Tadi pas baca nemu ayat ini:
لنا أعمالنا ولكم أعمالكم..الآية
Artinya kurang lebih kek gini:
Aku lakukan apapun sesukaku, dan kamu lakukan apapun sesukamu.
Intinya, TERSERAH.
_
Cosmic Funnies
Xuebing Du
Today's Document
Stranger Things

pixel skylines
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
ojovivo
occasionally subtle
h
Game of Thrones Daily
Not today Justin
Sweet Seals For You, Always
noise dept.
Claire Keane

roma★
Misplaced Lens Cap
hello vonnie
I'd rather be in outer space 🛸
$LAYYYTER


seen from Canada
seen from Peru

seen from United Kingdom

seen from Argentina

seen from United States

seen from Singapore

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Brunei
seen from Luxembourg
seen from Ireland
seen from United States
seen from Indonesia

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Netherlands

seen from Malaysia
@iaskiaz
Tadi pas baca nemu ayat ini:
لنا أعمالنا ولكم أعمالكم..الآية
Artinya kurang lebih kek gini:
Aku lakukan apapun sesukaku, dan kamu lakukan apapun sesukamu.
Intinya, TERSERAH.
_

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
-
Setidaknya aku tau,
Bahwa kau memperhatikanku.
Tapi terlalu gengsi tuk mengaku.
-
Hanya ingin memastikan, pantaskah kau kuperjuangkan?
-
Berubah karna sudah patah.
Aku hadir.
Aku hadir untuk didengar
Aku hadir untuk mendengar

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Jangan-jangan.
“…(Coba sehari saja) coba satu hari saja kau jadi diriku(Kau akan mengerti) kau akan mengerti bagaimana ku melihatmu..”
Tulus - Tukar Jiwa
Datangnya era teknologi masa kini berhasil mendorong segalanya menjadi lebih cepat, pun lebih mudah. Manusia dibuatnya makin tangkas. Lewat smartphone contohnya, segalanya jadi mudah untuk dilakukan : Pesan makanan lewat GoJek, bertukar kabar via grup Whatsapp keluarga, mengabadikan momen lewat Boomerang hingga memicu keributan di media sosial.
Kemajuan tersebut seperti anak panah yang siap untuk dilepaskan. Bisa nyasar, bisa tepat sasaran. Tergantung siapa yang memegang panahnya. Sadar atau tidak, para anak muda nya pun jadi bagian dari kemajuan tersebut. Mereka adalah para agen perubahan (katanya).
Namun di era yang serba maju ini, nyatanya tidak diikuti dengan kemajuan pada kedewasaan pikir di kalangan anak mudanya, dalam hal ini adalah mahasiswa. Banyak kegaduhan dan perdebatan sesama mahasiswa yang nampaknya semakin tak berujung. Perdebatan di warung-warung kopi, sekretariat lembaga mahasiswa hingga kolom komen postingan yang sedang viral.
Perdebatannya tak jauh-jauh dari saling tuduh, saling menyalahkan, saling merasa benar, dan berbagai hal-hal yang melukai solidaritas dan nilai-nilai intelektual di antara mahasiswa itu sendiri. Momentum yang terbaru adalah Aksi Nasional 20 Oktober lalu dalam rangka menyampaikan Evaluasi Kinerja Presiden Jokowi selama 3 tahun. Niat yang luar biasa luhur, namun tercederai oleh kericuhan di ujungnya, hingga penangkapan beberapa teman mahasiswa yang disinyalir bertanggungjawab atas kejadian tersebut.
Melewati batas waktu aksi yang diperbolehkan berdasar Undang-undang yang berlaku kata beberapa orang.
Presiden merakyat kok takut sama rakyatnya sendiri yang mau menyampaikan aspirasi kata sebagian orang lainnya.
Pelik.
Lalu, Salah kah mahasiswa yang aksi?
SALAH LAAAAH! Aksi kok sampe ngelewatin batas waktu. Situ mahasiswa tapi ga paham Undang-undang?
Benar kah mahasiswa yang aksi?
BENER DOOOOONG! Pak Presiden harus diingatkan akan janji-janjinyaaaa!
Salah kah mahasiswa yang aksi?
GILA AJAAA! JELAS SALAH! Mendingan lu beresin kuliah lu baru deh jadi politisi. Macem-macem aja tingkah lu.
Benar kah mahasiswa yang aksi?
YAAAA BENER! Kalau bukan Mahasiswa yang menjadi Agent of Change, siapa lagi yang mau mengingatkan Presiden?
Salah kah mahasiswa yang aksi?
SALAH PAKE BANGEEET! Kajian lu cuy, kagak jelas, eskalasi isu ga ada. Kacau deh. Mending balik aja sono ke kampus dicariin dosen pembimbing tuh.
Benar kah mahasiswa yang aksi?
YAKIN PASTI BENERRRR! HIDUP MAHASISWA, HIDUP RAKYAT INDONESIA!
……Begitu terus tanpa ada habisnya
Mendebat masalah teknis tentang aksi kemarin tak ubahnya perdebatan mana yang duluan antara ayam dulu atau telur dulu. Ra uwis uwis.
Karenanya, ada hal yang sesungguhnya jauh lebih besar dari perdebatan akan aksi minggu lalu yaitu tentang bagaimana perjuangan ini setelahnya?
Memperjuangkan teman-teman yang “dihabisi” saat aksi kemarin?
Boleh.
Terus mendesak Presiden untuk memenuhi poin tuntutan pada aksi yang lalu?
Bisa juga (bahkan wajib dilakukan rasanya).
Tapi coba lihat lah dengan kacamata yang jauh lebih besar dan hati yang lebih lapang. Memandang lah lebih luas bahwa banyak hal lain di belakang itu semua.
Ada yang aneh saat gerakan mahasiswa terlihat sepi-sepi saja, padahal gerakan tersebut memperjuangkan keadilan sesama.
Ada yang salah rasanya saat ada mahasiswa yang sedang bergerak demi kebenaran sementara kelompok lainnya habis-habisan mencela.
Ada yang membingungkan tatkala tiba-tiba muncul sebuah aksi yang mengatasnamakan mahasiswa dan membela keadilan, namun hati kecil berbisik, “Apaan sih ini? Gue gak merasa terwakili sama sekali.”
Mahasiswa bergerak tak lagi seperti lidi-lidi rapuh yang bersatu menjadi sebuah kekuatan yang lebih besar, tapi tak lebih dari pecahan kaca yang berserakan. Sendiri-sendiri.
Ada yang lebih besar daripada itu.
Lembaga mahasiswa dan berbagai gerakan mahasiswa lainnya yang eksis sampai hari ini nyatanya telah melewati berbagai macam tempaan dan ujian di setiap masanya. Orde Lama, Orde Baru hingga masa Reformasi pada hari ini. Berhasil lolos dari ujian tersebut, tapi kebanyakan justru jadi susah move on. Terjebak nostalgia kalo kata Mbak Raisa. Akhirnya apapun yang dilakukan lembaga mahasiswa, seolah ada sebuah kiblat paten yang “Harus seperti ini banget biar kaya dulu-dulu.”.
Padahal tidak hanya yang sepemikiran denganmu yang perlu kau perjuangkan dan kau naungi. Ada bermacam kids jaman now dan children yesterday afternoon yang perlu diakomodasi agar terwakili juga kepentingannya.
Jangan-jangan kita lupa bahwa setiap 1 orang yang mendukung, akan selalu ada 5 orang yang menolak. Begitu kata guru saya. Bukan hanya jadi mati-matian memperjuangkan yang 1 saja, lalu kemudian melupakan 5 lainnya. Namun pilih lah jalan yang mampu memudahkan semuanya.
Sulit, tapi bukan ndak mungkin.
Apatisme juga sedang asoy merasuk sendi-sendi perjuangan mahasiswa. Lu lu, gua gua. Dewe dewe ae. Apatisme layaknya ulat yang siap menggerogoti dan membuatmu membusuk. Ruang-ruang diskusi semakin sepi karena segalanya sudah tersedia di Line Today. Inovasi ajakan bergerak kreatif kekinian hanya dipandang sinis. Kegiatan mahasiswa dilihat sebatas formalitas menggugurkan program kerja. Mahasiswa kan tugas nya kuliah, lalu lulus, lalu bekerja. Kegelisahan mahasiswa aktipis kebanyakan dirasa bukan menjadi sebuah masalah. Tidak mewakili suara hati katanya. Ngeri.
Mahasiswa semestinya secerdas namanya. Jangan mudah emosi atau terpantik.
Mahasiswa harus menunjukkan kelasnya sebagai kaum intelektual yang punya tanggung jawab besar akan masa depan bangsanya. Lebih peduli.
Mahasiswa sebagai role model orang-orang terdidik dengan segala harapan orang banyak yang menggantung di pundaknya.
Mahasiswa bukan kaum sumbu pendek. Mahasiswa harus paham medan tempurnya. Keras, panas, penuh dengan intrik dan tipu-tipu.
Atau jangan-jangan,
Ada yang lebih besar daripada itu?
Sadar kah bahwa mungkin mahasiswa hanya lah domba yang sedang dibentur-benturkan kepalanya? Kesakitan tanpa tau apa yang dilakukan.
Atau mahasiswa hanya lah gundu yang coba ditabrak-tabrakkan kepentingannya? Supaya saling menyalahkan dan saling tak peduli. Sadar kah bahwa sesungguhnya ada yang lebih besar daripada itu?
Bahwa kita sepertinya kehilangan musuh yang sama? Langkah perjuangan yang sejalan? Pilihan bergerak yang seirama?
1928. Pemuda-pemuda sepakat bahwa kolonialisme adalah musuh dan tidak akan membawa bangsanya menjadi besar. Mereka perjuangkan kemerdekaan lewat deklarasi Sumpah Pemuda.
1966. Ketidakadilan hanya lah masa lalu, maka perjuangan atas nama keadilan adalah segalanya. Mereka sepaham untuk perjuangkan keadilan lewat Tritura.
1998. Tiada rasa yang lebih nikmat dari pada kebebasan. Terkekang puluhan tahun ternyata tidak membuat bangsa ini semakin dewasa. Bersama-sama mereka lakukan pendudukan gedung-gedung sentral di Ibukota sebagai wujud perlawanan. Penembakan beberapa aktivis hingga turunnya Presiden tercinta adalah tanda perjuangan bersama.
2017? Ternyata tak lebih dari perdebatan tak bermutu di dunia maya.
Jangan-jangan kita sedang melawan musuh yang tak nyata.
Kita sedang melawan musuh yang tak ada?
Jangan-jangan kita bingung sehingga hanya cela dan cemooh saja?
Kita bimbang hingga kesulitan mencerna keadaan?
Sadar kah?
Atau jangan-jangan hanya saya yang salah?
Ah, bodo amat lah.
Urusan pribadi saya juga masih banyak kok! Huft.
Another good point of view.
Cool, Aul!!!