3B Body Shaming, Bullying, BACOT
Sekarang mau menuangkan isi pikiran gua tentang kejamnya ketiga ini dan hubungannya sama kehidupan sehari hari yang orang bahkan gak sadar pernah melakukan ketiga hal itu. Dan sekali lagi ini adalah pendapat gua, apabila ada yang membaca dan tidak setuju dengan pendapat gua silahkan, isi kepala orang memang beda beda.
Body shaming, memberikan komentar atau kritik terhadap fisik sesorang misalnya dia gendut, hitam, jerawatan, giginya berantakan, dan lain sebagainya.
Bullying, tindakan menyakiti, mengontrol, menindas seseorang baik secara verbal atau non verbal/ fisik, misalnya memukul, membentak, mendorong, dan lain sebagainya.
BACOT (Bad Attitude Control of Tongue), kalimat kalimat yang tidak pantas dikeluarkan, banyak bicara, bicara dengan konteks kasar dan lain sebagainya.
Ketiga hal tersebut sangat berkaitan erat, dan menurut gua sekarang jadi konsumsi sehari hari baik sengaja atau pun tidak. Mirisnya sekarang banyak humor humor yang dihubungkan sama ketiga hal diatas. Tidak mengelak gua juga menjadi konsumen tersebut, memang terkadang menurut gua itu lucu, tapi akhir akhir ini entah kenapa semakin tidak etis bahan humornya.
Secara tidak langsung, bacot menjadi bullying di konteks verbal, namun terkadang orang tidak sadar dan berdalih “ah gua bercanda aja kok” tapi di sisi lain si korban bacot itu tersakiti hatinya malah mungkin bisa sampai down. Wow, tidak mudah untuk membuat orang bangkit kembali apalagi menyangkut masalah emosinya dan psiskisnya. Nah hal tersebut membuat sebagian orang keterlaluan dalam melakukan bacot dan mengarah ke bullying, namun hal tersebut anehnya malah dijadikan bahan jokes agar orang orang tertawa. Maaf saja, gua sendiri gak suka orang yang membuat jokes dengan menyelipkan kata kata kasar seperti ‘ah anjing aja lo emang’ atau ‘yeee lu nya aja lacur’ mungkin untuk sebagian orang itu lucu, namun untuk gua kalimat tersebut sangat tidak sopan dan tidak beretika untuk dijadikan bahan humor.
Ketika ada orang yang mendengar humor tersebut dan merasa bahwa dirinya disinggung padahal tidak, itu dibilang menjadi masalah orang tersebut. “ah gua kan gak maksud nyindir lo, lo nya ja baperan” Hey, alangkah baiknya menanggapi juga tidak seperti itu, dan apakah kalian tahu kalau kata ‘baperan’ pun bisa mengarah ke bullyingn verbal.
Oke ini nambah lagi B nya, jadi 4B Baper. Baper (Bawa Perasaan) kesensitifan orang yang mendengar suatu kata atau kalimat dan membuat orang tersebut tersinggung, over thinking, insecure dan lain sebagainya.
Apa hubungannya juga sama body shaming? yap kalian pasti ngerti hubungannya dimana, bacot mu saat mengomentari fisik seseorang yang punya kontek negatif atau bersifat menyindir akan membuat orang terebut baper, dari situ kalian melakukan bullying lagi. Banyak hal yang gua gak suka sekarang dengan konteks body shaming dan memang banyak orang speak up masalah ini, “gak boleh body shaming dong” kalimat ini banyak keluar dari mulut orang korban body shaming yang merasakan bullying verbal. Tapi yang paling menyebalkan menurut gua adalah ketika dia melakukan body shaming kepada orang lain, dia malah senang dan berdalih dengan alasan itu hanya bercanda.
Lagi lagi zaman sekarang berkomentar sudah hal yang mudah dan wajar, ya kaya gua gini bebas mau nulis apapun. Tapi ya tolong juga untuk kalimat dan konteks yang dikeluarkan atau yang diketik itu beretika dan beradab, walaupun itu menyangkut kisah orang lain yang emang kesannya layak untuk di ‘nyinyirin’ tapi isi pikiran tidak harus melulu dikeluarkan apalagi tanpa filter, dengan kata lain bacot *lagi lagi bacot*. Sebenernya beberapa kali gua melihat selebgram, selebtwit, youtubers yang punya kisahnya masing masing, punya daya jual yang mereka pilih masing masing untuk menarik viewers atau sebagai usaha mereka mencari materi. Gua pribadi merasa tidak masalah dengan konteks yang mereka buat walaupun kata orang dia ‘drama’ ‘cari sensasi’ ‘pansos’ dan apalah, itu pilihan mereka dan pasti mereka sudah tau apa yang akan terjadi dengan opini orang lain mengenai konteks yang mereka buat.
Nah contohnya ada selebgram pejuang jerawat yang ngasih tips dia saat berusaha menghilangkan jerawat, walaupun memang nyatanya jerawatnya belum hilang sepenuhnya. Di kasus ini ada aja komentar orang ‘urusin aja muka lu dulu, ancur gitu’ atau ‘ah pansos aja lu, cari duit lewat jerawat’. Contohnya lagi ada youtubers yang lagi usaha buat naikin rating atau pamornya dengan ngevlog namun karena menurut beberapa orang dia tidak indah secara fisik, apapun yang dia lakukan di mata beberapa orang itu aneh, bahkan gak pantes. ‘yaampun mukanya kaya ....’ ‘ngomong apaan sih, mulutnya/giginya gak ...’ *maaf gua lupa kalimatnya* coba liat komentar begitu apa gak sakit hati. Kalau si penyinyir ada di posisi dia pasti sedih, sakit hati dan sumpah sumpahin orang yang ngatain dia, tapi kenapa kalau ke orang lain enak banget ngomongnya ya? apa sudah tidak punya filter di otaknya? itu sih yang bikin gua bingung sama kebanyakan orang saat ini.
Udah komentarnya nyakitin begitu eh dipajang dimana mana seakan itu jokes yang wajar. Kenapa harus se bacot itu sih komentarin orang, kalau kalian nyinyir ya sudah kalian aja yang tau. Ujung ujungnya juga kalian akan body shaming walau dalam hati, dan tidak usah di publikasikan sampai jadi dark jokes. Dan sekarang yang gua liat mulut orang udah banyak yang gak terkontrol, termasuk saat mengemukakan komentar atau pendapat sehingga banyak orang yang ‘baper’ karena kalimat kalimat yang mereka keluarin. Dan jangan salah, lewat Bacot kalian itu bisa buat orang baper yang menuju ke arah bullying verbal, so hati hati sama kalimat yang kalian keluarkan.
Gua pribadi mengakui kadang mulut dan kalimat gua pun suka tidak terfilter, ya kita manusia pasti salah dan sering melakukan itu. Tapi alangkah baiknya kalau kita *gua termasuk* berpikir sebelum bertindak, posisikan diri dulu bagaimana kalau jadi dia. Ya balik lagi mengemukakan pendapat sekarang sudah bebas, jangan lupa untuk berusaha bijak dalam berkomentar dan mengatur kalimat yang akan dikeluarkan.
Sekian unek unek yang ada di otak gua, kalau beda pendapat silahkan saja. kembali kepada isi kepala orang memang beda beda.