Kisah tentang keluarga Ibrahim bukanlah hal baru bagiku. Gimana enggak, setiap Dzulhijjah pasti banyak postingan, story, dan ceramah mengenai itu. Angle yang diambilnya juga macem-macem, baik itu dari segi parenting-nya, pengorbanannya, maupun misi kenabiannya. Semuanya menarik dan insightful. Setidaknya, itu yang kurasakan selama bertahun-tahun.
Berapa banyak aku harus mengulang cerita ini di kepala sebelum akhirnya sesuatu terlintas di benakku? Puluhan kali. Mungkin ratusan. Dan "sesuatu" apa yang mungkin muncul jika aku melihatnya dari sudut pandang lain? Nah.. di putaran yang entah ke berapa, pertanyaan aneh ini muncul, akhirnya.
Kalau Allah tahu Ibrahim akan lulus, kenapa Allah tetap memerintahkan Ibrahim berkurban?
Dalam pemahamanku, ujian selalu berkaitan dengan pengetahuan sang penguji yang belum lengkap. Contohnya, seorang guru memberi soal karena ia belum tahu kemampuan muridnya, lalu jawaban sang muridlah yang kemudian menyingkap kenyataan itu. Begitulah kira-kira, respons kita akan memberi tahu penguji sesuatu yang belum ia ketahui tentang diri kita.
Belum lagi, sejak kecil aku sering ditanamkan bahwa Allah meminta pembuktian dari kita. Cuma rasanya aneh kalau membayangkan ujian Ibrahim (dan kita semua) sebagai sarana untuk menunjukkan iman kepada Allah. Bukankah Allah tidak menunggu jawaban apapun untuk mengenal hamba-Nya?
Jadi menurutku, ujian itu jelas tidak mungkin berfungsi untuk "memberi tahu Allah" mengenai sejauh apa iman Ibrahim.
Kalau begitu, untuk siapa sebenarnya ujian itu? Apa yang Sang Penguji inginkan dari tes itu kalau bukan untuk mengungkap sesuatu kepada diri-Nya? Aku menemukan jawaban yang memuaskan. Seseorang mengatakannya dengan ringkas. Katanya,
"The test wasn't to reveal Ibrahim to Allah. It was to reveal Ibrahim to Ibrahim."
🤯🤯🤯 (mindblowing) bener juga. Allah mah tau iman Ibrahim, tapi kan Ibrahim nggak tau sedalam apa imannya.
Aku langsung teringat quote dari Carl Jung. Bunyinya, "in each of us, there is another whom we do not know." Ada seseorang (atau sesuatu) di dalam diri kita yang belum kita kenal, dan ujian itu akan mengenalkan "yang lain" dalam diri kita kepada diri kita sendiri.
Coba kita apply premis itu di konteks Ibrahim. Tentu sejak awal Allah sudah tau kesetiaan Ibrahim. Nggak perlu menunggu hasil ujian untuk mengenalnya. Hanya saja Ibrahim belum pernah bertemu dengan versi dirinya yang paling taat. Kesetiaan itu (betapapun sempurnanya) masih berupa klaim/ucapan/pengakuan diri, yang tadinya belum ia alami sebagai realitas, belum "terjadi" dalam sejarah, dan belum diwujudkan melalui pilihan yang konkret.
Artinya Ibrahim nggak sedang memperlihatkan sesuatu yang baru bagi Allah, melainkan sedang mengalami sendiri ketaatannya sampai menjadi nyata. Melalui ujian itu dia menemukan fakta tentang dirinya sendiri. Istilahnya mah self revelation alias pengungkapan jati diri kepada diri kita sendiri. Analoginya mungkin gini, Allah sudah memegang naskahnya dan Ibrahim yang berjalan di atas panggung itulah yang baru memerankan dialognya sendiri.
Makna Membenarkan Mimpi (صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا)
Quote dari Jung tadi membuka pintu pembahasan ini dan ayat Allah menggenapkan kunciannya. Allah berfirman kepada Ibrahim setelah peristiwa itu: "Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu" (QS Ash-Shaffat: 105). Perhatikan kata صَدَّقْتَ (membenarkan). Ibrahim sedang membenarkan sesuatu yang sudah benar di sisi Allah, yang sebelumnya nggak pernah dihidupi oleh dirinya.
Jadi kita akhirnya tau bahwa ada perbedaan mendasar antara sesuatu diketahui Allah dengan sesuatu terwujud dalam realitas manusia.
Manusia sendiri hidup di ranah aktualisasi which is segala sesuatu baru memperoleh bentuknya ketika dilewati, dirasakan, dan dijalani. Maka fungsi ujian Ibrahim adalah mewujudkan kesetiaan Ibrahim dari ranah ilmu Allah ke ranah realitas. Lalu apa buktinya? Allah mencantumkan outcome yang Dia harapkan itu di surat As-Saffat (37) : 106
اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ
"Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata."
Kata الْمُبِيْنُ artinya yang nyata, yang jelas, yang tampak. Sebetulnya ada opsi diksi lain kayak, الْمَعْلُومُ (yang diketahui) atau الْمَكْتُوبُ (yang tertulis).
Cuma tengok deh, pemilihan diksi "nyata" itu menarik dan masuk akal soalnya ujian itu memang baru saja terjadi dan dihidupi oleh Ibrahim dalam bentuk pengorbanan yang konkret. Like.. antara ilmu Allah dan realitas manusia, ada jurang yang cuma bisa dilintasi oleh perbuatan. Dan Ibrahim telah melintasinya.
Dan ternyata, pemahaman ini bukan cuma dugaanku. Al-Maududi, seorang mufasir besar pun sampai pada kesimpulan yang sama. Dalam tafsirnya, beliau bilangnya begini:
"We did not make you see in the dream that you had actually slaughtered your son and he had died, but that you were slaughtering him. That Vision you have fulfilled. Now, it is not Our will to take the life of your child: the actual object of the vision has been fulfilled by your submission and preparation to sacrifice him for Our sake."
Al-Maududi membedakan antara tindakan menyembelih dan kematian sebagai hasil. Mimpi Ibrahim isinya bukan prediksi kematian, maksudnya Allah nggak menginginkan Ismail mati. Fakta bahwa Ismail akhirnya diganti dengan domba adalah penegasan bahwa ujian itu berhasil dilalui. Darah domba menggantikan darah yang seharusnya karena targetnya bukan pengorbanan fisik, tapi pengorbanan hati.
So.. mimpi itu adalah panggung tindakan di mana Allah menginginkan Ibrahim siap melepaskan. Begitu Ibrahim (dengan pedang terhunus dan jiwa yang berserah) sudah membuktikan kepada dirinya sendiri dan kepada alam semesta bahwa ia benar-benar lebih mencintai Allah daripada segalanya, tujuan ujian telah tercapai tanpa harus mengorbankan nyawa Ismail.
Diri yang disimulasikan ≠ diri yang diwujudkan
Meskipun kita bisa membayangkan diri kita sebagai apa pun (pemberani, setia, sabar), bayangan itu nggak pernah sama dengan kenyataan. Konon, dalam perjalanan menuju kesadaran yang lebih luas, banyak tingkat pengorbanan yang diperlukan. Setiap kali kita melepas sesuatu yang kita cintai, kita naik satu anak tangga menuju diri yang sesungguhnya.
Pada titik puncak pengorbanan itu, iman aktual lahir. Sama seperti "diri Ibrahim yang mencintai Allah lebih dari segalanya" itu muncul dari penyerahan total dan pelepasan total (al-wala wal bara). Tanpa ujian itu, Ibrahim mungkin hidup dalam ilusi tentang dirinya sendiri bahwa, "aku orang beriman, aku pasti taat."
Rose F. Holt dalam blognya menulis:
"Knowledge, or consciousness, a knowing with, is bought only with suffering and sacrifice and death, both on real and symbolic levels."
Kesadaran diri (self-knowledge) tidak datang gratis. Ibrahim "membeli" pengenalan dirinya alias reveal Ibrahim to Ibrahim melalui kesediaannya mengorbankan putranya, yang secara simbolik, merupakan "kematian" terhadap ego dan keterikatannya.
Sedangkan Allah sendiri nggak butuh kematian Ismail. Allah menginginkan proses pengorbanan itu sendiri sebagai kendaraan bagi manusia (Ibrahim dalam hal ini) untuk naik ke kesadaran yang lebih tinggi, di mana ego melepas keterikatannya, dan Self (diri sejati dalam istilah Carl Jung) terwujud.
Karena itulah, setelah ujian tersebut benar-benar terjadi, Al-Qur'an menghadirkan penghormatan yang begitu indah:
سَلَامٌ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ
"Salam sejahtera bagi Ibrahim." (QS Ash-Shaffat: 109)
Sejahtera, selamat, dan damai karena orang yang telah menemukan dirinya yang paling dalam hanya bisa merasakan satu hal yaitu ketenangan. Perjalanan telah usai. Ibrahim telah pulang ke rumahnya yang sejati dengan selamat. Ibrahim bisa berteduh di "pohon batinnya" yang telah teruji koherensi dan konsistensinya. Ibrahim bisa melanjutkan kembali misi kenabiannya dengan seluruh identitas diri/self yang telah integral.
Bacaan lanjutan: https://roseholt.blogspot.com/2004/04/analytical-meaning-of-sacrifice-if-as.html?m=0
— Giza, meski sudah Muharram bahasan ini tidak pernah kedaluwarsa