Niat baik, diganti baik
Kalau sesuatu itu sudah menjadi rezekimu, terkadang kamu diuji untuk melepasnya, tapi ia akan berbalik menujumu dengan cara-cara yang tak kau tahu.
Cerita ini hanya beberapa orang yang tahu.
Aku sudah sejak dua tahun lalu menginginkannya, "Pak Buk aku mau ikut umrohnya abah ya? Tak nabung ya?" Saat itu pikiranku sesimpel, mumpung uangku hakku sendiri, belum berpasangan. Dan beberapa kali pula Bapak dengan guyonannya "Loh Barangkali dapat rezeki diumrohkan pondok", saat itu selalu aku jawab, ah aku ini siapa, anak baru kemarin yang belum banyak berperannya, bismillah aku mau nabung aja!
Dan bukan aku kalau tidak banyak pemikiran menyeruak, Kalau aku berangkat duluan dari orang tuaku, apa tidak apa-apa? Kalau orang tuaku tiba-tiba harus melunasi haji, siapa nanti yang membantu? Dan suatu hari pertanyaan itu tanpa ditanyakan dijawab oleh salah satu gus saya. Bahwa kita harus mendahulukan yang wajib meski tidak terlihat pasti. Bahwa niat baik untuk orang tua kita pasti akan berbalas baik bagi kita.
Akhirnya awal tahun ini aku berusaha berkompromi dengan keinginanku sendiri. Separuh untuk menunaikan kewajibanku dan separuh untuk meringankan kewajiban orang tuaku. Keinginan untuk berangkat umroh itu masih ada tapi kubisikkan pada diriku sendiri, kita nabung lagi ya... barangkali 4 tahun lagi kekumpul.
Tapi Allah itu mendengar bisikan yang bahkan tidak berani untuk dijadikan doa. Tidak perlu 4 tahun, tidak perlu menabung, jika seluruh dunia bilang ngga mungkin, nggak mampu, tapi kalau Allah bilang mungkin dan mampu mau apa?
Hanya 7 bulan berselang, benar kata Ustadku dulu "Rezeki yang paling indah adalah yang Min Haitsu laa yahtasib, dari arah yang tidak disangka" guyonan bapak ibuku menjadi kenyataan. Bumi Shalawat memberikan reward prestasi padaku, dengan umroh sama persis seperti pamflet yang pernah kutunjukkan kepada orang tuaku.
Aku jadi mengerti bahwa dalam kondisi putus asa, dalam usaha kita berkompromi dengan keinginan kita dan kebaikan bersama, Kita selalu disaksikan, kita selalu diberikan balasan yang termanis yang bahkan tidak pernah kita bayangkan.
Terimakasih sangat besar untuk Bumi Shalawat, Abah Kyai Ibu Nyai, Ning Dawik dan Gus Burhan serta semuanya. Dalam doaku semoga dimampukan dan dilomankan seperti beliau beliau.
Tentu juga pada Bapak Ibuk dan adik2ku yang selalu mengimbangi sifat logis-pesimisku dengan doa-doa dan segala nasihat. Aku jadi yakin untuk teman2ku yang menginginkan hal sama dan kemarin meminta doa. Aku yakin Allah akan memampukannya dengan berbagai caranya yang selalu indah.







