Best five moments in 2016
(sebenarnya mau bikin best nine... tapi nanti dijerat pasal plagiasi..)
1 – Fulfilling the 2016’s resolution: Resign!
Yay! Hahaha gatau kenapa harus memulai dengan kata “yay” sebenarnya… Tapi itulah… baru sekali ini dalam hidup, setelah bernafas hampir 26 tahun, aku berhasil mewujudkan sebuah resolusi yang nggak muluk-muluk, singkat, jelas, paripurna: resign!
It’s not that I hate my job… meskipun juga nggak sungguh-sungguh ada orang yang bilang I love my job sekaligus secara kongruen mewujudkan diskursus tersebut. I just can’t find myself any longer on that job.
Banyak orang disekitarku mendeklarasikan sebuah sequence yang sungguh jelas dalam hidup ini: setelah selesai sekolah maka sudah sepatutnya bekerja demi mengumpulkan uang untuk menikah. Setelah itu, setelah semua gemerlap pesta nikah menghabiskan seluruh tabunganmu, beranak-pinaklah, sekolahkan mereka, senangkan mereka, hingga akhirnya anakmu itu harus kamu nikahkan.
Well said. I disagree. You know, it’s not that was a bad idea. Aku juga tidak menentang hal tersebut. Ada bagian yang paling bikin disagree: bekerja demi mengumpulkan uang untuk suatu tujuan. Oke, biar aku susutkan lagi: bekerja.
Ekspektasi bekerja yang lazim adalah di kantor. Whoa! Dinamika di belakang meja kerja, geliat di balik cubicle, intensitas kepadatan lari-lari presentasi dan meeting… those are not for me. Or maybe, I just feel that I’m too young and incapable of doing that. Wait? Am I that young?
Menerima uang gaji memang menjadi hal yang menyenangkan. Bisa menabung, bisa membeli buku apa pun yang sempat kumaui tapi belum juga tercapai, bisa kirim-kirim uang buat mama di rumah, bisa beli properti buat kevin… is that comfy enough for me?
Yes, it was, but there was also a fear. Sebuah ketakutan hakiki bahwa suatu hari nanti perspektif berpikirku akan menjadi sebuah produk sukses (atau cacat) dari sebuah organisasi. Aku takut menghamba pada sebuah pemikiran tanpa pernah tahu ada perspektif berpikir lain yang lebih luas dan variatif. Aku takut bahwa pemikiranku tentang “komunikasi” hanya sebatas pesan yang dikirim dan diterjemahkan demi sebuah tujuan. Itu menakutkan karena sebelumnya aku dilahirkan sekaligus ditempa di belantara akademisi komunikasi. Itu bukan sebuah trauma bagiku.
Well, that fear could be beaten by courage. Yep! Aku kemudian mengajukan resign. Setelah itu kemana? Sekolah!
2 – Being a master student
Pergi sekolah lagi bukan alasan fondasi mengajukan resign. That was the fear. Pergi sekolah adalah sebuah solusi mengatasi ketakutanku itu. Sebuah solusi menemukan diri kembali setelah sebelumnya di tempat kerja aku tidak bisa menemukan diriku.
Sebelum resign, aku sudah sempat melakukan riset terkait universitas yang ingin aku datangi. Oke, mulai dari 2 pilihan sulit: manca atau domestik? Saat itu, aku cuma kepikiran Kevin dan Monyet yg mau nikah! Aihhh kebayang sedihnya kalau Kevin sampai lupa sama aku karena aku nggak pernah pulang :( kebayang juga ribetnya kalau sampai nikahan Monyet harus bentrok dengan jadwal ini itu. Okelah, mari kita coba tes TOEFL dulu! Kalau hasilnya bisa diatas 550 berarti sebuah panggilan untuk mendaftar ke sekolah manca. Jangan tanya IELTS, yakin aja kagak.
Syuut! Nilai TOEFL tidak mengalami perkembangan signifikan sejak 4 tahun lalu tes terakhir. Aku-nya yang bego, nggak ada masalah kalau nggak punya waktu belajar sebelum tes. Bego mah bego aja nggak punya fondasi -_____- Nilai tes yang dibawah 550 aku anggap sebagai sebuah jawaban: DOMESTIK!
Setelah itu aku langsung buka website beberapa universitas terkenal dalam negeri, khususnya yang punya jurusan komunikasi dengan reputasi yang bagus. In case you confused, aku nggak hanya mempertimbangkan nilai akreditasi, namun juga variasi penelitian yang dilakukan mahasiswa kampus-kampus yang aku cari.
Mari mengelompokan lagi, Jawa Barat, Jogja, dan Jatim. Gimana Jateng kok ditinggalin? Hmm… nggak tertarik aja. Oke, di Jabar aku menemukan UI dan Unpad. Jogja jelas UGM. Jatim ya Unair. Aihh kau tak cinta alumnimu? Bukan begitu, saat itu Universitas Brawijaya baru saja membuka kelas pasca komunikasi. Kebayang dong organisasinya yang juga masih baru? Aku memang rindu bapak ibu dosen yang sedari dulu mengajarku, namun bukan berarti dengan mengambil program pasca di sana adalah cara yang tepat menunaikan rinduku :)
Aku mulai ragu bersekolah di UI. Hiruk pikuk kota Depok sebenarnya tidak begitu menyenangkan. Weekend di Depok sama seperti weekdays di Jakarta. Selain itu, aku juga nggak begitu yakin demografis kota Depok cocok bagi pelajar. I kinda doubt that I could go crazy on cheapo cheapo bookstrore… I kinda doubt that my bank account would not be interrupted by some discounts form malls nearby. Ah no… coret UI!
Coba Unpad? Yuk lah! Aku mulai membuka website perpustakaan Unpad… memasukan kata kunci “komunikasi kesehatan”…. Klik klik… kemudian memasukan kata kunci “discourse”… klik klik. Close!
Oke, hanya tersisa 2 pilihan, yaitu UGM dan Unair. Berdasarkan riset mini yang kulakukan, UGM memiliki beberapa penelitian komunikasi kesehatan. Unair… aduh lupa punya nggak ya? Sebenarnya memilih Unair pun lantaran dekat dengan rumah, tidak ada alasan signifikan lainnya. Masalah penelitian komunikasi kesehatan ini sebenarnya perkara serius! Aku berpikir untuk melanjutkannya menjadi sebuah tesis. Bukan miskin masalah, maksudku kan cuma bikin karya tulis untuk ditukar dengan toga. Ya sudah, dunia belum kiamat juga… kalau mau riset yang macam-macam ya sok atuh dilaksanakan setelah lulus sembari berkarir di bidang akademik.
Tuntas masalah variasi penelitian, aku beranjak ke hal yang sangat sangat sangat serius: DUIT. Aku coba membandingkan proyeksi dana yang harus aku bayarkan jika berkuliah di kedua universitas tersebut. Astaga… harga yang dipatok buat pendaftaran aja sudah terpaut harga 1 bulan foya foya kuota internet GSM! Banderol harga UGM saat itu 500 ribu rupiah, tanpa tambahan tes ditempat. Semua persyaratan bisa dikirim dari jarak sejauh-jauhnya ente berada! Sedangkan Unair? Halamakjang! Sudah bayar 700 ribu, aku masih harus hadir untuk tes wawancara sambil membawa rancangan proposal tesis setebal 10 halaman! Bukan bukan… aku tidak menganggap cara mengkomersilkan calon mahasiswa adalah cara yang terbaik. I do appreciate all the things that can be easier with internet… you know on what side I am. Dengan ribetnya kesibukan a la market researcher, there was no way I could prepare myself for such test. I mean it!
So, here I am. Jadi mahasiswa pasca di UGM. The struggle was real just to be here. Maybe I will write it sometime later…
3 – Explaining major study
Ngapain belajar komunikasi? Emang apa sih komunikasi itu?
Hawlaaaahhhh… pengen eykeh getok rasanya orang-orang yang tanya macam ni! Siapapun… mahasiswa komunikasi di antero nusantara ini pasti pernah ditanyain tujuannya belajar ilmu gaib ini. Mengapa gaib? Ya karena nggak jelas wujudnya! Beda kayak belajar ilmu kedokteran, mesin, akuntansi, dll. Tergambar jelas sekali objek yang dipelajari sekaligus pekerjaan yang akan dilakoni setelah lulus. Selalu, selalu, dan selalu jika ditarik dari jenis pekerjaan, banyak orang akan mengaitkan ilmu komunikasi dengan broadcasting. I’m not saying this is wrong, but broadcasting is not the main thing, it’s just dust in the wind of communication science.
Bahkan setelah memiliki kesempatan belajar jadi mahasiswa pascasarjana ilmu komunikasi pun sebenarnya aku masih kesulitan memampatkan waktu seminimal mungkin untuk menjelaskan hal apa saja yang dipelajari dan apa komunikasi itu sesungguhnya. Tantangannya semakin edan! Memampatkannya jadi 1 kalimat! Hawlaaaahhhh…. Emang eyke Em Griffin!
Begini ya, bahkan doktor ilmu komunikasi pun masih kesulitan menjelaskan pada awam tentang “apa itu komunikasi”. Tapi, emang orang yang nanyain aku itu peduli seberapa ruwet penjelasan yang ada di kepalaku? They don’t care, they have no time.
In most of the days, aku hanya menjawab belajar ilmu kanuragan atau ilmu tenaga dalam kalau ditanyai sedang-ambil-jurusan-apa-di-UGM. Jawaban kampret ini aku pelajari dari adik tingkat yang selama hidupnya kelihatan nggak serius, tapi berhasil jadi ketua himpunan jurusan hahahah.
Oh ya, something sucks, di satu sisi banyak orang meragukan pentingnya mempelajari ilmu komunikasi sampai ke tingkat perguruan tinggi, tapi di sisi lain KALAU ADA MASALAH APA-APA MESTI YANG DISALAHIN KOMUNIKASI! -_________- Misalnya, “ah ini bukan masalah apa-apa, cuma komunikasinya aja yang nggak bener” atau “cuma miskomunikasi aja”. Go ahead you people…
4 – Ketemu Arifin Putra!
Ada 2 jenis penggemar di dunia ini. Pertama, yang langsung nyamber idolanya minta tanda tangan atau kalau jaman sekarang foto bareng. Kedua, yang cuma melongo.
Aku yang kedua.
Sungguh aku nggak menyesal jadi yang kedua (eh?). Suatu sore gitu, si Paul ngajak ke Grand Indonesia. Aku lupa kami mau ngapain, kalau nggak salah demi makan Shirokuma doang. So, ngapain dandan cakep-cakep juga? (Well, ini sebenarnya cuma dalih doang sih hahahah abis udah kebiasaan kalau ngemol ya dekil aja, bodo amat… maklum biasa datengnya cuma ke mol yang bersegmen keluarga… Mana ada mall Jakarta yang bersegmen keluarga?).
Tiba-tiba, di saat aku berjalan santai dengan pakaian dekil… ada secercah cahaya, padhang njinggalng, bentuknya tinggi menjulang… yap! Saat itulah aku cuma melongo liat Arifin Putra yang jalan di depanku dan membiarkannya berlalu begitu saja.
Arifin Putra ternyata secakep foto yang aku simpan. Foto yang merupakan hasil guntingan dari majalah Fantasi, Kawanku, sampai Gadis. Foto yang aku simpan saat aku masih SD. Saat selesai melongo itu aku langsung tahu, ternyata gantengnya Arifin Putra bukan rekayasa digital! Teknologi yang diadopsi media cetak saat aku masih SD masih belum seluruhnya digital, masih mengandalakan teknologi analog. Mungkin juga teknologi kamera yang menjepret foto Arifin Putra yang aku gunting.
Setelah itu aku langsung nge-chat mamaku, mengabarkan kabar gembira ini. Kata mama, “nggak kamu ajak selfie?”, aku jawab, “enggak ma, aku mek mlongo.. lah ngganteng e!”
5 – Imagining a life with a giant called Bromo
Akhirnyaaaaa aku ke Bromo! Setelah hampir 26 tahun bernafas di dunia ini! Senangnyaaa kayak orang udik!
Biarin. Anyway, pergi ke Bromo untuk menikmati matahari terbit tidak lagi bisa dikategorikan sebagai acara munggah gunung atau hiking. Forget it! Bromo yang aku kunjungi beberapa hari lalu sudah disentuh komersialisasi dari berbagai sisi. Kamu nggak akan bisa nekat mencapai gardu pandang dengan sepeda motormu yang ngetril-ngetril sekalipun. Jalan-jalan diblokade dengan mobil hard top (biasa disebut jip padahal bukan merek Jeep) yang parkir di jalan penanjakan. Semakin siang kamu naik, semakin apes kamu melawan arus dan melawan macet. Alasannya, tidak ada orang yang sungguh-sungguh berjalan untuk mencapai puncak. Dengan jalan yang sudah diaspal halus oleh pemerintah, penyedia mobil jip dan ojek yang merupakan penduduk sekitar akan senantiasa narik di sana. Mata pencaharian warga sekitar yang awalnya bercocok tanam kini mengganda jadi ngojek dan narik jip.
Seperti cerita yang kamu dapatkan juga di blog lain, harga sewa jip dan ojek sebenarnya sebelas-dua belas. Akhirnya jadi dua belas-dua belas kalau bawa rombongan banyak!
That’s that… the most hectic moment of my hiking repertoire. Tapi mendadak hati ini jadi ayem begitu perjalanan turun ke kawah. As you travel down, you will see there will be 2 kinds of mountain that attract your eyes. Pertama, yang bentuknya kawah dan bisa didaki dengan mudah karena ada anak tangga yang disusun rapi. Kedua, gunung mati yang tidak untuk didaki. Aku nggak naik ke kawah sih… banyak cendolnya (cendol = manusia-manusia, coba liat dari jauh, kerumunan manusia itu udah mirip cendol). Mataku cuma terpaku pada gunung mati disebelahnya. Astagaaaaaaaaa… itu dia punya lereng cantik sekali! Mana fotonya? Kayaknya nggak aku foto karena aku sudah berhenti punya proper camera buat motret alam. Alasanku sederhana, aku nggak mau ada yang mengganggu momenku memandang indahnya pemandangan, biar Bromo yang sudah terkenal sekalipun! Tujuanku bukan berbagi momen, bukan menunjukan pada orang aku berhasil memenjarakan pemandangan yang cantik ke dalam sebingkai foto digital, bodo amat! Biar keindahan itu aku simpan sebatas memori di otak. Biar kata orang mengabadikan jauh lebih baik, toh foto bisa rusak kena virus maupun banjir, aku juga bisa pikun.. nothing lasts forever. I just want to enjoy it while it lasts.
Although Bromo is the most expensive mountain I have ever visited, I couldn’t bear to imagine how interesting it is to live with the giant called Bromo… You know, it’s like waking up beside the giant. You are like the heir who have responsibility to take care of the giant… Yep, that would be the live of Tengger tribe :)












