Bersyukur
Bahagia itu kita sendiri yang mengukur.
Bukan dengan takaran orang lain. Bukan dengan menyamakan standar kebahagiaan diri ini sama persis dengan bahagianya orang lain, atau bahkan selalu lupa untuk bersyukur atas apa yang sudah diberi dan apa yang telah diterima.Â
â
Saya yakin orang tua saya ingin anak laki-lakinya ini bisa menjadi seorang pemimpin yang baik. Pemimpin untuk diri sendiri, pemimpin untuk lingkungan bekerja dan nantinya pemimpin bagi keluarga kecilnya. Itu lah kenapa orangtua saya selalu mengajari tentang bravery, self-judgment, maturity, decision-making, dan self-organizing. Hal-hal yang menjadi pondasi saya bisa menjadi pemimpin. Hal-hal yang memberikan rasa nyaman saat saya dipercaya menjadi pemimpin dalam sebuah kelompok atau organisasi.
Kenyamanan saya dalam memimpin itu lah yang membentuk karakter saya menjadi tegas dan cuek dengan orang lain. Banyak yang bilang bahwa saya keras kepala dan omongannya sulit dibantah. Haha. Lucu kalau mengingat bagaimana sulitnya orang lain berkompromi dengan saya, saat saya sudah yakin akan sebuah pendirian. Saya akan memilih untuk berdebat hingga dini hari daripada harus menerima sebuah keputusan yang saya yakini akan menimbulkan kerugian pada akhirnya. Saya termasuk orang yang selalu menggunakan logika dalam menyelesaikan sebuah masalah. Karena saya yakin, pengambilan keputusan akan selalu tentang mana yang lebih baik dan mana yang lebih buruk. Mutlak. Tanpa embel-embel melibatkan perasaan.
â
Tapi yang kemudian saya sadari adalahâŚ
Kebiasaan untuk memimpin dengan cara-cara seperti itu membuat saya sebagai pribadi kesulitan untuk berdamai bahkan dengan diri saya sendiri. Cara memimpin seperti itu terbawa hingga ke kehidupan sehari-hari, sehingga saya bahkan sulit untuk mengerti tentang apa yang sedang saya rasakan.
Ternyata semuanya pun perlu melibatkan perasan.
â
Dalam hal yang lebih personal, beberapa kali saya merasa gagal dalam menjalin hubungan dengan perempuan, ternyata juga karena sikap keras kepala, cuek dan egois saya tersebut. Saya rasa orang-orang tersebut tidak mampu mengimbangi diri saya. Bukan karena saya merasa jauh lebih baik, tapi orang-orang tersebut belum mampu memahami bagaimana diri saya seutuhnya. Saya akui dibalik sikap saya yang keras, ternyata saya orang yang cukup dependen. Saya butuh partner yang bisa mengimbangi saya. Saya butuh orang yang bisa mendengar dan mampu diajak berdiskusi. Saya butuh seseorang yang tidak hanya baik, tapi juga mampu mengisi.
â
Lalu kemudian dengan cara yang cukup unik saya bisa mengenalnya.
Seseorang yang berjarak ratusan kilometer dari saya. Seseorang yang masih sangat muda, tapi dengan pencapaian dan prestasinya sudah mampu menginspirasi banyak orang. Termasuk saya. Dengan segala keterbatasan kondisi yang ada saat itu, pada akhirnya saya berkenalan dengannya. Seseorang yang luas wawasannya dan punya mimpi yang besar.
Seseorang yang berbeda.
Baru kali ini ada seseorang yang bisa mengimbangi saya. Caranya menyampaikan pendapat dan pandangan di setiap diskusi menambah rasa kagum ini kepadanya. Tiap kali mendengar cerita dan pengalamannya, saya tertantang untuk belajar dan membaca buku jauh lebih banyak lagi. Melihatnya terus memacu dirinya untuk bisa mengejar mimpi-mimpi, berhasil membuat saya tidak mau tertinggal terlalu jauh.
Saya bersyukur bisa mengenalnya.
Bisa berjuang bersama katanya, hehe. Lewat cara-cara yang sederhana, kita bisa saling belajar.
Perlahan lewat kehadirannya, saya menjadi seseorang yang lebih bisa menempatkan diri. Saya menjadi lebih cair dalam menyikapi berbagai hal. Lewat obrolan-obrolan kecil dengannya, saya jadi lebih mampu memahami lawan bicara saya. Bukan hanya untuk memenangkan pendapat saya seperti dulu, tapi untuk menemukan kesepakatan bersama. Lewatnya saya belajar bahwa tidak semua masalah adalah tentang menang dan kalah. Lewatnya juga saya paham bahwa sesuatu bisa diselesaikan dengan cara yang jauh lebih baik.
â
Ah, memang bahagia itu kita sendiri yang mengukur.
Setiap momennya, setiap ceritanya.
Lewat perkenalan sederhana ini, saya lebih bisa memaknai hidup.
Terima kasih, ya.
Saya sadar kenapa pak Habibie butuh ibu Ainun saat berjuang.
Karena apabila cita-cita menjadi pemimpin yang baik tercapai, itu juga karena kamu yang menemaniku dalam proses belajar.
Bersyukur.
Terimakasih.















