Aku bersyukur meski terlahir sebagai perempuan jawa, aku tidak perlu sesulit Kartini untuk bisa melanjutkan pendidikan, pun tak harus menikah di usia itu, seperti yg lagi rame dipromosikan. Bapak Ibuku sangat sadar bahwa pendidikan sangat penting, bahkan sering beliau katakan "Nggak tak sangoni harta, tapi tak sangoni ilmu". Kami dari keluarga biasa tapi toh tidak menciutkan nyali orang tuaku untuk menyekolahkanku di sekolah terbaik di Lamongan kala itu. Dan itu beliau lakukan sampai ke sekolah tingkat tinggiku.
Jika kuingat lagi, 19th ku penuh dengan warna. Itu adalah masa-masa sulitku karena tak masuk ke PTN impianku, bukan karena malas tapi kesenjangan akses dan pengetahuan barangkali. Aku juga masih sangat labil, tidak tau apa mauku. Jadi ketika diterima di UIN yg waktu itu belum keren2 amay, dan lintas jurusan (tdk seperti tmnku yg keren2) aku beranikan diri untuk membuang diriku yg lama yang pendiam dan penakut, aku coba ikut banyak UKM, memberanikan diri speak up dan aktif di kelas. Fase jatuh bangun ini adl fase yg amat aku syukuri.
Di usia 20an, sama seperti mbak kalis aku bekerja sembari kuliah.
Pagi ngajar paud, siang kuliah, sore ngajar TPQ malam masih ada ngaji dan kadang ngajar les. Bapak memenuhi semua SPP S2ku, tapi akupun belajar untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan sebisanya, hangout dan belanja seperlunya (temenku pasti tau 😆 beli lipstikpun tidak pernah karena bisa dipake makan bbrp hari) tapi toh aku bahagia. Malamnya guyon sama temen-temen pondok, masak-masakan bareng makan bareng. Kenikmatan yg tak bisa terulang.
Di umur 20an itu pula, gairah intelektual sedang tinggi-tingginya.
Aku ikut banyak kajian, workshop kepenulisan, membaca buku-buku yg aku sukai terutama sastra, bahkan kemanapun kudatangi kelas penulisnya (sungguh aku rindu dan heran bagaimana aku mencintai sesuatu sebegitu penuh jiwa raga), kala itu juga aku menulis buku bersama teman pondokku dan membedahnya di beberapa tempat. Masa-masa yang sangat aku syukuri pernah kumiliki.
Dan saat ini, aku belajar sesuatu yang lain yang juga baru. Aku belajar menjadi ibu dari murid-muridku. Tentu aku berharap dapat mengajari anak kandungku sendiri nanti, tapi aku bersyukur bisa lebih dulu merasakan pahit manisnya mendidik. Belajar nge gas nge rem nya ibu pada kekhilafan anaknya.
Aku juga belajar memberikan diriku sendiri cinta, masa-masa berat saat kuliah sambil kerja barangkali diganti saat ini. Jadi kalau aku upload main, biarkan, masa kuliahku ga pernah sekalipun ke pantai 😆. Aku belajar merawat diri, sekedar membeli buku, baju, lipstik, yg dulu aku tidak bisa. Mungkin sebagian besar temanku sudah menikmati mendapat nafkah dari suami, dicintai, mencintai anaknya dengan bahagia. Im trully happy for you.. Tapi aku juga tidak menyesali, karena tidak seperti kodrat wanita jawa yang nikah selagi muda. Guyon di kereta bareng mbak2, rujak an bareng, buat konten lucu bareng, bahkan sial bareng wkwk itu mgkin jatah nikmat yg sedang diberikan padaku saat ini.
Jadi, semua perempuan punya hak atas hidupnya, tapi jangan buat campaign yg menghalangi orang yang masih ingin belajar, ingin memperbanyak pengalaman, ingin selesai dulu dengan dirinya sendiri. Perempuan mau jawa mau arap cina apapun itu kesempataan saat ini sudah terbuka lebar, tidak seperti dulu, cari makna untuk hidupmu dan perjuangkan.