untungnya aku senang menulis. Jadi aku tak merasa perlu untuk kau tahu. Semoga Tuhan lekas membalikkan hatiku, Agar objek tulisanku, Bukan lagi kamu. Terimakasih pernah bersamaku, Melewati hari-hari yang indah itu, Mungkin kau lupa atau apa, Sayangnya aku mengingatnya, Sama sekali tidak dengan terpaksa.
Sepertinya kamu memang tak akan pernah mengerti kenapa dan bagaimana segala sesuatunya terjadi.
Aku benci melihat mata itu. Aku benci menatapnya dengan terlalu. Sebab itu, akan semakin dalam aku terjatuh, terlebih kepadamu; aku tak ingin menjadi seperti itu. Yang sudah usai namun enggan untuk berlalu. Yang telah lalu, namun tetap menjadi yang nomor satu. Tak ada orang yang tahu, hanya aku dan imajinasiku. Bukan masalah aku atau kamu, tapi rasaku untukmu. Yang sudah lama ini kupendam agar redam. Yang sudah lama ini kusimpan supaya menjadi yang terlupakan. Kerap aku bertanya, Apakah kau rasa hal yang sama? Sudah lupa kah engkau atas semua yang telah kacau? Sedemikian cepat engkau melupakan, sedang aku disini tak pernah bosan untuk mengenang. Kadang aku merasa bodoh, bodoh sekali. Masih pantaskah aku mengingat seseorang yang entah berlabuh kemana hatinya sekarang? Sejauh-jauhnya aku melangkah pergi, Sekuat-kuatnya aku melupakan, Terus terang aku benci menjadi seperti ini, Entah apa yang membuatku tak pernah bosan, — Toh, tak ada cara lagi untuk membuatmu kembali. Pikirmu aku tak peduli? Tidak, aku bukan tak peduli. Hanya saja aku lelah. Dengan rasa yang tak pernah mau mengalah. Terlebih denganmu, yang sedari dulu tak pernah mengerti, Kenapa dan bagaimana segala sesuatunya terjadi. Tuhan mudah sekali membolak-balikkan hati, katamu. Adilkah jika hanya kamu yang merasa seperti itu? Lantas bagaimana denganku?
— Tidak, aku tidak memintamu kembali seperti dulu. Aku hanya ingin menceritakan sedikit tentangku; tentang aku yang tak pernah malu untuk berkata seperti itu. Aku rindu kamu, yang dulu.