Aku tidak takut miskin.
Aku hanya takut
ketika dunia datang terlalu banyak,
lalu Allah
tak lagi kurindukan.
Noah Kahan
Today's Document
Monterey Bay Aquarium
hello vonnie
d e v o n
Fai_Ryy
he wasn't even looking at me and he found me

★
Misplaced Lens Cap
Not today Justin

roma★
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
One Nice Bug Per Day
Game of Thrones Daily
h
YOU ARE THE REASON

bliss lane

Jar Jar Binks Fan Club
sheepfilms
Show & Tell
seen from United States

seen from Canada

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Germany
seen from United States

seen from United States
seen from Norway
seen from Chile

seen from Belgium

seen from Ecuador

seen from Türkiye
seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Brazil
@chumyee
Aku tidak takut miskin.
Aku hanya takut
ketika dunia datang terlalu banyak,
lalu Allah
tak lagi kurindukan.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
hanya bisa diberikan
di dalam hubungan—apalagi di dalam pernikahan—ada hal-hal yang bisa diminta lalu diberikan, tetapi ada hal-hal yang hanya bisa diberikan. yang hanya bisa diberikan itu, tidak bisa diminta. sekeras apapun dipaksakan, tidak akan bisa keluar kalau hatinya memang tidak ada atau tidak di sana. tidak akan sampai.
uang/nafkah itu bisa diminta, tetapi kasih sayang yang tulus hanya bisa diberikan.
waktu itu bisa diminta, tetapi perhatian yang penuh, kehadiran yang utuh, hanya bisa diberikan.
bantuan itu bisa diminta, tetapi dukungan tanpa tapi-tapi itu hanya bisa diberikan.
hadiah itu bisa diminta, tetapi “selalu mengingat dan mempertimbangkan pihak lainnya” hanya bisa diberikan.
kabar itu bisa diminta, tetapi cerita, kejujuran, dan keterbukaan itu hanya bisa diberikan.
pemenuhan janji bisa diminta, tetapi kepercayaan hanya bisa diberikan.
kebersamaan itu bisa diminta, tetapi kesetiaan baik saat bersama maupun tidak hanya bisa diberikan.
maaf itu bisa diminta, tetapi keridhoan hanya bisa diberikan.
dalam pernikahan, yang hanya bisa diberikan itu seharusnya bukan kemewahan. itu bare minimum. menerimanya adalah hak bagi yang menikah.
lalu seharusnya, memberikannya juga adalah kewajiban bagi yang menikah. kalau yang punya kewajiban itu benar-benar menghayati perannya dalam pernikahan, benar-benar membekali diri dengan ilmu dan iman, kewajiban itu sama sekali bukan beban. melakukannya semudah bernapas di kala diri sehat dan udara sedang bersih-bersihnya. effortless, tanpa usaha.
ada satu lagi yang hanya bisa diberikan dalam pernikahan, tetapi ini Allah yang memberikan. namanya ketenangan. itulah tujuan pernikahan dan itulah yang kita minta kepada Allah dari sebuah pernikahan: pasangan yang menjadi rumah tempat kita selalu pulang.
selamat memberikan yang hanya bisa diberikan. selamat menerimanya. semoga Allah memberikan kalian ketenangan.
barangkali ada
barangkali ada di antara teman-teman yang sama seperti saya: telah babak belur, terseok-seok berjuang menjaga keimanan, pikiran, perasaan, ucapan, tulisan, perbuatan.
barangkali ada di antara teman-teman yang sama seperti saya: merasa hidup kadang tidak adil, nyaris memutuskan tidak sanggup melalui badai dunia, bingung takdir mana yang ujian mana yang hukuman.
barangkali ada di antara teman-teman yang sama seperti saya: kecewa berkali-kali, patah hati sampai tidak ada yang bisa dipatahkan lagi. tercerai-berai, tetapi entah mengapa Allah kuatkan lagi.
barangkali ada di antara teman-teman yang ingin Kembali dan Sembuh sama seperti saya: Kembali kepada jalan Allah yang Dia ridhoi, bertaubat setaubat-taubatnya, memohon keberkahan hidup, dan mendambakan kepulangan yang paling lembut. lalu Sembuh, punya keyakinan untuk melangkah lagi, setiap hari, setapak demi setapak. hidup dengan kebahagiaan dan ketenangan yang sunyi.
menyambut sepuluh hari terbaik, izinkan saya menemani kamu. atau mungkin, tolong temani saya. yuk kita sama-sama Kembali dan Sembuh. dan semoga Allah menjadikan kita sebersih hari kita dilahirkan ke dunia.
buku Doa Arafah ini panjangnya 80 halaman B6 atau A5. memuat semua Asmaul Husna dan banyak doa Qurani dan Sunnah. sengaja disusun agar pada tanggal 9 Dzulhijjah--pada hari Arafah--saya (dan mas Yunus) punya bekal yang cukup perihal apa yang ingin diminta kepada Allah Swt. saya memperkirakan, buku ini akan habis dibaca sambil berdoa dalam sekitar 4-6 jam.
buku ini saya persembahkan juga untuk teman-teman Tumblr-ku, yang selalu jadi semangat saya menulis. gratis, tidak ada hak cipta, boleh disebarluaskan, boleh diedit sesuai kondisi diri. buku Kembali dan Sembuh dapat diunduh di sini.
kalau buku ini bermanfaat untukmu, kasih tau saya ya. boleh kirim DM, reply, atau reblog postingan ini.
selamat Kembali dan Sembuh. semoga Allah memelukmu selalu.
Sudah banting tulang, sudah lari mengejar target, tapi kadang urusan justru makin terasa semrawut.
Mungkin ada variabel yang lupa kita libatkan: Keberkahan. Karena rezeki tanpa berkah itu seperti minum air laut; semakin diminum, semakin haus. Berhenti sejenak, tarik napas, dan mintalah kemudahan dari Pemilik urusan.
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Robbish-rohli sodri, wa yassir-li amri, wahlul 'uqdatam-mil-lisani, yafqohu qouli.
Sebagaimana Allah sabar menunggu taubatmu, seharusnya pun demikian, kita harus jauh lebih sabar menunggu doa-doa itu di kabulkan satu-satu. Karena yang satu adalah sabar tentang kesadaran kita, dan yang satu sabar untuk kebutuhan kita.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Harapan untukmu.
Untuk besok, lusa, atau kapan pun kamu merasa serba salah dan tak tahu harus mulai dari mana, semoga Allah tetap mempertemukanmu dengan kebaikan-kebaikan kecil yang datang tanpa diminta. Lewat kalimat hangat yang tak sengaja terbaca, lewat percakapan singkat, lewat hal-hal sederhana yang membuatmu ingat bahwa hidup ini masih layak untuk dijalani. Semoga dari semua momen kecil itu, tumbuh keberanian untuk tetap bertahan dan melangkah, meski pelan.
Untuk hari-hari ketika kamu merasa bingung bagaimana caranya menjadi "pantas", semoga hatimu diluaskan untuk menerima segala kurang yang ada. Semoga kamu dipeluk oleh kehadiran orang-orang yang tidak membuatmu meragukan nilai dirimu sendiri. Dan lebih dari itu, semoga kamu mampu memeluk dirimu sendiri: mengakui, memaafkan, lalu tetap melanjutkan hidup dengan segala yang kamu sukai, sebagai bentuk syukur yang paling sederhana.
Jika kamu menemukan tulisan ini saat kamu kebingungan mencari arah, saat doa-doamu terasa jauh, atau saat kamu masih sibuk menunjuk-nujuk dirimu sebagai kesalahan, aku hanya ingin mengatakan: bahwa kita tidak perlu menjadi siapa-siapa untuk paham. Kamu tidak perlu tergesa-gesa untuk menemukan makna. Kamu tidak perlu memaksa diri untuk cepat mengerti. Cukup tetap pulang, cukup tetap percaya.
Sebab Allah tidak pernah menelantarkan hamba-Nya hanya karena ia belum menemukan jalannya. Bahkan dalam bingungmu, dalam jatuhmu, dalam diammu yang panjang, Dia tetap menjaga. Maka jika hari ini kamu masih bertahan, masih mencoba, itu bukan hal kecil. Itu adalah tanda bahwa Allah masih menggenggam tanganmu, meski kamu belum menyadarinya:")
Lelah, Tapi Masih Ingin Percaya
Tuhan, aku menyerah. Di mana “yang terbaik” yang selama ini kuucapkan dalam doa, di antara malam-malam yang tak lagi punya nama? Di mana “yang terbaik” yang pernah kumohonkan pada-Mu tiga, lima tahun belakangan, sampai kata-kata itu sendiri terasa seperti batu yang habis digosok dan jadi tumpul?
Kalimat itu menggantung berulang-ulang di kepalaku. Beratus kali aku mengucapkannya dalam hati, beratus kali pula aku menelannya lagi sebelum sempat menjadi suara. Aku menipu pikiranku sendiri dengan kata sabar, dengan kata yakin, padahal di dalamnya ada ruang kosong yang minta diisi.
Aku pernah berada di satu masa ketika doa menjadi satu-satunya bahasa yang kumiliki. Aku menggumamkan “yang terbaik” dengan sisa napas yang bahkan tak sempat kuberi tanda tanya. Aku mengulangnya seperti mantra, berharap Tuhan mengerti yang tidak bisa kujelaskan.
Tapi di titik-titik tertentu, aku mulai ragu. Apakah aku benar-benar mendapat yang terbaik, atau hanya sedang belajar menelan kenyataan? Apakah doa ini masih berjalan, atau hanya memantul kembali ke diriku sendiri, tanpa ada yang menangkapnya?
Aku tidak kapok. Sekali lagi, Tuhan, aku mohonkan “yang terbaik” dari-Mu untukku. Aku mohon, meski tak tahu seperti apa rupa “terbaik” itu, meski aku tak tahu kapan akan datangnya. Aku mohon, dengan sisa yang masih ada pada diriku—napas, luka, dan sedikit keberanian untuk percaya lagi.
Menulislah.
Karena tidak semua orang punya tempat untuk pulang, dan tidak semua luka punya suara.
Ada yang berjalan jauh sendirian, membawa banyak hal yang tidak pernah sempat diceritakan.
Maka tulislah. Karena melalui kata-kata, seseorang bisa menemukan apa yang selama ini sulit ia jelaskan.
Kata-kata mungkin tidak menyembuhkan, tapi setidaknya bisa menjadi tempat singgah. bagi hati yang terlalu lelah untuk terus kuat.
Dan kalau pun tidak ada yang membaca, setidaknya tulisan itu pernah ada, sebagai bukti bahwa pernah ada perasaan yang ingin didengarkan.
Menulislah.
Karena mungkin, di luar sana, ada seseorang yang sedang tersesat…
dan diam-diam menemukan jalan pulangnya dari kata-kata yang kau tinggalkan.
Tuhan, Kita, dan Waktu
Kita hidup di zaman yang menyembah kecepatan. Klik sekarang, kirim sekarang, perbaiki sekarang, sembuh sekarang, sukses sekarang, baik-baik saja sekarang, tanpa sempat benar-benar merasakan luka, kehilangan, atau bahkan harapan. Dan ketika hidup nggak sesuai ritme itu—ketika doa menggema tanpa jawaban dan pintu tetap tertutup—kita panik. Kita putus asa. Kita pikir penundaan itu penolakan. Kita pikir Tuhan nggak dengerin kita. Diamnya Tuhan kita anggap kalau Dia nggak peduli.
Tapi gimana kalau ternyata nggak seperti itu? Gimana kalau penundaan itu justru bagian dari rencana-Nya?
“Tenang aja. Tuhan nggak pernah terlambat.”
Meski mungkin kesannya cuma nasihat umum, kalimat itu terdengar menenangkan. Dan kalau kita resapi sungguh-sungguh, kalimat itu menghadapkan kita pada kenyataan bahwa kita nggak sepenuhnya pegang kendali atas hidup ini. Kita nggak bisa mengendalikan waktu, hasil, atau cara semesta bekerja di balik layar.
Kita mau Tuhan mengurus semuanya dengan cepat. Kita selalu ingin jawabannya. Kita ingin sembuh tanpa pernah benar-benar sakit. Kita ingin semua jelas, tanpa harus masuk ke kekacauan. Tapi, bukan gitu cara kerja-Nya. Tuhan nggak terburu-buru. Itu bikin kita frustrasi setengah mati.
Tapi kalau kita berani berhenti sebentar untuk benar-benar melihat… momen sakit, jeda panjang tanpa jawaban, musim penantian—itu bukan penolakan atau hukuman. Itu arena di mana hal-hal terdalam dari diri kita mungkin sedang dibentuk dan siap dilahirkan: ketabahan, kerendahan hati, iman, kasih. Kita bukan cuma sekadar bertahan aja di masa tunggu itu, tapi melaluinya, kita menjadi sosok yang baru.
Di balik semua itu, mungkin justru ada maksud yang jauh lebih dalam. Mungkin penundaan itu adalah cara Tuhan menyelamatkan kita dari kehidupan yang perlahan mengikis jiwa. Mungkin patah hati itu disengaja dan langkah kita tertunda cukup lama agar kita sempat tumbuh menjadi seseorang yang benar-benar mampu mencintai dengan benar. Mungkin doa yang belum dijawab itu bukan karena Tuhan lupa, tapi karena hati kita belum siap menerima dampaknya—yang justru menghancurkan kita jika dikabulkan di saat itu juga.
Tuhan bukan mesin otomatis tempat kita masukin harapan lalu keluar jawaban. Tuhan bukan tukang sulap. Dia nggak terikat waktu kita atau tenggat yang kita buat-buat sendiri. Tapi Dia setia. Dan selalu datang di waktu yang tepat.
Kita bukannya dilupakan. Kita hanya sedang dipersiapkan.
Beberapa keajaiban memang butuh waktu lebih lama untuk mekar. Dan beberapa doa baru akan dijawab saat jiwa kita siap—bukan hanya untuk menerimanya, tapi juga untuk menjaganya.
Jadi, tenang aja. Tuhan nggak pernah terlambat.
Dia sedang mengajarkan kita untuk menunggu... tanpa kehilangan arah.
Dan mungkin, ya mungkin... Memang itulah keajaiban yang paling kita butuhkan sejak awal.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Tuhan Tidak Tendensius
Ada saat di hidup kita, ketika satu kejadian pahit terasa cukup buat bikin kita yakin bahwa Allah sedang melawan kita dan memihak orang lain. Misalnya, doa yang tak kunjung dikabulkan, orang terdekat yang tiba-tiba pergi, takdir menyenangkan orang lain yang keliatan lebih effortless, atau kegagalan yang meruntuhkan semua harapan dan rencana. Tampaknya, semua hal dibuat sulit hanya untuk kita dan orang lain tidak. Jelas geer murahan yang tidak reliabel, yang kita klaim sebagai fakta, padahal itu bias dari sampel tunggal bernama hidup kita.
Agak ngeri juga ya, nantangin by one sama Tuhan Semesta Alam :v
Kita pernah jadi peneliti tolol yang semena-mena bikin kesimpulan besar dari sampel tunggal (yakni pengalaman pribadi). Dalam penelitian, kalau cuma punya sample size = 1, hasilnya nyaris tidak bisa dipakai buat generalisasi, sebab pengalaman pribadi hanyalah satu data point dari "big data" ciptaan Allah. Sedangkan Allah punya akses ke seluruh populasi baik itu masa lalu, masa kini, masa depan, yang kelihatan, maupun yang tersembunyi. Jadi keputusan Allah selalu berdasarkan n = ∞.
Kalau n (jumlah sampel) kecil, maka akurasi rendah, hasilnya bias, dan margin of error besar. Sebaliknya, kalau n besar maka akan mendekati populasi, hasil makin akurat dan representatif, kesimpulan makin bisa dipercaya.
Sekarang, kita punya dua kasus.
Pertama: "kalau kita terluka, maka Allah jahat". Ada banyak bias di pernyataan ini. Negativity bias (satu sakit bisa "menghapus" seribu nikmat sehat sebelumnya), availability bias (pikiran cepat banget mengakses pengalaman yang paling segar/menyakitkan karena data itu yang paling gampang muncul di memori), egocentric bias (semua hal ditafsirkan dengan diri sendiri sebagai pusat), ditambah jumping to a conclusion. Kurang bodoh apa?
Kedua: "kalau kita bahagia, maka Allah sedang berpihak pada kita." Lebih enak sih kedengarannya, tapi tetap pakai cara pikir yang sama dangkalnya. Ada banyak bias juga di pernyataan itu. Confirmation bias (kita suka "menemukan bukti" sesuai keinginan hati), self-serving bias (klaim seolah-olah semesta revolve around me), egocentric bias, lagi, (tolok ukur "Allah baik" diambil dari kenyamanan pribadi, pusatnya ego lagi), dan overgeneralization.
Sama-sama geer, cuma kali ini geernya dibungkus syukur palsu, soalnya lagi-lagi penilaiannya subjektif, bergantung pada mood dan pengalaman sesaat. Plus, dua-duanya pakai ukuran diri sendiri sebagai standar mutlak. Dua-duanya pakai sampel tunggal untuk menilai "populasi" sebesar Allah. Cara pikir kaya gitu memang aneh/keliru, karena pakai logika manusia bias untuk menilai Zat yang tidak terbatas.
Jadi, apa bukti Allah itu baik?
Kalau pakai logika sampel tunggal (n = 1), kita bakal jatuh ke jawaban sepotong, "karena aku pernah senang, karena doa aku pernah dikabulkan, karena aku sehat hari ini." Jawaban itu rapuh karena besok kalau sakit lagi, logika yang sama bisa dipakai untuk bilang "Allah jahat".
Kalau pakai logika populasi (n = ∞), maka Allah punya seluruh data, dan kebaikan-Nya mencakup seluruh aspek. Jadi bukti "Allah baik" tidak berdiri pada 1 pengalaman, tapi pada keseluruhan realitas.
Allah dan Kerangka Empirisme
Jadi, bukti Allah baik bukan cuma soal empiris. Dan sebenarnya Allah tidak bisa didekati secara empiris. Kenapa? Karena Allah bukan objek sains.
Objek sains itu:
Terdefinisi (ada kesepakatan jelas tentang apa itu)
Bisa diukur (kalau bisa diukur, berarti ada batasnya)
Ada di ruang dan waktu (bisa kita jangkau untuk diuji)
Sejak awal, Allah sudah mendefinisikan dan memperkenalkan diri-Nya sebagai Sang Maha. "Maha" artinya tak terbatas, dan yang tak terbatas itu tidak bisa diukur.
Sekarang bayangkan, logika macam apa yang ingin coba mengukur sesuatu yang Maha? Penggaris macam apa yang ingin kita pakai? Manusia jelas tidak punya instrumen yang valid untuk menakar sifat atau keputusan Allah. Pada kerangka apa kita ingin menguji Tuhan? Perkara bodoh dan dangkal, kan?
"The absence of proof is not proof of absence."
Ketika kamu merasa tidak punya pengalaman pribadi yang bisa dipakai sebagai evidence kebaikan Allah, jangan berhenti di situ. Ketiadaan bukti bahwa "Allah baik" di hidupmu, bukanlah bukti Allah tidak baik.
Bisa jadi datanya ada, tapi kita belum sadar atau belum punya syukur di hati. Atau bukti itu baru akan muncul nanti, atau Allah sengaja sembunyikan demi hikmah yang lebih besar.
Terus gimana kalau belum nemu bukti itu?
Sadar posisi bahwa kita terbatas. Kita hidup dengan "sample size = 1" yang artinya data yang kita pegang itu sangat sedikit dibanding "populasi" realitas yang Allah pegang. Selanjutnya, latih cara dan gaya pandang. Carilah tanda yang mendekatkan diri untuk mengenal-Nya.
Itu sebabnya, saat Allah memerintahkan Iqra' (bacalah), Dia tidak bilang "iqra' rabbaka" (bacalah Tuhanmu) Tapi "iqra' bismi rabbik" (bacalah atas nama Tuhanmu)
Artinya, Allah nyuruh kita membaca ciptaan-Nya, tanda-tanda-Nya, ayat-ayat di alam (kauniyah) dan dalam wahyu (qauliyah), untuk mengenal Allah, bukan untuk "mengukur" Allah dengan keterbatasan alat sensori dan persepsi kita.
Maka itulah pentingnya kenalan sama Allah sebelum menerobos realitas. Supaya dalam kedukaan dan keterlukaan pun, kita tetap memiliki rasa hormat kepada Allah, bahwa Allah Maha Bijaksana atas setiap pengambilan keputusan-Nya. Supaya sabar lebih dapat didahulukan daripada marah, menuntut, dan protes. Supaya tidak jadi orang sotoy dan menggurui Allah.
Dan dalam kebahagiaan pun sama. Supaya kita tidak buru-buru merasa semua nikmat adalah hasil usaha sendiri, atau geer bahwa Allah lebih sayang pada kita dibanding orang lain. Supaya syukur lebih didahulukan daripada sombong, bangga diri, atau meremehkan cara hidup yang lain.
Allah al-Wakil bertindak atas dasar populasi total, yang mempertimbangkan semua variabel, semua waktu, semua konsekuensi. Keputusan-Nya mencakup keseluruhan realitas, bukan cuma fragmen hidup seseorang saja. Jadi jangan buru-buru menyimpulkan Allah tidak baik hanya karena hidupmu belum terasa "dibuktikan" oleh-Nya.
Kalau pengen dipihak oleh Allah, gimana? Banyak caranya di Qur'an, salah satunya bersabar. Kalimatnya jelas, "inna Allaha ma'a shabirin".
Sabar adalah jenis sikap yang sangat bergantung pada kerangka waktu. Artinya, kita tidak menyerah terhadap Allah. Kita tidak buru-buru mundur saat mengenal Allah meski belum paham. Kita tidak mengedepankan logika, nafsu, ego, dan apapun yang sifatnya menambah kesombongan, meski belum dapat hasil. Lagian, makin sombong kita, makin tidak dikenali kita sebagai hamba. Makin susah mengenal diri as human being. Dan makin susah pula berteman dengan sesama human.
Banyak orang cepat kecewa lalu mundur dari iman hanya karena satu episode pahit. Sabar juga berarti tidak kabur hanya karena logika sesaat belum nyambung, dan menahan diri dari dorongan instan yang biasanya bikin kita nge-judge Allah. Banyak tafsiran lainnya lagi soal sabar, baca-baca aja di mana-mana.
Akhir kata, mari kita benahi pemahaman tentang qadha dan qadar, serta konsep diri sebagai manusia yang punya akal dan kemampuan memilih. Supaya ngerti betapa objektif dan tidak memihaknya Allah dalam penyusunan algoritma qadha dan qadar dan penempatan manusia di dalamnya.
Kedua pemahaman ini, jika dikombinasikan, bisa melahirkan sikap haunan, seperti Nabi Adam dalam doanya, rabbana dzalamna anfusana dst.
Life’s path is no fixed line; it is shaped by co-contributors who navigate its branching roads.
(Artinya, bukan Tuhan yang jahat, elu aja yang dzalim ke diri sendiri. Output lu itu bergantung input dan decision making yang lu pilih sendiri. Jangan salahin Tuhan kalo hasilnya malapetaka dan bencana. Stop ngerasa jadi korban di masalah yang lu buat sendiri.)
— Giza, tulisan ini isinya kayak marah-marah tapi jujur emang berangkat dari rasa kesel sama orang-orang masa kini yang asbun soal Allah padahal ga kenal Allah. Iqra lagi sono, jangan cinta-cintaan mulu. Giliran terluka nyalahinnya Allah.
Ketika aku belum memahami tentang apa yang Engkau pilihkan padaku, Ya Rabb, aku tetap berusaha menjalani apa yang Engkau pilihkan. Berjalan terus, walau belum mengerti hikmah apa yang ada diujung perjalanan.
Bahkan ketika kegagalan berulang kali dilalui, akhirnya aku tahu; bahwa ruh ku sedang Engkau isi dengan caranya berserah diri, caranya berharap hanya kepadaMu, dan caranya mensyukuri nikmat iman yang tak semua hamba Engkau ridhoi.
Mungkin rencanaku "sengaja" dihancurkan agar tak menghancurkanku. Mungkin harapanku sengaja dipatahkan agar tak berbalik mematahkanku.
Kalaulah dunia ini adalah sebuah kereta, maka Engkau-lah yang tau arah kemudinya. Aku hanyalah penumpang yang tak melihat apa yang Engkau lihat. Aku tak tahu apa yang Engkau tahu.
Maka, dari semua pilihan yang Engkau pilihkan untukku --untuk kehidupanku, dari semua hikmah yang berserakan dijalanMu, aku menyadari bahwa; pilihanMu lebih aku cintai dari pilihanku sendiri.
Yaa Rabb, maafkan aku yang sering berprasangka buruk pada segala ketetapan-Mu.
Depok, 8 Mei 2025, 23.00
Meski berkali-kali patah, ngga papa.
Tetap lanjutkan hidup meski mengiris di dalam hati merasa hingga tumpul keadaan yang mengiris itu.
Ketika nyawa belum habis, jangan ada menyerah.
Istirahat untuk pemulihan lalu lanjutkan hidup.
Jadikan Allah saksi utama untuk menunjukkan betapa lemah dan hancurnya hidup yang dijalani.
dari Dia-lah obat dan pertolongan itu hadir dengan doa dan prasangka baik
i dont know but it is quite hard
semoga dikuatkan dan dimampukan
Selalu ingat bahwa yang terjadi padamu hari ini, kemarin dan esok hari adalah catatan terbaik yang sudah Allah tulis.
28 Januari 2024

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming