Kadang film itu baru dimulai setelah semua adegan selesai ditayangkan. Film itu dimulai ketika ada reka adegan yang berputar-putar di kepala kita karena kita berusaha masuk ke dalamnya. Itu menurutku sih. Ada 5 film yang menurutku dimulai setelah filmya selesai diputar dan sampai sekarang masih berlangsung di otakku. Begitu menyenangkannya mengingat reka adegan film-film ini sampai bisa menimbulkan perasaan adem nan ayem yang aneh.
Anak milenial mungkin akan kesulitan memahami plot cerita dari film ini.. kayak “gimana bisa Annie dan Sam jatuh cinta?!”. Gini ya, kisahnya Annie dan Sam itu nggak sepeti Bella dan siapa tuh vampir… Edward!
Menurutku film ini menjadi sangat menarik untuk ditonton oleh seorang manusia yang sepanjang hidupnya tumbuh dan berkembang bersama teknologi. Masalah komunikasi antartempat yang sangat jauh tidak pernah jadi hal yang signifikan karena akses e-mail sudah gratis, telepon berjam-jam sudah murah, ada sms, ada beragam aplikasi chat yang masih getol berevolusi, dan sebagainya. Nah, bingkai cerita antara Annie dan Sam tidak mendapat warna kecanggihan teknologi di jamanku. Yap, di film mereka hanya mengandalkan radio untuk mulai jatuh cinta.
Kalau sampai hari ini masih banyak alay ribut masalah susah jodoh, jangan dipercaya! Tai kucing susah cari jodoh ketika kesempatan berelasi menjadi sangat tidak terbatas dengan media sosial, bahkan ada media sosial yang dirancang khusus untuk berkencan, apapun orientasi seksualmu!
Annie dan Sam tidak pernah minta untuk dicomblangkan. Sam yang baru ditinggal mati istrinya pun tidak pernah repot cari pengganti. Begitu pula Annie yang sudah bertunangan dengan Walter. Ketika mereka sudah nyaman dengan hidup masing-masing, Jonah, si anaknya Sam tidak merasa demikian. Mungkin begitulah cerdasnya generasi yang hidup dengan teknologi sejak dari orok, Jonah berusaha mengubah keadaan ayahnya dengan menelepon salah satu stasiun radio dan menceritakan betapa paniknya dirinya ketika si ayah hendak mengencani perempuan yang dibencinya. Tontonlah betapa lucunya dialog yang diucapkan Jonah di radio sembari menguping pembicaraan ayahnya di telepon dengan seorang perempuan. Dalam film Jonah mengucapkan: “A ho! A ho! My dad's been captured by a ho!” :D :D :D
Pucuk dicinta, Annie pun tidak sengaja mendengar suara si Sam di radio (aku nggak akan cerita detil sih rentetan ceritanya bisa sampai di titik ini, liat sendiri laahh hihihi). Sam saat itu menggunakan nama samaran Sleepless in Seattle karena ia berada di Seattle dan mulai mengalami kesulitan tidur sejak istrinya meninggal. Uniknya, mereka belum pernah bertemu, namun pada suatu titik Annie bisa menduga ucapan Sam selanjutnya di radio: Magic. Aihhh… ini kalau di tahun 90an ya jadi adegan yang so sweet unch unch sekali :p
Balik ke soal teknologi yang suka semena-mena mengambil peran signifikan dalam kasus percintaan. Annie dan Sam terpisah jarak yang jauh. Sam berada di Seattle dan Annie berada di Baltimore. Ketika Jonah memilih surat Annie sebagai surat yang paling ia suka di inbox Sleepless in Seattle, bapaknya nggak terima. Sam menganggap si pengirim surat dari Baltimore yang tak lain adalah Annie bukanlah orang yang patut diperjuangkan, bahkan dipercaya. Bagi Sam, Baltimore berjarak 26 negara bagian (kalau ga salah dialognya gitu deh) dan ada kekhawatiran atas kemungkinan bahwa si pengirim surat adalah psikopat. Nah, di sini menariknya. Kalau jaman sekarang mah dicomblangin sama temen atau sama pesbuk, tinggal kepoin aja tuh calon di Google. Dicari aja jejaknya yang direkam di internet, mulai Instagram, Twitter, Path, Bigo, apa lagi noh.. kalau sampe curiga banget ya pasti di cari di Tinder.. ye kan?
The next thing that I love, film ini dibangun dengan beragam dialog yang asik untuk dikutip. Brilliant dialogues! Ini beberapa kutipan yang uhuy banget:
“Destiny is something we've invented because we can't stand the fact that everything that happens is accidental.“ – Annie Reed
“When a man is a widower why do we say he was widowed? Why don't we say he was widowered?” – Annie Reed
“I am NOT going to New York to meet some woman who could be a crazy, sick lunatic! Didn't you see Fatal Attraction?” – Sam Baldwin
Oh ya, karena aku hanyalah generasi milenial, mungkin aku nggak merasakan betapa nggak menariknya film ini karena si Annie terpengaruh banget sama film An Affair To Remember. Mungkin aku akan ngerti perasaan yang semacam KZL-BAT-DAH-GUA kalau film AADC memiliki posisi yang serupa An Affair To Remember di film percintaan masa depan.
Lihat trailer-nya di sini: https://www.youtube.com/watch?v=-Lj2U-cmyek
Oh ya, selain film yang bagus, soundtracknya pun nggak kalah bagus lho! Bisa streaming di sini: https://www.youtube.com/watch?v=WMe1YXGIyDM&list=PL3QK-FeOu2cdhVYqxp15_fev_zKHYXq5u
Baiklah, mungkin aku termakan mimpi-mimpi palsu nan tengik yang ditawarkan oleh industri perfilman. Tahu kan, mimpi palsu dan tengik ini masih bercokol di film-film cinta kacangan yang nggak ada bedanya dengan FTV. Iya itu, film-film yang kamu beli tiket bioskop untuk nonton FTV layar lebar.
Salahkan si brengsek Cinderella dan industri film yang melanggengkan cerita perempuan miskin yang ketiban duren runtuh berupa lelaki kaya raya dan mereka hidup bahagia selamanya. Mana adaaaaa…
Pretty Woman memang menawarkan kisah cinta yang hampir mirip dengan Fifty Shades of Grey… eh tapi minus stensilan dan BDSM-nya yak hahaha! Meskipun begitu, ada beberapa hal yang menurutku sangat menarik di film ini, yaitu pasangan Julia Roberts dan Richard Gere, (masih) ketidakhadiran teknologi yang canggih berlebihan yang dapat mendukung kisah percintaan, dan (last but not least) original soundtrack.
Mari mulai dari pasangan Julia Roberts (sebagai Vivian) dan Richard Gere (sebagai Edward) yang mendadak bikin orang baper. Ugh… karakter Vivian digambarkan sebagai perempuan muda yang cantik namun tidak beruntung. Masa remajanya yang kelam dengan kejam melemparkannya samapi ke boulevard of broken dreams: Hollywood. Vivian terpaksa menjadi pelacur karena kesulitan bertahan hidup dan terlalu malu untuk pulang kampung. Ya elah mbak vivi, kok ya kayak tulisan di belakang bak truk, pulang malu tak pulang rindu! Hahaha
Gini ya, sebagai perempuan yang menyukai laki-laki, aku juga ikut kesengsyem sama Julia Roberts sebagai Vivian dalam film ini. She looks so sincere. Plus, oh sweet Jesus, I want to have booty like her… unfortunately, I’m only end up like Sally on Nightmare Before Christmas -____- Ga percaya betapa dia terlihat sincere dalam film ini? Perhatikan saat adegan saat Vivian dan Edward ngobrol di ranjang! Lihat guratan otot wajah Julia Roberts di situ… heran, cuma gara-gara otot bisa kelihatan cantik banget :( why why why God why it wasn’t me hiks
Beranjak ke sosok Edward yang diperankan oleh Richard Gere… aih, ini kalau anak sekarang mah sukanya lihat yang kasar-kasar macem Mr. Grey atau Cullen gitu… Jaman dulu mah bisa ayem liat mas-mas yang kalem dan berambut putih non-uban hahaha! Yep, si Edward ini bikin baper abis! Meskipun terlalu hina untuk menyandingkan film ini dengan Fifty Shades of Grey, namun sebenarnya figur laki-laki yang ditampilkan kurang lebih sama: lelaki kaya raya jaya, berkuasa, suka ngasih hadiah, sanggup mengentaskan hidup seorang wanita miskin yang dipacari.
Okay, beranjak ke masalah teknologi. Sama seperti di film Sleepless in Seattle, film ini menampilkan suatu masa di mana teknologi belum secanggih sekarang. Buktinya, Edward dan Vivian bisa saling bertemu lantaran Edward nyasar nggak bisa balik ke hotel tempatnya menginap! That’s when they bumped into each other… hal sepele seperti ini akan terlalu cheesy di film percintaan kaum milenial seperti Fifty Shades of Grey (ah elah ini lagi!). Eh ga percaya, coba bandingkan! Di film ini, cara bertemu Vivian dan Edward yang tidak sengaja terlihat natural sekali, bukan dibuat-buat yang semacam keserempet, tabrakan, dan akhirnya saling bertatapan. Iyuhh! Coba bayangkan dengan masa sekarang yang kalau nyasar lebih milih tanya Google… kesempatan saling bertatapan secara tidak sengaja menjadi sangat minim atau hilang. Kalau mau dipaksain, yang ada ente dihina karena ga bisa baca peta! Salah-salah malah dikira pelaku gendam! Batal jatuh cinta lah… hahaha ngimpi!
Last, masalah soundtrack! Yep, sewaktu kecil aku ingat sekali betapa aku penasaran ingin nonton film Pretty Woman ini di televisi. Jam tayangnya malam sekali, kalau nggak salah jam 21.00 (malem lah ye buat bocah). Orang tuaku saat itu melarangku menontonnya, katanya belum cukup umur. Namun, rasa penasaranku juga belum luntur karena didera soundtrack yang selalu terngiang-ngiang: pretty woman walking down the street… (nyanyi sambil kumur air sikat gigi). Akhirnya, datanglah masa itu di mana orang tuaku menilai aku sudah cukup umur untuk nonton film Pretty Woman. Filmnya sendiri pun sudah mengalami sensor (meskipun sensornya nggak seabsurd sekarang sih sampe belahan tete aja diburemin -_____-). Tapi… namanya juga anak kecil, baru nontn film 30 menit sudah nguap dan minta tidur. Ya sudah… aku akhirnya lebih memilih tidur. Eh jangan kira pertarungannya sudah selesai, besok paginya aku masih didera video klip Roxette yang berjudul It Must Have Been Love di salah satu program MTV. Good old days…
Kedua lagu soundtrack itu masuk dalam repertoire lagu-lagu cinta dalam hidupku. Apalagi Roxette! Marie Fredriksson yang begitu mempengaruhiku… cuma rambutnya sih hehe seperti yang pernah aku ceritakan sebelumnya [Jangan Hakimi Rambutku]. Barangkali kedua lagu ini cuma untuk menambah semarak dan material promosi film, tapi bagiku soundtrack dalam film Pretty Woman mampu membuatnya menjadi utuh. Mendengarkan lagu It Must Have Been Love saja sudah mampu mengajak sendi-sendi tubuh kita untuk merasakan kembali atmosfer kisah cinta Vivian dan Edward. Lagu itu seperti sebuah foto kenangan bersama pacar pertama yang bila dilihat kembali bisa bikin senut-senut di ati… hihihi :3 :3 :3
Pasangan Vivian dan Edward bisa diintip di trailer ini: https://www.youtube.com/watch?v=Wzii8IuL8lk
Kalau mau dengerin soundtrack-nya di sini: https://www.youtube.com/watch?v=k2C5TjS2sh4
Barangkali banyak yang nggak familiar dengan film ini? Coba Googling, maka kamu bakal menemukan hasil pencarian yang menyatakan film ini sebagai film komedi. Kalau kamu sudah nonton, barangkali kamu akan bertanya-tanya mengapa kamu tidak tertawa sepanjang film. Ye nggak?
Komedi yang disajikan oleh film ini bukan komedi yang biasa dibawakan Dono, Kasino, dan Indro. Bukan juga yang dibawakan Doyok dan Kadir. Aduh gimana jelasinnya ya… komedi ini mungkin hanya dipahami oleh orang-orang daratan sono. Okeh, gini deh, kalau kamu jeli sewaktu nonton film Pretty Woman, kamu akan ingat adegan ketika Vivian sedan mengadakan ‘piknik’ kecil di depan televisi yang ada di kamar Edward. Nah, tayangan film yang membuat Vivian tertawa itulah jenis komedi yang juga ditawarkan oleh The Grand Budapest Hotel. Kurang lebih kayak gitu, kalau masih kurang banget ya monggo tanya pengamat film yang jelas-jelas bukan aku :p :p
Apa sih menariknya film ini kalau sedari genre aja udah bikin salah paham? Gini lho, nonton film ini itu bagaikan nonton lukisan berjalan yang diiringi oleh deklamasi puisi. Deskripsiku ini nggak sepenuhnya benar, hanya sebatas pendapat penonton yang amatir. Namun, justru itulah mengapa aku rela menjadikan potongan adegan film ini sebagai wallpaper di komputerku! Sesederhana keindahan tata gambar yang ditawarkan oleh sutradara.
Terus kalau dari segi cerita gimana? Duh… terlalu berdosa rasanya untuk menyimpulkan cerita film yang kaya tersebut ke dalam sebaris dua baris kalimat. Ada horror dan tragedi yang terselip dalam film bergenre komedi tersebut. Rasa-rasanya aku bisa turut merasakan kemegahan yang perlahan dimakan waktu seperti dalam cerita Zero, si Lobby Boy. Hmm… Jika M. Gustave pernah jadi atasanku, aku mungkin akan mengenang hal yang sama dengan si Zero… sambil tersenyum.
Tonton trailer-nya di sini: https://www.youtube.com/watch?v=1Fg5iWmQjwk
Daftar penghargaan yang diraih film ini: http://www.imdb.com/title/tt2278388/awards
Nggak kehitung sudah berapa kali film ini aku tonton. Sebagai kaum milenial, ada efek samping kepiluan yang muncul saat nonton film ini, tapi semua itu berubah jadi keikhlasan berhari-hari setelah nonton film ini.
Pertama kali nonton film ini langsung suka banget dengan mood warna yang ditampilkan. Nggak nyangka lhooo syutingnya dilakukan di Shanghai! Tata gambar yang dihiasi mood warna yang ditawarkan inilah menjadi salah satu pemanja mata yang aduhai banget.
Selain mood warna, bagian lain yang menarik banget sekaligus bikin ikhlas adalah realitas tentang teknologi yang berhasil mencapai titik emosional manusia. Mulai dari pekerjaan si Theodore yang nggak bakal ada kalau manusia nggak jadi males karena udah kebanyakan teknologi yang membantu. Lanjut sampai representasi kegiatan sehari-hari Theodore yang sebenarnya mirip banget sama kegiatan kita: ketempelan hape sepanjang hari.
Nah, beda dengan film-film yang aku bahas di awal tentang kisah percintaan yang tidak didukung oleh teknologi, di film ini teknologi seperti jadi determinan untuk masalah percintaan. Si Theodore mungkin tidak akan pernah mengalami phone sex jika tidak ada teknologi; dan yang pasti dia tidak akan pernah mengalami patah hati jika operating system-nya tidak pernah dirilis. Di sini aku merasa seolah teknologi adalah satu-satunya solusi, satu-satunya mak comblang, bahkan satu-satunya jodoh untuk manusia di zaman yang sudah terlampau modern. Ngeri bro…
Nggak tahu kenapa setiap kali aku nonton film ini emosiku seperti dipermainkan. Melihat kisah cinta Theodore dan Samantha rasanya seperti berada di teritori yang asing. Rasanya aku ingin buru-buru cabut karena merasa ini sama sekali tidak akan berhasil… tapi toh filmnya belum selesai… dan aku masih baper. Ugh!
Di film ini kamu bisa lihat sosok Chris Pratt yang masih endut dan Joaquin Phoenix yang back in shape lagi hehehe.
Tonton trailer-nya di sini: https://www.youtube.com/watch?v=ne6p6MfLBxc
Spike Jonze is a brilliant: http://www.imdb.com/title/tt1798709/awards
Barangkali ada yang heran kenapa aku pilih film ini? Baiklah, jangan berharap menyaksikan adegan percintaan yang mendayu-dayu nan indah sampai bikin baper. Tidak ada juga kisah menggapai impian yang begitu dramatis. Ini soal mayhem.
Pertama kali nonton film ini, nggak mudeng! Setelah adegan Tyler dan si Narator dalam satu frame… nah barulah aku ngeh apa yang sedang terjadi. Harap maklum ya, pertama kali aku nonton film ini waktu masih kelas 2 SMP hahahah. Waktu itu emang getol-getolnya nyariin film yang berbau psikologi. Termasuk nonton film berjudul Identity, Silence on the Lamb, Misery, dan sebagainya.
Udah pernah nonton Fight Club belum? Ugh kalau yang sudah nonton pasti paham banget kalau Tyler suka ngasih ceramah singkat yang mampu menghegemoni pengikutnya. Ini ada beberapa petikan dialog yang diucapkan Tyler:
The things you own end up owning you
Advertising has us chasing cars and clothes, working jobs we hate so we can buy shit we don't need. We're the middle children of history, man. No purpose or place. We have no Great War. No Great Depression. Our Great War's a spiritual war... our Great Depression is our lives. We've all been raised on television to believe that one day we'd all be millionaires, and movie gods, and rock stars. But we won't. And we're slowly learning that fact. And we're very, very pissed off.
It's only after we've lost everything that we're free to do anything.
Okay, that’s it. Kalau diterusin bisa-bisa satu bendel naskah aku copas semua hahaha. Anyway, yang menyenangkan dari film ini adalah pemikiran-pemikiran Tyler yang menolak pemujaan terhadap budaya pop. Di film digambarkan bahwa si Narator memiliki kehidupan yang stabil secara finansial, namun ada jalinan situasi yang memantik penciptaan karakter Tyler dalam dirinya. Melalui sosok Tyler lah dia bisa memulai teror gerilya di berbagai industri yang berimbas pada sistem keuangan. Tujuan akhirnya bakal kamu temukan di adegan saat Narator menggandeng tangan Marla sambil menyaksikan hancurnya gedung-gedung pencakar langit.
Cukup rumit untuk yang nggak ngeh tentang situasi yang disesalkan oleh Narator. Apalagi yang belum akrab dengan novel Chuck Palahniuk dan film-film buatan David Fincher. Namun, bagiku di sinilah menariknya. Kamu bisa nonton berulang-ulang film ini untuk mereka-reka ulang maksudnya. Mereka-reka situasi sosial yang melatarbelakangi cerita di film (maupun novelnya). Termasuk mempertimbangkan teknologi yang tidak terlalu dianggap sebagai tameng yang melindungi berbagai sistem yang hendak diteror oleh pasukan Mayhem Project. Jadi, film seperti sebuah buku teori yang dibahas dari berbagai perspektif… ga kelar-kelar!
Bisa nonton trailer-nya di sini: https://www.youtube.com/watch?v=BdJKm16Co6M
David Fincher is a genius: http://www.imdb.com/name/nm0000399/?ref_=tt_ov_dr