cekleeeekâŚ.
Masih dengan suara yang sama, pintu dari gerbang ilmu sekaligus tempat singgah bagi para kalangan mahasiswa dengan gelar asisten praktikum. Prodase, sebutan untuk laboratorium yang menekuni bidang programming, database and software engineering. Masih juga dengan desain ruangan yang sama, 5 foto keluarga yang berjajar di dinding sesuai dengan urutan tiap tahun pada sisi kiri, dan beberapa buah komputer tepat pada bawah foto itu. Sisi kanan yang dipenuhi dengan sebuah papan putih bersih nan jarang digunakan. Sisi belakang yang dipenuhi jendela ukuran besar seakan ilmu terbuka lebar untuk mereka yang mau memandang dunia luar, ahh padahal kan digunakan untuk melihat-lihat mahasiswa atau mahasiswi lalu lalang nan enak dipandang. Dengan bau ruangan yang khas dampak karpet yang sudah usang lama tidak diganti atau dicuci.
âaku akan merindukan tempat iniâ â bisik Affan.
Lab terlihat masih sepi, padahal dibandingkan dengan tempat lain, Lab ini selalu yang paling ricuh. Sepertinya semua orang mulai sadar kenapa lab ini ditempatkan paling pojok dalam gedung. Affan menoleh ke arah jam yang menunjukkan jam 11 siang, dengan sedikit nyengir, dia paham bahwa sekarang masih pagi buat teman-temannya yang lain.
Affan mulai menyalakan AC ruangan, mengingat beberapa keringat mulai tampak dari akar-akar rambutnya. Dia telah berjuang berperang melawan sinar panas matahari saat perjalanan menuju lab. Affan mulai merebahkan badannya dibawah tiupan AC, dengan kedua telapak tangan yang digunakan sebagai bantal, dan aroma khas karpet yang perlahan mengantarkan dia ke masa-masa awal masuk Lab ini.
âHah? keterima?! kok bisa?!â â Affan tersontak.
âiya, harusnya kamu bersyukur, walaupun gak ikut sesi terakhir rekruitasi masih bisa keterimaâ â kata Emas saat berjalan menuju kamarnya.
Affan kembali duduk di kursinya, sambil menyilangkan kaki kanan diatas lutut kirinya, sesekali tampak membolak-balikkan amplop yang berisi pesan bahwa dia telah diterima menjadi asisten praktikum laboratorium Prodase. Sambil memegang dagu lalu mengetuk-ketuk dagunya menggunakan telunjuk tangan kirinya, dia memikirkan apa yang harus dia lakukan ketika menjadi asisten praktikum itu. Mengajar bukanlah keahliannya, dia selalu geram ketika seseorang yang dicoba untuk diajari tidak mengerti-mengerti. Mendaftar lab Prodase juga bukanlah keinginannya, dia hanya mendaftar karena iseng dan tidak ada motivasi tinggi, itulah yang membuat dia tidak mengikuti proses tahap rekruitasi kali ini.
Bunyi getar dari hp Affan, ada sebuah SMS masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Selamat malam teman-teman,
Saya ucapkan selamat bagi teman-teman yang diterima untuk bergabung di keluarga Prodase. Semoga bisa mengemban amanah dengan baik dan bisa saling belajar. Ini nomor saya, Ucil, Koordinator Asisten dari Prodase. Mau mengingatkan kalau hari minggu  akan ada rapat besar untuk seluruh asisten prodase, pukul 10. Jika ada yang berhalangan hadir silahkan menghubungi ke nomor ini.
âAhh kan, belum-belum sudah mulai memotong hari liburkuâ â Gumam Affan kurang tertarik.
Hari Minggu, tak seperti biasanya yang tidur bisa molor sampai siang, mandi pagi dan sore dirangkap menjadi mandi sore. Minggu kali ini berbeda, Affan segera bangun di pagi hari dan membangunkan Emas, bergantian untuk mandi, lalu bersiap siap untuk berangkat rapat besar. Dengan gaya kasual biasanya, jaket hoodie abu dengan dalaman kaos berwarna gelap lalu celana cino yang juga berwarna gelap. Affan masih merasa harap-harap cemas, tidak menahu apa yang akan terjadi hari ini, dia malu, apa yang harus dilakukan, malu tidak ikut tahap rekruitasi terakhir tetapi bisa diterima untuk masuk Lab Prodase. Dia mempersiapkan penampilan sewajarnya dan seadanya yang menandakan itu adalah dirinya. Ketika semua sudah siap Emas dan Affan berangkat, dengan motor Tiger model tahun 2005 termasuk cukup tua untuk menanggung beban 2 manusia besar ini.
9.45.
Affan dan Emas sudah datang di ruangan bertandakan C223, ini adalah ruangan Prodase, tempat yang akan menjadi coretan besar di buku perjalanan perkuliahan dari seorang Affan selama 4 tahun. Semua asisten sudah berkumpul duduk di karpet usang warna cokelat, membentuk huruf U, seakan semua sudah tahu akan kemana perhatian mereka akan tertuju saat rapat dimulai. Kak Ucil, perawakan tinggi kurus berkacamata tebal, dengan poni rambutnya sepanjang dahi dibiakkan ke arah kiri. Orang yang pertama kali melihatnya tidak akan percaya bahwa dia adalah pemimpin dari 50 asisten dan bertanggungjawab atas jalannya 8 praktikum dalam kurun satu tahun.
Kak Ucil mulai menyalakan laptopnya yang telah disambungkan dengan proyektor menyala, berdiri di depan sebuah layar tempat bersandarnya cahaya dari proyektor. Dibantu oleh temannya Kak Haqi sebagai operator, yang akan menggerakkan arah dari slide presentasi sesuai dengan perjalanan rapat itu.
âOke gais, waktunya rapat dimulai, silahkan duduk yang nyaman dan diperhatikanâ â Dengan suara dari Kak Ucil yang lantang, tidak sesuai dengan badan kurusnya.
Semua asisten diam dengan pandangan langsung tertuju pada arah yang sama.
âSebelum dimulai, marilah kita berdoa terlebih dahulu sesuai dengan kepercayaan masing-masingâ â lanjut dari Kak Ucil, sebagai penanda bahwa rapat dimulai.
âOke, jadi hari ini kita kedatangan anggota keluarga baru dari angkatan 37, nah kan tak kenal maka kenalan, silahkan buat teman-teman yang baru bergabung untuk bisa memperkenalkan diri, berdiri ya, sebutkan saya nama lengkap, nama panggilan, asal kota, asal kelas dan alasan masuk Prodaseâ â Kata dari Kak Ucil setelah memberhentikan doa.
âBisa dimulai dari kamuâ â Kak Ucil yang langsung menunjuk pria berkacamata yang memakai jaket Hoodie berwarna abu, Affan.
âAduh mati aku..â â gumam Affan yang ingin menaruh mukanya di saku.
Semua perhatian langsung tertuju pada Affan, terdengar sesekali juga ada yang berbisik-bisik, hal yang wajar untuk seseorang yang bisa masuk dengan tidak mengikuti tahap terakhir pada rekruitasi.
Affan mulai berdiri, dengan memaksakan untuk percaya diri melupakan sejenak apa yang dikhawatirkan selama ini dan mengatakan apa adanya.
âAssalamualaikum warrahmatullah wabarakatuh.. emm.. nama saya Affan Abdullah, biasa dipanggil Affan, asal kota Malang, kelas SI-37-01, dan alasan saya masuk Prodase adalah menjadikan Prodase sebagai media saya untuk belajar dan mengajarkan ilmu, sekian terima kasih. Wassalamualaikum warrahmatullah wabarakatuh.â Jelas Affan yang langsung disusul dengan duduknya.
Bagi Affan alasannya walaupun terkesan biasa tetapi tidak untuknya, mengajarkan ilmu bukanlah hal yang dia bisa, bukan karena dia pelit akan ilmu, tetapi karena sebelumnya dia yang selalu gagal dalam membuat orang yang diajarkan mengerti maksud apa yang disampaikannya.
Satu persatu, silih berganti tiap asisten baru memperkenalkan dirinya. Setelah semua perkenalan sudah selesai, Kak Ucil melanjutkan berjalannya rapat besar. Mulai dari rencana yang akan dilakukan dalam satu Semester, persiapan pada setiap praktikumnya dan rangkuman-rangkuman hasil rapat dengan Fakultas mengenai perkembangan praktikum.
Affan memperhatikan Kak Ucil dengan baik, mulai dari gerakan tangannya yang selalu menjuru kesegala arah secara bergantian sampai bagaimana cara berjalan berpindah tempat dan jeda pada setiap materi disampaikan. Terkagum penjelasannya akan rapat dengan fakultas dan cara dia menangani Lab dengan 8 praktikum, 50 asisten dan tanggungjawab atas ilmu pada ratusan mahasiswa lain di setiap praktikumnya.
âMas, liat ya, walaupun aku masuk sini dengan awal motivasi sedikit, tapi aku akan bisa menjadi orang yang berdiri menggantikan Kak Ucil itu, hahahaâ Bisik Affan kepada Emas dengan terkekek disela rapat.
âyaa terserah kau ajalahâ Jawab Emas dengan pandangan kurang tertarik.