Merokok, Bukan Rokok !
(sebuah testimoni terbuka objektif) - Bagian I
Absurditas. Sebuah kata kunci anti-klimaks yang akan saya deskripsikan sebagai bentuk subtitutif antara rokok dan merokok itu sendiri kedalam bentuk nomina dan verba
Seringkali saya bertanya pada diri sendiri ; Apa yang membuat saya tetap merokok padahal begitu banyak iklan, kampanye, maupun edukasi tentang bahaya merokok? Mungkinkah saya terlalu arogan dan ikut ambil bagian dalam arogansi egoistis subjek sehingga saya tidak menghiraukan pesan 'cerdas' tentang merokok? Apakah saya termasuk kedalam sebuah pragmatisme bisnis rokok dan memberikan kontribusi besar untuk masyarakat yang membutuhkan lewat perusahaan rokok? Adakah indikasi bahwa saya merokok karena berdasarkan faktor sosial dan psikologis semata? Apakah saya memang merokok karena pengetahuan saya bahwa merokok bentuk kausalitas karena adanya rokok? Atau apakah memang saya merokok karena ingin merokok saja. Titik! Tanpa aling-aling alasan yang berbelit, rasional ataupun berlabel?
Begitu banyak pertanyaan yang mengganjal di kepala saya setiap saya melakukan perbuatan menghisap rokok. Secara sederhana saya sebenarnya mau menjawab pertanyaan urban atau lebih tepatnya sindiran sosial urban : "kenapa sih masih ngerokok? Jelas-jelas cuma ngebakar duit doang!". Itu alasan utama saya mengatakan bahwa menghisap rokok adalah kegiatan yang absurd (kita mengetahui unreasonable purpose kenapa melakukan tindakan itu tetapi kita secara sadar tetap melakukan itu).
Kaitannya dengan banyak pertanyaan itu dan karena saya tidak mungkin menjawab pertanyaan urban dengan jawaban yang terlalu rasional dan sistematis secara langsung. Dialektis bicara yang terbatas pada keterbatasan konsonan hidup serta kemampuan manusia berpikir dalam menyampaikan sebuah kata per-hitungan detik menjadi premis tepat bagi saya untuk lebih memilih berbicara dengan diam.
Merokok : Merokok Rokok atau Menghisap Rokok ?
Apa yang menyebabkan rokok menjadi perhatian khusus hingga banyak menimbulkan implikasi ide? Jangan-jangan jawaban yang relevan adalah karena rokok menyebabkan orang merokok atau karena adanya rokok orang jadi menghisapnya. Ambigu memang jika kita mulai membandingkan antara merokok dengan menghisap rokok. Orang akan sadar bahwa merokok memiliki makna melakukan kegiatan rokok ; pertanyaan kemudian adalah kegiatan rokok macam apa yang dilakukan jika merokok disebut dengan sebuah kegiatan? Saya lebih tertarik melihat komparasi kata tersebut dalam perspektif ilmu jawa/linguistik jawa yang berbicara mengenai rurabasa, sebuah konteks yang sudah dibuat pada waktu silam mengenai kebenaran suatu kata yang salah akibat dari keseharian tetapi dianggap benar dan lumrah dimasyarakat. Contoh kata yang sering muncul adalah menggali sumur, secara kasat mata memang terlihat bahwa menggali sumur merupakan proses membuat sumur, tetapi jika dilihat kedalam logika kalimat ada sebuah kesalahan dimana sebenarnya bukan sumur yang akan digali melainkan tanah yang digali untuk dijadikan sumur. Dinamika ini yang menurut saya harus diluruskan dalam konteks kebahasaan, bahkan kita tidak menyadari bahwa hukum insitusional maupun konstitusional terbentuk akibat dari sebuah kata yang disusun rapi menjadi sebuah kalimat yang dengan proses begitu panjangnya menjadikan momok legitimasi konkret. Maksudnya adalah bisa jadi bahwa sumber utama implikasi dan perdebatan rokok itu bukan pada ekses adanya rokok itu sendiri melainkan karena kebahasaan dan kegiatan yang menyertainya. Seaindainya saya bisa menjawab siapa yang pertama kali melegetimasi kata rokok dan kegiatannya disebut dengan merokok, maka akan lebih mudah memilah bagian yang tepat dan kesalahan utama dalam benda ini.
Lalu kemudian dimunculkan alternatif kebahasaan lainnya, lebih baik menggunakan subtitusi kata menghisap rokok daripada merokok saja. Tetapi banyak di kalangan masyarakat mengkaitkan menghisap dengan stigma negatif, berapa banyak orang yang secara sadar menimpali atau bertanya kepada seseorang jika dia mengatakan sedang melakukan kegiatan merokok (merokok apa)? Kata ‘apa’ yang ada setelah merokok menjadi penegas atau pertanyaan riil untuk menanyakan rokok jenis apa, rokok yang seperti apa, atau mengasosiasikan kegiatan yang sama seperti ‘merokok’. Lagi-lagi kita dibuat bertanya kenapa harus mempunyai ambiguitas lagi, apakah merokok dan menghisap menjadi bentuk atau kegiatan negatif dan diasosiasikan ke dalam konteks yang lebih vulgar? Agak susah mendiskreditkan masyarakat Indonesia dan tidak adil jika mereka dianggap selalu berpikir vulgar (baca: anomali asosiasi negatif) tetapi memang kata itu memiliki persepsi personal yang berbeda-beda antara individu satu dengan lainnya. Lantas kenapa kata rokok menjadi spesial bukankah ada kata benda yang begitu banyaknya tetapi tidak bisa berdiri sendiri seperti kata rokok? Contoh : jika kita ingin mandi dan menggunakan gayung, apa pantas jika kita menyebut kegiatan mandi dengan gayung disebut menggayung? Bukankah hal yang sama jika kita melakukan kegiatan rokok kemudian disebut dengan merokok atau lebih aneh lagi dikatakan menghisap rokok?
Persoalan meracik katapun menjadi permasalahan yang begitu pelik, mungkin itu sebabnya rokok banyak dibicarakan oleh disipilin ilmu kebanyakan untuk menyoroti masalah dan memberikan kepastian solusi. Seaindainya ada yang peduli dengan praktek kebahasaan, terutama penggunaan dan logika kalimat dari bahasa Indonesia akan lebih menarik nantinya menarik beberapa hal dan permasalahan dari keabsahan rokok.









