HISTORY #2
Mariyah Al-Qibthiyah – Buah Cinta yang Sementara
Di antara wanita-wanita yang terkasih di sisi Nabi ﷺ, terdapat sosok yang pada awalnya merupakan hadiah dari Raja Koptik Mesir, yaitu Muqawqis. Dari sosok inilah Nabi ﷺ kemudian memperoleh keturunan. Beliau adalah Mariyah Al-Qibthiyah.
Muqawqis adalah penguasa Mesir pada saat itu yang berada di bawah kekaisaran Romawi. Nama “Muqawqis” sendiri bukanlah nama Qibti, melainkan berasal dari bahasa Yunani. Ia beragama Nasrani. Ketika Nabi ﷺ mengirim surat kepada para raja untuk mengajak mereka masuk Islam, salah satu sahabat yang diutus untuk menyampaikan surat tersebut kepada Muqawqis adalah Hatib bin Abi Balta’ah. Hatib termasuk sahabat yang mulia, seorang ahli Badar, dan dikenal karena ketulusannya dalam memeluk Islam sejak awal. Ia juga dipercaya oleh Nabi ﷺ sebagai bagian dari majelis syura dan sebagai utusan resmi beliau.
Saat menemui Muqawqis, Hatib mendapati bahwa sang raja adalah sosok yang sangat berhati-hati dalam politik dan dalam setiap keputusan yang diambilnya. Muqawqis menilai bahwa saat itu belum memungkinkan baginya untuk memeluk Islam, karena hal itu berarti menantang kekaisaran Romawi. Ia juga mempertimbangkan pentingnya menjaga hubungan baik antara bangsa Qibti dan bangsa Arab. Di sisi lain, ia mengetahui bahwa Nabi ﷺ telah memiliki posisi politik yang kuat di Madinah. Karena itu, Muqawqis memilih untuk tidak masuk Islam, tetapi tetap menjaga hubungan baik dengan Nabi ﷺ.
Muqawqis kemudian membalas surat Nabi ﷺ dengan baik, serta mengirimkan berbagai hadiah. Di antaranya adalah seekor keledai bernama Duldul, baghal bernama Ya’fur, seorang budak laki-laki bernama Mabur, serta dua budak perempuan, yaitu Mariyah dan Sirin yang merupakan saudara kandung dari kalangan Qibti. Dalam beberapa riwayat juga disebutkan adanya dua orang dokter yang ikut serta.
Dalam perjalanan menuju Madinah, Mariyah dan Sirin meninggalkan Mesir dengan perasaan sedih. Hatib kemudian menghibur mereka dengan menceritakan tentang Islam, tentang kota Madinah, dan tentang kepribadian Nabi ﷺ. Kisah-kisah itu begitu memikat hati keduanya hingga mereka akhirnya memeluk Islam. Bahkan disebutkan bahwa sejak saat itu Mariyah mulai mengagumi Rasulullah ﷺ.
Setibanya di Madinah, Nabi ﷺ membaca surat balasan dari Muqawqis dan bersabda, “Berlemah lembutlah kalian kepada orang Mesir, karena antara kita dan mereka terdapat hubungan nasab dan perbesanan.” Yang dimaksud hubungan nasab adalah karena Siti Hajar, ibu Nabi Ismail ‘alaihissalam, berasal dari Mesir. Sedangkan hubungan perbesanan merujuk pada pernikahan Nabi ﷺ dengan Mariyah Al-Qibthiyah.
Nabi ﷺ kemudian menikahi Mariyah, sementara Sirin diberikan kepada Hasan bin Tsabit, penyair kaum Anshar. Dari Sirin, Hasan bin Tsabit kemudian memiliki seorang anak bernama Abdurrahman. Adapun status Mariyah sendiri terdapat perbedaan riwayat: ada yang menyebut beliau sebagai istri Nabi ﷺ setelah dimerdekakan, dan ada pula yang menyatakan bahwa beliau tetap berstatus jariyah hingga melahirkan putra Nabi, sehingga menjadi ummu walad.
Sebagian ulama berpendapat bahwa Mariyah tidak dibangunkan rumah khusus seperti istri-istri Nabi lainnya, melainkan ditempatkan di rumah seorang sahabat Anshar. Nabi ﷺ sering mengunjunginya di sana.
Dua dokter yang ikut bersama rombongan tersebut akhirnya memilih kembali ke Mesir setelah beberapa waktu di Madinah. Mereka menyampaikan bahwa masyarakat Madinah hidup sehat dan tidak banyak membutuhkan layanan medis. Sebelum pulang, Nabi ﷺ meminta mereka mengajarkan ilmu kedokteran kepada dua sahabiyah, yaitu Hafshah dan Asy-Syifa’ binti Abdullah.
Kehamilan Mariyah sempat menjadi bahan fitnah kaum munafik. Mereka menuduh bahwa kehamilan tersebut bukan dari Nabi ﷺ, melainkan dari Mabur. Namun, tuduhan itu terbantahkan setelah Ali bin Abi Thalib melakukan penyelidikan dan mendapati bahwa Mabur telah dikebiri sejak di Mesir, sehingga tidak mungkin melakukan hal tersebut.
Mariyah kemudian melahirkan seorang putra yang diberi nama Ibrahim. Nabi ﷺ sangat mencintai putra ini. Nama Ibrahim diberikan sebagai bentuk tabarruk kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Kehadiran Ibrahim menjadi penyejuk hati Nabi ﷺ, terutama karena beliau tidak memiliki keturunan dari istri-istri lainnya setelah wafatnya anak-anak beliau dari Khadijah.
Nabi ﷺ sering mengunjungi Mariyah untuk bermain dan menggendong Ibrahim. Aisyah pernah berkata bahwa ia merasa sangat cemburu kepada Mariyah, karena kecantikannya, kedekatannya dengan Nabi ﷺ, serta karena Mariyah melahirkan seorang putra bagi beliau.
Namun, takdir Allah berkata lain. Ibrahim wafat saat masih berusia sekitar 19 bulan. Pada saat wafatnya, terjadi gerhana matahari. Sebagian orang mengira bahwa gerhana tersebut terjadi karena kematian Ibrahim. Nabi ﷺ meluruskan hal ini dengan bersabda bahwa matahari dan bulan adalah tanda-tanda kebesaran Allah, dan gerhana tidak terjadi karena kelahiran atau kematian seseorang.
Kesedihan Nabi ﷺ atas wafatnya Ibrahim sangat mendalam. Beliau bersabda, “Air mata ini mengalir dan hati bersedih, namun kami tidak mengatakan kecuali apa yang diridhai Allah.”
Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa kesedihan adalah hal yang manusiawi. Namun, seorang mukmin harus menjaga lisannya agar tidak mengucapkan hal yang bertentangan dengan keridhaan Allah.
Ayat “tidak ada rasa takut dan tidak bersedih hati” bukan berarti seorang mukmin tidak boleh bersedih, melainkan tidak larut dalam kesedihan yang menghalangi ketaatan kepada Allah. Kesedihan yang mendekatkan diri kepada Allah justru menjadi hal yang baik.
Mariyah Al-Qibthiyah wafat beberapa tahun setelah Rasulullah ﷺ. Sepanjang hidupnya setelah wafatnya Nabi, ia tidak menikah lagi. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa beliau termasuk istri Nabi ﷺ.
Kisah Mariyah Al-Qibthiyah memberikan banyak hikmah: tentang kebijaksanaan dakwah Nabi ﷺ, tentang hubungan antarbangsa, tentang cinta dan kecemburuan yang manusiawi, serta tentang kesabaran dalam menghadapi takdir. Kehadiran Mariyah juga menjadi jembatan yang memperkenalkan peradaban Mesir kepada kaum Muslimin, yang kelak berperan penting dalam sejarah Islam.














