Cerita ini hanya fiktif belaka...
"Nin! congrats yaaa! Akhirnyaaa kelar jugaaa kuliahnya..." Satu persatu ucapan selamat dan pelukan hangat dari kawan, kerabat, dan sejawat ku terima di hari bahagiaku ini.
"wahh, akhirnya ya Nin.. Habis ijasah, ijabsah boleh nihh. Udah ada calon belom Nin?" pertanyaan yang belakangan mulai mengusikku itu terdengar juga akhirnya.
"jangan-jangan, Doi ada di sini juga Nin?" pertanyaan Sita lebih iseng lagi, tak habis pikir, bisa-bisanya dia bertanya begitu di depan kedua orangtuaku di hari wisudaku.
"Sita, jangan mulai deh. Dia siapa? Lu tahu sendiri kan, Anin buat tidur aja suka nyuri nyuri gitu. Laporannya bertumpuk. Deadline ga selesai-selesai. Calon dari mana? Main sama kita aja ga pernah." Kali ini ucapan Dewi mengundang tawa, membuatku terselamatkan dari situasi ini.
Hari ini selesai sudah masa pendidikan panjang yang ku tempuh. Perasaanku campur aduk. Senang, bahagia, haru sekaligus sedih menyatu. Sedih? Ya, hari ini sekaligus menjadi akhir perjalanan dengan teman-teman satu angkatan yang sudah sangat baik padaku sepanjang masa pendidikan kami.
Tamu-tamu sudah mulai pulang, kawan kerabat dan kolega sudah kembali ke rumah masing-masing. Bersisa aku, Papa, dan Mama. Bang Bayu dan keluarga kecilnya juga sudah pulang ke rumahnya.
"habis ini mau ngapain Nok?" Pertanyaan Papa satu ini, pertanyaan yang paling sulit untuk ku jawab.
"Anin masih menunggu panggilan beasiswa Pa." jawabku, duduk di sebelah Beliau, ku pijit ringan kaki dan tangan Papa.
"mau lanjut kuliah lagi to Nduk? Apa ndak capek?" kali ini gantian Mama yang bertanya kepadaku.
"hehe, mumpung masih ada rezeki Ma... Mana tahu memang rezeki buat belajar lagi..." jawabku, aku berhitung, pada pertanyaan ke berapa kiranya pertanyaan itu akan kembali datang.
"ya..bagus.. Semangat buat belajar itu bagus... Mama dukung kok, Papa juga dukung banget... Tapi Nduk..." pertanyaan Mama belum selesai, Papa menepuk pundak Mama, memberi kode untuk menghentikan obrolan ini.
"yaudah Dek, gapapa. Papa dukung sepenuhnya keputusan Anin." kata Papa.
Pehitunganku salah, malam itu, pertanyaan tentang itu tidak muncul di obrolan kami.
Aku pamit dari kamar Papa-Mama, masuk ke kamar ku.
Ku buka smartphoneku, seharian menerima tamu keluarga besar di rumah, tak sampai hati untuk sekedar asyik sendiri dengan smartphoneku.
Tanganku men-scroll aplikasi chat utama yang ku gunakan saat ini.
"Anin selamat ya." tertulis sebuah chat yang membuatku berpikir, kenapa ini orang tumbenan ngechat.
Ku lirik jam di dinding kamar, pukul 20.05, masih jam sopan untuk membalasnya. Didikan Papa Mama, aku tak terbiasa membalas chat di atas 21.00, kecuali penting dan mendesak. Kecuali kolega dekat dan keluarga.
"thankyou yaa." ku tulis di layar smartphoneku, send.
Centang dua. Tak lama kemudian centang dua berubah menjadi centang dua biru. Bintang is typing. Tertulis di layar smartphoneku. Cepat sekali, batinku.
"habis ini mau ngapain Nin?" muncul balasan dari nya. Sebuah pertanyaan yang membuatku semakin berpikir.
Kami bukan kawan dekat. Tak pernah satu sekolahan. Dan aku bahkan lupa bagaimana cara kami bisa kenal.
Ku matikan mobile data smartphoneku. Pertanyaan yang seharusnya tidak langsung ditanyakan.
Tidak, bukan saat ini. Aku, belum selesai dengan urusanku.
Cerita ini hanya fiktif belaka
Semarang, 17 Sept 19 | FadhilahNF