Hiromi - Jazz in Marciac 2010 (fragm. 1) Canon in D
Hiromi Uehara playing jazz tunes on classical music (baroque)
ENJOY!
trust me absurd woman is more attractive than ordinary behaviour. Lykke li, Kimbra and Hiromi Uehara are female "brilliant-absurd" musician in my opinion of course.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
To the Wonder is a 2012 American romantic drama art film written and directed by Terrence Malick, starring Ben Affleck, Olga Kurylenko, Rachel McAdams, andJavier Bardem. The film premiered in competition at the 2012 Venice Film Festival.[2] The film is also notable for being the subject of Roger Ebert's last review, filed on March 16, 2013.[3]
pertama kali melihat film ini agak suprised, dari pertama narasi awal yang muncul sudah menunjukkan bahwa ini film "susah dicerna", dan hal kedua adalah cast film-nya adalah aktor dan aktris mainstream yang bermain di film non-mainstream.
permainan semiotika visual dan penggunaan ambient musik berhasil membuat saya agak tercengang, film dengan multi-intepretasi saya menyebutnya. Dialog? Hm.. sedikit tapi touchable.
pernah melihat film Cloud Atlas, kemudian cari OST Cloud Atlas yang berjudul Death is Only A Door? Coba dengar theme song di video trailer diatas deh; root akord (jalannya nada yang digunakan). karakter sound instrumentnya terus harmonisasi musiknya hampir sama, apa mungkin composernya juga yang membuat cloud atlas?
A Travel Journey (visualisation "Memorabilia of 0809")
i made spiritual, mature, and humanity journey from Yogyakarta - Surabaya - Malang.
Realistis dengan katarsis merupakan bagian yang khas dari serangkaian kehidupan personal saya. Intimasi hidup akan berakhir dengan dua hal, selalu dalam koridor kontradiksi (antonim). Gagal atau sukes, hidup atau mati, bahagia atau sedih, dsb. Begitulah fase yang kira-kira membuat saya lekas sadar bahwa saya tidak pernah merasa hidup dengan diam, tapi diam membutuhkan hidup dengan riuh.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Apa jadinya jika seorang Shakespeare ketika di jamannya tidak menciptakan Romeo dan Juliet, dan apa yang mungkin terjadi jika Marah Rusli tidak menuliskan Siti Nurbaya dikertas-kertasnya ? Aku akan tetap sangsi bahwa cinta masih terus ada batasannya tanpa harus ada hadirnya pencipta-pencipta intrik romansa. Naturalistis cinta mampu membuat paradoks antara logika dan negasinya. Lalu untuk apa orang saling mencintai jika terbatas itu ada. Batas yang aku tahu didefinisikan sebagai ketentuan atau hal dalam bentuk dan bidang tertentu yang tidak boleh dilampui atau dilalui, sedangkan orang mencinta tanpa batasan dan keraguan. Jika ada pepatah mengatakan cinta mampu mengalahkan logika, maka secara silogis, batasan menjadi tidak eksis dan tidak ada. Aku tidak mengerti seromantiskah cinta hingga orang rela bunuh diri untuk menunjukkan cintanya, atau seironiskahnya cinta dimana banyak orang rela merubah dirinya hanya demi cinta. Aristoteles menemukan bentuk nyata cinta dimulai dengan mendefinisikan keindahan dan rasa (Aesthetics) dari proses meniru (mimata) dan seni, lalu dimanakah seharunya kita meletakkan cinta untuk mencintai dan posisi cinta untuk dicintai. Dengan intrik dan problematika cinta akhirnya orang mulai mendefinisikan cinta dengan persepsi mereka, bahkan secara hermeneutika banyak literatur yang secara implisit menguraikan definisi cinta agar menstimulasi orang untuk mencari cinta secara defenitif. Tetapi lagi orang akhirnya sadar bahwa cinta adalah bentuk yang tidak terdefinisi, sehingga ukuran cinta menjadi absurd ketika orang lain sadar bahwa mencintai bukan bentuk melainkan sebuah tanda. Akankah aku bersama orang lain terkurung dalam bentuk mencinta, bentuk yang direalisasikan, terlihat seperti benda yang terdefenisi atau memang seharusnya cinta tidak perlu dipikir tetapi hanya dirasakan?
Aku mungkin satu dari beberapa orang yang pernah menanyakan hal yang sama; Dimanakah letak cinta jika cinta dirasakan dan berada di hati? Aku tidak pernah setuju dengan proses deskripsi cinta yang merujuk pada ke-tidak logis-an. Bagiku cinta itu nyata, bisa dijelaskan, dirasakan juga mungkin, bahkan mampu dipikirkan. Apa bedanya aku mencintai orang tua, aku mencintai Tuhan dan aku mencintai pasanganku? Ketika aku mengajukan pertanyaan seperti ini kepada orang lain mungkin ucapan pertama yang muncul adalah : “ya bedalah!” , dan akhirnya keraguanku bahwa mencinta tidak ada batasnya ternyata benar. Manusia memberi sekat, sebuah pembeda sendiri agar memiliki batasan mencinta, apakah aku sadar bahwa selama ini cinta begitu diskriminatif? Sangat pemilih? Tidak memihak? Egois? Aku sadar bahwa kadang menulis soal cinta seperti sedang mencari sebuah koin di dalam kolam renang. Bisa ditemukan, tapi membutuhkan proses dan waktu. Aku hanya kecewa dengan orang yang mengatas namakan cinta, tetapi mereka menolak cinta mereka; Orang berbondong-bondong menikah hanya untuk alasan cerai jika tidak cinta lagi, orang mencinta diukur dari cintanya mereka pada Tuhan yang sama, orang ingin dicintai karena ada alasan mencinta yang logis tapi mereka bersembunyi di dalam kotak yang bertuliskan tidak cinta. Adakah solusi lain ketika cinta itu tidak ada batasan? Apakah takut menghancurkan tembok disekitar paradigma cinta agar batasan cinta runtuh? Apakah mencintai Tuhan harus dengan batasan dan ada faktor pembedanya? Entah dengan cara apalagi menjelaskan dan menyelaraskan bahwa cinta bukan berada di HATI tetapi berada di OTAK. Neuroscience, Psychological, Humanistic and Philosophy sudah mampu menjelaskan kenapa-mengapa kita bisa menangis, perih dan sakit ketika berhadapan dengan cinta. Seaindainya saja orang mau menutup dan menitipkan tutupnya pada orang lain tanpa harus menitip agar ditutup terlebih dahulu maka proses dan skema mencintai terlihat menjadi sebuah tanda bukan bentuk.
Berbeda hampir selalu menjadi batasan, tetapi batasan belum tentu sebuah perbedaan. Apa yang menjadi pembeda harusnya tidak menjadi batasan karena premis yang muncul akan siur sifatnya. Bayangkan apabila orang menyadari bahwa mencintai itu personal dan tidak ada sudut pandang bias kolektif ; Homosexual tidak perlu lagi harus memperjuangkan haknya karena masing-masing orang sudah tahu bahwa menjadi seorang homosexual adalah kelainan yang berbeda konteks, para pasangan berbeda agama tidak perlu risau dengan keadaan agamanya selama saling dan percaya bahwa masing-masing mencintai, orang tua tidak perlu malu dan merasa gengsi dihadapan teman-temannya harus mendapatkan menantu yang luar biasa atau secara stratifikasi sosial sama. Simulasi yang memperlihatkan manusia sudah semakin dewasa, semakin sadar bahwa konteks bentuk dan tanda itu berbeda.
Tetapi sayangnya apa yang aku tuliskan hanya sebuah tulisan, bukan rajutan kata melainkan bentuk mekanis primer, sinkronisasi otak dan menyampaikan kedalam bentuk huruf. Tidak perlu didengarkan, aku selalu berbicara dengan diam, tidak perlu mengerakkan dinding bibir, hanya mata dan tangan yang bekerja karena aku berbicara dengan diam, ya dengan diam. Aku tidak akan berusaha memahami seluruh kalimat yang tersusun menjadi sebuah paragraf ini, bagiku memahami tulisanku sama saja berusaha mengorek kinerja saraf motorik di otak aku. Belajarlah diam, nikmati batasan dengan pembedanya, rasakan perihnya, suatu saat kalian akan mengetahui bahwa hati itu di OTAK bukan di dada kalian!