Apa gunanya iri pad keberhasilan orang lain jika yang kau lakukan hanya meratapi?
Mengapa aku tak bisa menjadi dia?
Mengapa langkahku tak cukup cepat untuk berada di tempatnya?
Mengapa hatiku tak mampu untuk menorongku melangkah lebih jauh?
Kendala apa yang aku punya?
Apa karena orang tuaku yang membatasi keinginanku?
Apa karena orang tuaku yang kufikir tidak menyadari bakatku?
Apa karena ornag tuaku yang anggapku tidak mendukung minatku?
Apa karena orang tuaku yang selalu tidak setuju dengan langkah yang kuambil?
Apa karena orang tuaku yang tidak memberiku sayap dan merantai satu kakiku?
Semua pertanyaan-pertanyaan yang percuma karena tak akan ada yang bisa menjawabnya. Meskipun aku memohon pada Tuhan untuk mengubah nasibku, Tuhan seakan menjawab dengan pertanyaan lain, ‘nasib seperti apa yang kuinginkan?’. Dan akupun tak bisa menjawabnya.
Meskipun aku dapat menghibur diriku sendiri dengan perkataan bahwa ada batasannya untuk segala sesuatu dan ada hal lain di waktu yang lain pula, tapi itu semua seakan tak cukup karena dunia di sekelilingku berubah dengan cepat.
Langit di atasku melenggang luas. tanah di bawahku bergetar keras membangunkan para pejuang.Â
Aku berada di tempatku, terbangun dan melihat ke arah langit.Â
Berdiri dan mengepakkan sayapku, menyentuh langit diujung jariku yang kemudian kurasakan kakiku berpijak di atas tanah lagi.