disimpan, dirahasiakan, tapi tetap dirasakan
Bagaimana jika bermain ‘jika saja’ atau ‘seandainya’ diizinkan dalam sebuah khayalan?
Tentu. Tentu saja dalam sebuah khayalan hanya berisi ‘jika saja’ dan ‘seandainya’. Memangnya apalagi yang ada di dalam sebuah khayalan selain itu? Namanya juga khayalan.
Baiklah. Ini tentang khayalan. Tentang imajinasi. Tentang ‘jika saja’ dan ‘seandainya’ yang telah bercampur aduk dengan kenyataan. Tidak boleh sama sekali ada yang marah. Bukankah presiden di khayalan adalah kita sendiri? Tidak boleh ada yang protes sama sekali. Bukankah semua ini hanya ‘seandainya’ dan ‘jika saja’ yang dimainkan seorang perindu?
Ya, ini tentang khayalan si perindu yang setengah gila setelah patah tiga dua musim hujan terakhir. Patah tiga. Namanya Hari. Mata Hari. Besar sekali cita-cita orang tuanya sewaktu menanamkan nama itu dulu 24 tahun yang lalu. Dan sejak Hari pandai melangkahkan kaki, aku telah mengenal semua tingkah lakunya.
Cerita ini bukan tentang Hari yang perlahan tumbuh dewasa. Juga bukan tentang kisah cintaku dengannya. Tapi tentang Hari dan jatuh cintanya yang luar biasa. Entahlah aku hanya terlalu remaja untuk paham dengan kata ‘jatuh cinta’ hingga begitu kagum dengan kisahya.
Hari, menyimpan sebuah nama. Nama yang jarang sekali ia ucapkan. Nama yang tidak pernah membuatnya menangis karna patah hati meskipun sejak enam tahun nama itu dikenalnya, belum pernah sekalipun Hari mengurangi porsi ruangan untuk si pemilik nama.
Hari benar-benar sedang jatuh cinta dan cukup menyimpannya sendiri. Meskipun 5 tahun yang lalu ia pernah punya kecupan-kecupan yang belum sempat dicatat, dekapan-dekapan yang belum sempat diikat, Hari tetap tidak mau lagi melepaskan apa yang ia jaga rapat-rapat.
“Cukup aku yang tau. Jika dia juga masih sama, biar cukup dia yang tau” katanya suatu hari.
Aku masih tidak mengerti tentang kata ‘cinta’ ini. Lihat cara kerjanya pada orang seperti Hari yang begitu mengutuk diri sebab hanya bisa berkhayal tentang ‘cinta’nya ini dan begitu membenci pria-pria pengecut yang tidak berani memeluk si pemilik nama dengan halal.
“Seandainya aku pantas, dan ini bukan hal larangan, kau tentu tau takkan kubiarkan dia menunggu. Aku benci mereka yang tidak dilarang itu hanya terlahir sebagai pengecut buta yang membiarkannya sendirian selama itu” katanya di hari yang sama.
Dan itulah kalimat Hari yang cukup menjelaskan perasaan jenis apa yang ia tahan, jenis ‘cinta’ macam apa yang ia rahasiakan bahkan pada si pemilik nama. Jenis ‘cinta’ yang tidak perlu diperlihatkan dengan cara apapun. Hanya boleh dirasakan, disimpan, dan dirahasiakan. Katanya.