Tidak mengapa, Elon aja gagap!
Sejak mengetahui bahwa Elon Musk adalah orang yang gagap saat berbicara, saya jadi merasa baik-baik saja ketika dalam banyak kesempatan berbicara saya juga sering gagap.
Menariknya orang yang punya cita-cita mendaratkan manusia di Mars ini, dalam sebuah konverensi yang mirip seperti talk show dengan Jack Ma, saya amati tidak merasa dirinya harus mengubah apa-apa yang ada dari cara dia berkomunikasi. Dan kelihatannya kita jadi menyadari satu, mungkin itu kelebihan bukan kekurangan. Memang seperti direncanakan, bukan serta merta karena linglung tidak kompeten dalam bidangnya. Maksud saya, ia menyadari bahwa dirinya gagap dan ia mencoba untuk menerima itu dan berjalan dengan baik-baik saja segalanya di panggung.
Entah disadari atau tidak, kita pada akhirnya menganggap hal itu sesuatu yang bisa-biasa saja, bukan sesuatu yang mengganggu, karena yang berbicara adalah orang terkenal. Dan dari orang dengan "impian" masa kecil yang masih dibawanya hingga usia dewasa. Saya mengatakan begitu karena saat kita masih anak-anak, kebanyak dari kita memiliki cita-cita sekedar apa yang menurut kita keren, tidak masuk akal pun menjadi hal yang dapat dimaafkanlah oleh orang-orang sekitar, terutama oleh orang dewasa. Kemudian di masa-masa dewasa, orang yang bercita-cita, sebutlah astronot mungkin, akan mempertimbangkan lagi impiannya itu, karena bermodal memori struglenya (misal: jajan emas 1 kg aja belum mampu; ditunda mulu ngerjain skripsinya; jogging seminggu sekali aja tidak sempat, dll) dalam perjalanan hidup itulah, anak kecil yang sekarang sudah tumbuh dewasa secara usia, telah menyadari akan sesuatu, bahwa ternyata cita-citanya di masa lalu, merupakan sekedar keinginan yang ia yakini tidak akan pernah terwujud di masa sekarang dan yang akan datang. Tetapi tidak dengan sosok yang satu ini, kegilaanya masa kecil tetap ia bawa hingga dewasa. Dan sekalipun dia tau, proyek yang ia usahakan itu, tidak akan terwujud di masa hidupnya.
Kembali ke topik tentang gaya berbicaranya yang banyak jeda, menjadi modal untuk saya tetap merasa baik-baik saja ketika setiap kali saya berbicara di depan orang lain, dengan gaya yang “sama” dengannya. Besok-besok kalau mengalami situasi demikian, saya akan bergumam dalam hati, “Tidak mengapa, Elon aja gagap!”
Saya jadi tidak merasa terbebani bahwa komunikasi itu harus yang lancar dan memukau. Karena saya sudah memiliki "teman" dengan nasib yang sama (dalam hal berbicara). Kabar baiknya dia terkenal dan disegani. Jadi kenapa saya mesti mengikuti apa yang menjadi standar nilai orang-orang bahwa yang membuat komunikasi baik itu ketika tidak ada yang salah dalam cara dia berbicara dan dengan kalimat yang lancar tanpa ada jeda mikir dan sebagainya. Toh, tidak masuk dalam "game" orang-orang bukan merupakan sesuatu yang salah juga kan? Berani tampil beda mungkin kata-kata yang pas.
Mungkin membosankan bagi orang lain, tetapi untuk kesehatan mental berimbas pada hal positif, jadi lebih menerima keadaan yang ada. Masih banyak hal lain yang perlu dipikirkan. :)
Kenapa dulu justru merasa diri gagal ketika kita tidak bisa ngomong sehebat motivator? (Nanya ke diri sendiri). Lagian juga, fundamental dari sebuah komunikasi adalah terwujudnya kemauan kita dari orang yang kita ajak komunikasi. Mengambil contoh yang disampaikan Dr. Indrawan Nugroho, yang saya tulis kembali dengan redaksi yang mungkin berbeda dengannya, "Kalau dengan mengedipkan mata, orang lain paham maksud kita, kenapa harus capek-capek ngomong? Kalau dengan mengedipkan sebelah mata, pelayan mengerti maksud kita, kemudian dia datang dengan membawa minum, bukankah tidak dibutuhkan lagi ngomong? Sebagaimana bayi ketika belum bisa bicara, komunikasi dengan orang sekitar adalah dengan nangis. Dengan nangis, sebentar kemudian keinginannya terpenuhi.”
Ya, ini adalah semacam resensi dan mengikat makna hasil dari pagi tadi menyimak podcast di Helmi Yahya Channel yang bintang tamunya adalah Dr. Indrawan Nugroho. Lantas dari situ saya dapat wawasan baru yang kemudian saya coba kolaborasikan dengan salah satu kegelisahan saya. Btw, saya memutuskan untuk tidak terlalu banyak mengedit dalam tulisan ini. Sekedar menuliskannya kembali dengan teknik (fast writing) sependek yang saya tangkap, biar bila mungkin dikemudian hari dibutuhkan, bisa saya sambangi. Mumpung juga lagi banyak ide di kepala dan juga lagi mulai suka lagi dengan kegiatan menulis. Hehehe... Sekian. dhcvln | Bantul, 30 November 2021














