Ibu-Bapak (ku) :')
Mike Driver
cherry valley forever

❣ Chile in a Photography ❣
Noah Kahan
occasionally subtle

One Nice Bug Per Day
taylor price

titsay
tumblr dot com
KIROKAZE
macklin celebrini has autism
Lint Roller? I Barely Know Her

izzy's playlists!
RMH
ojovivo

Kiana Khansmith
Cosimo Galluzzi
The Bowery Presents
seen from Poland

seen from United Kingdom
seen from Germany

seen from Canada
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Brazil

seen from United States
seen from Russia

seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Poland
seen from Netherlands

seen from Spain

seen from Egypt
seen from T1

seen from United Kingdom
@bintuhasyim
Ibu-Bapak (ku) :')

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Dear February, selamat menjadi "newbie" lagi. Semoga kemudahan dan keberkahan selalu menyertaimu. Mungkin memang semua atas usahamu, tapi jangan lupakan doa ibumu, apalagi kehendak Tuhanmu. Chaiyoo bro🍃🍃🍃
Engkau mencintaiku seperti kata kerja bu, tidak pernah diam. Sibuk menata bahagia untukku seluas semesta, tidak pernah jeda, dan di langit kulihat bintang dan bulan tertawa. Ah, ternyata ada do'a ibu di sana.
-Vivi Aramie-
Do'a ibu seumpama cinta yang tak hingga, yang melangit lalu kembali ke bumi🌻
Pulanglah.
Jika bising di luar membuatmu tak bisa bicara. Di sini masih sunyi. Sepelan apapun kata-kata keluar akan tetap ditangkap telinga.
Pulanglah.
Jika panasnya jalanan membuat kulitmu berubah warna. Di sini tetap teduh. Seberapapun matahari menampakkan wajahnya kau tak akan gerah.
Pulanglah.
Jika di luar sana kau se-orang dipenuhi sesak, sibuk menangisi kecewa yang berserak. Di sini kau tak sendiri. Menangis pun ditemani.
Pulanglah nak..
Di luar; seberapapun kau kejar bahagia. Di rumah ada segalanya.
(Vivi Aramie)
Dari sekian banyak keputusan yang pernah kamu ambil, adakah keputusan yang kamu sesali?
Saat kita tak berdaya dan berandai bisa memutar waktu, meski tak mungkin. Dan kita menjalani sebuah keputusan yang ternyata membawa kita pada kondisi yang begitu berat. Dan kita tak tahu seberapa jauh ujung dari konsekuensi atas keputusan yang pernah kita buat.
Kita karena kondisi saat ini pula kita menjadi takut untuk membuat keputusan lagi, karena khawatir membuat keputusan serupa, serupa gegabahnya, serupa beratnya, serupa melelahkannya. Kita tak cukup berani, tak cukup percaya diri bahwa kita bisa membuat keputusan yang lebih baik. Kita takut kembali mengecewakan orang-orang terdekat. Kita takut melukai orang-orang yang kita sayangi.
Dan akhirnya kita berkutat pada masalah yang sama, seumur hidup, kita takut untuk lulus dari ujian ini. Padahal, kalau memang kita ingin mndapatkan pembelajaran dan hikmah, barangkali jalannya adalah dengan kita perlu membuat keputusan baru.
©kurniawangunadi

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Hendaknya Kita Mengukur Diri
@edgarhamas
Abu Darda, sahabat besar itu pernah berkata, "tiga alamat orang bodoh; suka takjub dengan diri sendiri dan banyak hal, suka berpikir apa-apa yang sebenarnya tidak untuk dipikirkan, dan memerintah manusia tapi ia sendiri melanggarnya."
Ada lagi satu kata mutiara berujar, "siapa yang mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya." Itu memang bukan hadits, tapi dikatakan oleh banyak ahli hikmah, di antaranya Yahya bin Muadz Ar Razi. Singkat, tapi begitulah Ulama di zaman dulu, selalu bisa meringkas makna dalam sebaris kalimat.
Dari keduanya, kita belajar untuk pandai mengukur siapa diri kita, tapi bukan dengan kalimat ini : "tau diri lah lu!" Karena itu bukan kalimat untuk mengukur diri, tapi merendahkan diri. Kalimat yang tepat adalah,
"apa yang telah aku lakukan untuk hidup, dan apa yang akan aku lakukan."
Tahun baru Hijriah 1441 ini cocok untuk membuat resolusi. Namun kali ini, hendaknya kita mengukur diri, bukan dengan memaki-maki keadaanmu yang sekarang, karena itu namanya menyalahkan takdir. Mengukur diri adalah: tahu, dimana lebihnya aku dan kurangnya aku. Yang lebih dilesatkan, yang kurang dibenahi.
Entah darimana kaidah ini, tapi saya setuju bahwa kita perlu menyediakan 3 porsi untuk mengukur diri kita. Kaidah itu, 70, 20, 10. 70 persen fokus kita hendaknya digunakan untuk melesatkan potensi kelebihan kita, 20 persen untuk membenahi kekurangan kita, dan 10 persen untuk mengeksplorasi potensi baru.
Hendaknya kita mengukur diri, sebagaimana Umar menasihati, "ukurlah dirimu sebelum kamu mengukur orang lain, dan dan hendaklah kamu menimbang dirimu sebelum kamu ditimbang", sebab "orang beriman lebih sering memuhasabah dirinya dibandingkan rekan kerja tamak yang selalu mengukur kinerjanya demi gajinya" kata Maimun bin Mahran.
Dengan kita tahu dimana posisi kita, kita akan lebih mudah menempatkan diri dalam manusia, dalam kerja-kerja besar untuk semesta.
Setidaknya kita tahu apa yang bisa kita perbuat untuk kebaikan umat ini, sebagai bentuk naik kelasnya kita dari memikirkan diri sendiri.
Hendaknya kita mengukur diri, sebagaimana memang Allah perintahkan kita. Dengan kamu tahu dirimu, kamu bisa memprediksi bagaimana masa depan berpihak padamu, atau berpaling, "Wahai orang beriman bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa melihat apa yang sudah dia kerjakan di masa lalu untuk masa depan." (Al Hasyr 18)
Madinah, 1 September 2019
Rezeki itu rahasia Allah. Allah sudah punya rencana yang tidak kita ketahui. Semuanya harus disyukuri. Jalan hidup kita itu tidak sama.
Ibuk, yang tak pernah absen menanyakan aku memasak apa hari ini.
Maaf ya buk, ramadan kali ini ngga di rumah lagi.
Karirmu moncer, pendapatan gak kira-kira, tapi pas ada panggilan adzan kamu ga beranjak dari tempatmu berada. Sementara sepuluh meter darimu, ada tukang sapu, saat ada panggilan adzan dia tinggalkan sapunya dan bersegera menyambut panggilan-Nya. Siapa yang lebih Allah sayang?
— Taufik Aulia
Ada yang sekedar singgah, tapi tidak sungguh.
Ada yang sungguh, tapi tak diharap singgah
Perihal merelakan tak semudah yang dipikirkan, terlebih ketika sudah tertata beberapa kenangan yang tak mungkin dihapus atau terhapus. Namun waktu bergerak maju, dan kenangan tertinggal di belakang, tetap hanya untuk di ingat, dikenang, dan dipelajari. Yang mungkin bisa membuatmu menangis atau tersenyum sendiri ketika diingat.
- @bintuhasyim

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Lebih Kuat
Cinta itu, baik ia berakhir buruk, tragis atau apapun, selalu membantu diri seseorang menjadi lebih dewasa. Terlebih urusan patah hati. Bukan kita berada pada tempat yang salah, bukan juga kita berada pada waktu yang salah, melainkan cinta yang kita pilih memang ditakdirkan untuk berakhir.
Kita menjadi kuat sejak itu. Hati kita tidak lagi mudah terpengaruh oleh hal-hal kecil. Kita bisa tetap berkemauan keras tanpa terpengaruh hal-hal tak penting lainnya. Ketertarikan kita tidak lagi datang dari hal-hal yang dangkal seperti paras yang rupawan, banyaknya benda mahal yang melekat di tubuhnya, atau bahkan terpikat oleh sebuah pesona yang dibuat-buat.
Sebaliknya, kita mulai paham bahwa itu semua selalu datang dari dalam hati.
Mungkin, kita akan menyadari betapa hidup ini bukan tentang siapa yang pergi lebih dulu dan siapa yang datang paling akhir. Melainkan lebih dari itu, semua kenangan dan perasaan yang pernah kita ciptakan dengan baik maupun ceroboh adalah hal yang membuat hidup kita jauh dari sekedar sebuah perlombaan yang harus dimenangkan.
Kita bisa berhenti, patah, istirahat, duduk sejenak, lalu tersenyum untuk melangkah kembali. Barangkali suatu hari nanti kita bisa saja berterimakasih pada cinta-cinta yang pernah singgah sementara dalam hidup kita, karenanya kita bisa sekuat sekarang. Atas waktu dan pelajaran yang berharga, serta segalanya yang tak terucapkan, baik yang mengambang di atas kepala maupun yang tenggelam di dasar hati.
Jakarta Selatan, 9 Maret 2019 | Seto Wibowo
Lihat Sekelilingmu, Jangan-jangan Mereka Butuh Kamu
@edgarhamas
Cobalah sesekali kamu duduk di halte dan simpan sejenak gadgetmu di tas. Lalu, pandangi orang-orang yang berlalu-lalang datang dan pergi, dengan raut wajah beraneka dan busana yang bermacam-macam. Ada ribuan kehidupan di samping kanan-kiri depan-belakangmu, lengkap dengan pikiran dan keluh kesahnya.
Seringkali orang yang berusaha berdandan sebaik mungkin tak bisa menutup kesedihannya sendiri. Yang berusaha tegak barangkali karena ia trauma diremehkan oleh orang. Yang mondar-mandir bisa jadi sedang memikirkan hutangnya yang banyak, dan anak-anak sekolah yang murung bersandar di jembatan sedang meratapi keluarganya yang broken home.
Seorang guru pernah bilang, bahwa pemimpin itu bukan lahir dari atas, tapi dari bawah. Bukan dari kastil mewah, tapi dari nadi masyarakat. Bukan masalah kaya atau cukup. Yang membedakan mental pemimpin dan bukan, adalah kemampuannya menyentuh dasar paling dalam dari fenomena hidup bangsanya, untuk mencarikan solusi paling baik bagi mereka.
Hal paling gundah dalam hidup manusia, adalah ketika mereka bingung harus mengadu pada siapa, dan kemana harus meminta pertolongan. Inilah yang dirasakan rakyat kita hari ini. Hidupnya sulit, tapi jauh dari taat. Dunianya sempit, dan ia tak sadar bahwa sujud memuaskannya.
Mereka tidak sepenuhnya salah, barangkali hanya karena belum ada yang membuka ruang dialog dengan mereka. Barangkali karena da'i-da'inya belum bisa terjun lebih membumi. Dan di saat yang sama, kita tidak sadar bahwa kita adalah orang yang berkewajiban menuntun mereka.
Padahal, setiap muslim pada dasarnya telah Allah berikan tugas untuk menjadi ‘natural hub’ antara manusia lain untuk mengenal Tuhan-nya. Dengan cara apapun itu —asalkan tak menabrak syariat— maka itulah ruang aksi bagi kita.
Coba lihat Sekelilingmu, jangan-jangan mereka butuh kamu.
Jangan baru bilang rindu ketika aku sudah merelakanmu pergi. Kau dulu punya banyak kesempatan untuk mengucap rindu kepadaku tapi kau tidak melakukannya.
You lost your chance. // Andira W.
Bandung, 7 Maret 2019.
Orang gagal sekalipun memiliki kepuasannya sendiri. Puas karena sudah berusaha. Puas karena sudah membuktikan bahwa dirinya bukanlah pemalas atau pemuda tanpa determinasi. Meski belum berhasil, setidaknya dia sudah satu tingkat di atas orang-orang yang enggan mencoba.
— Taufik Aulia
Tak perlu berdoa
Ternyata kita tak perlu berdoa pada Allah agar kita bisa bernafas.
Ternyata kita tak perlu berdoa pada Allah supaya dapat melihat.
Ternyata kita tak perlu berdoa pada Allah supaya bisa berbicara.
Ternyata kita tak perlu berdoa pada Allah agar kita bisa mendengar.
Banyak hal yang Allah berikan dan ternyata sangat kita butuhkan. Sangat kita butuhkan. Ternyata kita tak perlu berdoa. Padahal jika ia hilang, bisakah kita bertahan hidup ?
Dia terus memberi. Tanpa perlu kita berdoa.
Kurang alasan apalagi untuk kita menghamba?

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Mengapa Nasib Dia Baik dan Aku Tidak (?)
@edgarhamas
Ini mungkin pernah terlintas di hati banyak orang, dan kamu juga aku barangkali salah satunya.
Di saat kita sedang jatuh, atau masalah sedang menumpuk, atau takdir seakan tak berpihak padamu, atau ketika impianmu gugur ditelan kenyataan, kita pernah secara brutal menyalahkan ketentuan Allah dan menganggap Dia tak adil.
Kamu terpukul, kamu down, dan kamu mempertanyakan mengapa ada orang yang dengan mudahnya bisa mendapatkan apa yang ia inginkan dan menjadi apa yang ia impikan.
Cobalah berbaring dan tarik napasmu. Tingkahmu yang meledak-ledak menghakimi nasib diri dan orang lain biasanya hanyalah buah emosi, dan apa-apa yang hadir dari emosi hanya akan berakhir dengan sesal. Ini kaidah penting.
Tenangkan dirimu, dan ingatlah jauh-jauh hari Allah sudah jawab dengan perhatian-Nya yang Mahalembut, “boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu.”
Tak berhenti di situ, malah Dia sempurnakan dengan jawaban yang melegakan dadamu, “Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Perihal tentang nasib orang lain yang kamu anggap lebih baik, janganlah cepat-cepat menganggap hanya dirimu yang pernah mengecap kejatuhan.
Mereka bisa jadi bukan bernasib selalu baik. Barangkali sudah ada ratusan jatuh yang membuat memar mereka berlapis-lapis. Jatah gagal mereka akhirnya habis dan tinggallah mereka kecap hasil jayanya.
“Tapi dia anak orang kaya, mana usahanya?” Mungkin begitu tanyamu selanjutnya. Nah, justru malah ada pertanyaan buat kamu, “memangnya definisi nasib baik hanyalah ditentukan dengan kaya tidaknya manusia?” Kita perlu sering-sering membersihkan kaca mata hati kita yang kadang silau dengan logika yang salah.
Bahagia itu nisbi. Relatif. Sampai sekarang tidak ada satupun filsuf yang benar-benar bisa membuat definisi paling tepat untuk menjelaskan kebahagiaan. Namun satu hal yang perlu kamu ingat, kemuliaan dan kebahagiaan tidak bisa diukur dengan materi duniawi. Ini juga kaidah penting.
‘Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.” Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinaku.” (Al Fajr 15-16)
Sebenarnya malahan, tidak ada istilah nasib baik dan nasib buruk dalam Islam. Yang diajarkan adalah syukur ketika diberi nikmat dan sabar ketika diuji musibah.
Dan Umar mengingatkan kita dengan kalimat gagahnya, “Jikalau sabar dan syukur ibarat dua kendaraan (yang mengantarkan aku ke surga), maka aku tak peduli dengan kendaraan yang mana aku menujunya.”
Untuk-mu
Kepada seseorang yang senyumannya pernah menjadi penenang dalam dada.
Hari ini, aku ingin memberitahukanmu sesuatu hal. Bahwa perjalanan ini kian hari sepertinya kian membawa aku menujumu. Bagaimana tidak. Perpisahan dingin dua tahun yang lalu membuat kita saling melemparkan kebencian. Bersikeras untuk saling meninggalkan. Hanya karena tak mendapatkan restu dari kedua pihak keluarga.
Meski aku tahu, jauh di dalam lubuk hatimu masih ada namaku yang kau sematkan di ruang rindu. Pun di hatiku, masih ada kamu yang menghuninya tak tahu malu.
Lalu, perlahan-lahan Allah memberikan jalan. Mengatur semuanya dengan sangat baik dan sempurna.
Aku yang awalnya bersikeras ingin pergi dari hidupmu, kini di bawah pulang oleh semesta untuk kembali ke sisimu. Bukan aku yang mau, melainkan takdir yang menjadi penentu. Hingga sejauh apapun kita melangkah untuk saling menjauh, tetap saja kau dan aku akan kembali utuh.
Maafkan aku bila belum bisa melepasmu sepenuhnya. Walau hatiku sudah rela, dan bibirku tak lagi menyebut namamu sesering dulu, tetap saja ada pada satu waktu, kau kembali hadir sebelum pejam di malam hari.
Walau seluruh dunia berkata kita tidak pantas bila bersama, namun hatiku akan selalu meyakini bahwa akan tiba masanya kita bertemu pada satu frekuensi yang disebut; bahagia. Seperti saat ini, aku menaiki anak tangga satu demi satu untuk menujumu yang berada di puncak sana.
Semoga kau tetap baik-baik saja. Semoga harimu selalu menyenangkan. Semoga teman-temanmu bisa membuatmu bahagia setelah aku tak lagi ada.
Aku mencintaimu karena Allah. Untuk itu aku pergi menjauh setelah kutahu rasa itu ada. Tenang saja, aku mencintaimu dengan cara yang elegan. Menjagamu lewat doa-doa, misalnya.