لكنّكم روحٌ جديدٌ يَسْرِي في هذه الأمَّة فيحييهِ بالقران
— الشهيد الإمام حسن البنّا

❣ Chile in a Photography ❣
Keni

JVL
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Three Goblin Art

Product Placement
art blog(derogatory)
noise dept.
styofa doing anything
trying on a metaphor

@theartofmadeline
todays bird

tannertan36

祝日 / Permanent Vacation
Cosmic Funnies

Kiana Khansmith
Misplaced Lens Cap
Show & Tell

★
Stranger Things
seen from Singapore

seen from United States

seen from Canada

seen from Singapore

seen from Germany
seen from United States
seen from Lithuania

seen from Slovakia
seen from Singapore
seen from United Kingdom
seen from Finland
seen from United States
seen from United States
seen from Italy
seen from United States
seen from Italy

seen from Singapore
seen from United States

seen from United States
seen from United States
@kayyishwr
لكنّكم روحٌ جديدٌ يَسْرِي في هذه الأمَّة فيحييهِ بالقران
— الشهيد الإمام حسن البنّا

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Ghurur menurut Imam al-Ghazali dalam kitab Dhamm al-Ghurur yang masih bagian dari Ihya Ulum ad-Diin adalah kondisi ketika seseorang tertipu oleh pengetahuan, amal, status sosial atau simbol kesalihan, sehingga kehilangan kemampuan kritik terhadap diri sendiri.
Beliau mengklasifikasikan secara sistematis kelompok-kelompok yang tertipu menjadi 5 :
Orang awam yg tertipu dunia
Ahli ilmu yg tertipu pengetahuannya
Ahli ibadah yang tertipu amalnya
Kaum sufi yg tertipu pengalaman spiritualnya
Elit religius yg tertipu status sosial-keagamaannya
Ustadz Akhmad Rofii Dimyati yang menerjemahkan kitab al Kashf wa al Tabyin (Agar Tak Tertipu : Kritik Internal Kesalihan Diri Ala al Ghazali) mengomentari bahwa klasifikasi tersebut merupakan terobosan metodologis, karena memindahkan diskursus ghurur dari sekadar nasihat moral menjadi analisis struktural kesadaran religius
Secara singkat, konsep ghurur dan klasifikasinya ala Imam al Ghazali menjadi tool yang relevan di era modern sekarang, bukan untuk mengkritik agama, tetapi mengoreksi cara manusia beragama.
"Waj'al-hu lanaa hujjatan, wa laa hujjatan 'alainaa, dan jadikan dia (Al Quran) hujjah untuk kami dan jangan jadikan dia (Al Quran) hujjah atas kami"
Sepulang jaga baru terfikir, betapa luar biasanya doa khotmil quran itu. Dibuka dengan meminta dimuliakan dengan Quran dan ditutup dengan meminta Quran dijadikan hujjah untuk kita-bukan atas kita.
Ini seperti dalam lafadz doa bagi pengantin baru "Barakallah lakumaa wa baraka 'alaikumaa, semoga keberkahan untuk kalian berdua dan atas kalian berdua"
Dalam konteks pernikahan, semoga ada keberkahan baik dalam kondisi lapang maupun sempit
Maka dalam konteks Quran, semoga quran menjadi hujjah kebaikan, bukan hujjah keburukan. Semoga yg telah dikaruniakan Al Quran, bisa menjaga dengan sebaik-baiknya. Semoga yg mencintai Al Quran, bisa diberikan kemudahan untuk terus berdekat-dekat dengannya.
Ini refleksi diri saja, melihat beberapa kejadian yg terjadi. Ya intinya hafalan, kedekatan, perjuangan bersama Al Quran itu bukan hanya saat di pondok, di masa-masa ingin sekali khatam, di waktu-waktu iri melihat kawan bisa menghafal Quran; lalu berharap mendapat keuntungan duniawi karena itu semua
Tidak, tapi sepanjang hayat, apapun kondisi kita, untuk menguji, apakah kita yakin dengan janjiNya
Allah akan memuliakan dan merendahkan suatu kaum dengan Al Quran
Jika pun Allah takdirkan bukan di dunia, semoga di akhirat
Adakah hal terindah selain kita bisa menyimak quran, melafalkan dengan baik dan benar, menghafalkannya sehingga saat di putar rekaman atau audio kita secara reflek bisa mengikuti serta memahaminya?
Allahumma irhamnaa bil Quran 😭😭😭
Bacalah Quran dengan Iman
Agar tak sekadar membasahi lisan, tak berhenti di kerongkongan
Membaca Quran dengan Iman, berarti harus penuh kesadaran; karena beriman berarti kesadaran menjadikan Quran sebagai kitab yang diyakini diturunkan oleh Allah ﷻ melalui malaikat jibril kepada Nabi Muhammad shallahu 'alaihi wa salam dan membacanya adalah ibadah
Membaca Quran dengan Iman, berarti bukan hanya sekadar membaca kisah-kisah sejarah; karena kisah-kisah sejarah yang ada hari ini bisa dimanipulasi, sedangkan apa yang ada dalam Quran merupakan kebenaran yang sudah digaransi
Membaca Quran dengan Iman, berarti bukan hanya membaca mengenai perkara hukum larangan dan perintah; karena perkara hukum larangan dan perintah yang ada dari buatan manusia bisa diubah seenak sendiri, sedangkan yang ada dalam Quran merupakan sesuatu yang harus ditaati
Membaca Quran dengan Iman, berarti bukan hanya membaca karya syair, sains, danpuisi; karena syair, sains, dan puisi yang ditulis manusia terkadang hanya menyentuh aspek rasa, terkadangan pula hanya menyentuh aspek aqli, namun Quran merupakan mukjizat dari Ilahi yang dapat menyentuh segala sisi
Bacalah, Quranmu, dengan Iman, sebagaimana wahyu pertama turun dengan perintah "Iqra! Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu"
Telah dijelaskan oleh Imam An Nawawi dalam kitab at-Tibyaan mengenai penjelasan rinci dari hadist Rasulullah shallahu 'alaihi wa salam
"Agama adalah nasihat"
"Untuk siapa?"
"Untuk Allah ﷻ, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin muslimin dan orang-orang awam mereka"
Para Ulama berkata, nasihat untuk kitab Allah ﷻ adalah “beriman bahwa ia adalah kalam Allah ﷻ dan wahyu-Nya, tidak ada satu pun dari perkataan makhluk yang menyerupainya dan seluruh makhluk tidak ada yang berbuat seperti itu”.
Termasuk mengagungkan dan membacanya dengan sebaik-baiknya, bersikap khusyuk, tepat dalam membaca huruf-hurufnya, membela dari penyelewengan takwil dan gangguan orang-orang, membenarkan isinya, menjalankan hukum-hukumnya, memahami ilmu-ilmunya, memperhatikan nasihat-nasihatnya, memikirkan keajabainnya, dan mengamalkan isinya.
اللَّهُمَّ ارْحَمْنَا بِالقُرْءَانِ وَاجْعَلْهُ لَنَا إِمَامًا وَنُورًا وَهُدًا وَرَحْمَةً
اللَّهُمَّ ذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نُسِينَا وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا وَارْزُقْنَا تِلاَوَتَهُ آنَاءَ
اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ وَاجْعَلْهُ لَنَا حُجَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
Untuk anak muda yang diberi amanah menjadi Imam di bulan Badar
Saat kedzaliman dan ketidakadilan telah nampak, bersuaralah dengan 'merdu'; semerdu saat dirimu memimpin jamaah shalat
Saat kebenaran dan kebatilan tengah bertarung; suarakan dengan jelas posisi dirimu, sejelas kau baca huruf-huruf itu saat bertilawah
Saat masyarakat tengah bingung dan kehilangan arah, pimpinlah mereka dengan suara yang lantang, tegas, namun juga lembut, sebagaimana kau pimpin jamaah shalat
Semoga Allah karuniakan kepada engkau wahai anak muda, suara yang merdu melawan kedzaliman, kejelasan sikap membela kebenaran, dan ketadanan dalam memimpin; sehingga hilanglah kerisauan dan kebingungan di tengah-tengah masyarakat

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
"Lagi pula, kewajiban ibadah telah disyariatkan dengan cara ujian (ibtila') sebagaimana firman Allah 'Dia menjadikan semua itu untuk menguji kamu: siapakah diantara kamu yang lebih baik amalnya'"
— Adab Menyara Hidup tarjamah Kitab al-Kasb
من عمل في غير علمٍ كان ما يفسد أكثر مما يصلح
"Barangsiapa beramal tanpa disertai ilmu, maka amalnya lebih banyak merusak daripada memperbaiki"
— penjelasan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, saya dapatkan dari buku "Fiqh Prioritas : Ini Dulu, Baru Itu" karya Ustadz Oni Syahroni
Orang-orang baik, orang-orang sholih, orang-orang berilmu sudah banyak yang Allah panggil untuk kembali ke sisiNya
😭
Amal-amal yang serampangan bermula dari belum matangnya seseorang terhadap ilmu.
Ketergesaan ingin beramal secara nyata, malah menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat, karena tidak dipandu oleh pembacaan yang benar, analisis yang tajam, serta keikhlasan yang mendalam; alih-alih ingin tampil sebagai pembawa solusi, malah menambah runyam
Lagi pula, mengapa kita terlalu menggebu-gebu untuk menampakkan amal; apakah perenungan kita terhadap ciptaan Allah kita anggap bagaikan orang yang melamun dengan tatapan kosong dan akal yang hilang, apakah diskusi dalam pengajian yang membahas mengenai akidah, fiqh, dan akhlak dianggap hanya seperti bualan di tongkrongan tengah malam?
Sabarlah sebentar, mengajilah lebih serius, berdiskusilah lebih hangat, dan lakukan analisis dengan cermat; jalan pembebasan Palestina bukan dengan amal-amal serampangan dengan dalih "yang penting beramal dulu, urusan punya ilmunya belakangan" tapi perlu ditingkatkan dengan "berilmu itu penting, kemudian mari kita beramal dengan panduan ilmu".
Semoga Allah berikan kepada kita Ilmu yang bermanfaat, yang membawa pada amal yang diterima.
اللهمّ إنّا نسألك علمًا نافعًا و عملاً متقبّلاً
Mencintai Dakwah dengan Ilmu
Salah satu kritik yang musti kita jadikan perhatian serius, jikalau mau jujur bahwa apa yang kita lakukan adalah upaya dalam gerak langkah menuju pembebasan Palestina, adalah apa yang disampaikan oleh Dr. Majid Al Kilani dalam bukunya Model Kebangkita Umat Islam
Beliau menyimpulkan bahwa pada pertemuan halaqah atau usrah, dapat memunculkan beberapa dampak negatif dikarenakan tugas pengarahan dan penggemblengan diberikan kepada orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan dan tidak matang; seorang pelajar, orang yang baru belajar, pedagang dan pekerja
Setidaknya ada 4 yang beliau jelaskan :
Berkembangnya budaya pemikiran yang rancu dan dangkal. Beliau menilai pertemuan yang terjadi dikarenakan hanya sebatas perbincangan lepas, atau menghabiskan waktu malam saja. Dan parahnya terkadang ditutup dengan tuduhan dan ghibah. Walaupun terkadang mampu membuka mata para anggotanya tentang permasalahan yang besar, tapi penilaian beliau, perhatiannya hanya sekadar pada fase emosional saja, belum pada fase kesadaran. Pada poin ini yang timbul adalah lelucon pemikiran dan politik, ketimbang pengetahuan yang bersifat ilmiah dan sistematis
Munculnya sebuah solusi instan dan praktif yaitu 'kudeta' dalam mengatasi permasalahan dan mencapai tujuan yang disebabkan oleh suhu emosi yang semakin memanas yang terus dikembangkan di dalam pertemuan halaqah dan usrah. Beliau menceritakan konteksnya pada lembaga-lembaga atau kasus-kasus di dunia pendidikan
Kapasitas moral para anggotanya, yang berasal dari banyak latar belakang dan tindak tanduknya, bertolak belakang dengan slogan yang seringkali digaungkan. Ini membuat tekanan baik dalam internal ataupun eksternal. Di sisi internal para alim ulama, pemikirnya, cendikiawan yang matang, para muassis yang faham, ditekan oleh kepentingan-kepentingan berbasis hawa nafsu semata juga oleh sebagian orang 'baru' yang merasa perlu didengar pendapatnya hanya karena sudah membaca banyak buku atau artikel. Sedangkan pada sisi eksternal, orang-orang baru yang tidak matang itu, berbuat sebuah kesalahan yang justru ditanggung oleh alim ulama, pemikirnya, cendikiawan yang matang, bahkan muasissnya.
Cara berpikir yang terbentuk sekadar berbasis asumsi dan nafsu daripada cara berfikir ilmiah. Karena landasannya hanya emosi saja. Para anggotanya merasa tidak perlu mengumpulkan informasi, tidak menganalisanya, tidak menelitinya. Sehingga jadinya mereka sebagai seolah-olah 'Nabi' tanpa wahyu, filsuf tanpa kebijaksanaan, cendikiawan tanpa pernah membaca, dan pakar spesialis—dalam segala sesuatu— tanpa pernah melakukan kajian
Maka sejatinya, jika kita mencintai jalan Dakwah ini, ingin menghidupkan lagi halaqah-halaqah pekanan sebagai upaya dalam kerangka pembebasan Baitul Maqdis, para pengisi halaqah pekanannya harus memperhatikan kesiapan dirinya dengan seutuhnya. Apa-apa yang sudah Imam Syahid sampaikan dalam risalahnya, hendaknya menjadi pedoman penyampaian dan sebagai satu hal yang perlu dikaji dan di dalami.
Pun para anggotanya harus sadar diri, tidak merasa berlebihan dengan slogan semata, juga tidak perlu membesarkan dirinya, kalau memang belum ada kematangan yang pantas.
Semoga Allah menjaga kita selalu berada dalam upaya serius dalam pembebasan Baitul Maqdis, dan kita harus yakin bahwa Allah pasti menjaga Dakwah ini, jika kita mengupayakan keseriusan dalam memikulnya dan Allah Maha Berkuasa atas Segala-galanya.
نصر من اللّٰه و فتح قريب وبشّر الصٰبرين

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Mulai hari ini, kita—penghuni tumblr, atau mungkin cuma saya, kehilangan abang online dengan kontribusi nyata dan tulisan yang mengena
Saya bersaksi, tulisan-tulisan beliau menjadi nasihat saat dibaca, aksi-aksi beliau menjadi inspirasi, dan kepedulian beliau menjadi semangat yang menular
Selamat jalan bang @herricahyadi engkau menghadap Allah dengan ridho—tanpa mengeluh soal sakit yang dialami, dan InsyaAllah Allah ridho🤲
Walaupun saya tidak kenal, belum pernah bertemu, tapi rasanya turut kehilangan
Al fatihah untuk abang kami Herri Cahyadi
Tidak ada pasangan tidak ideal, yang ada adalah pasangan tanpa visi misi hidup
Pun, tidak ada pasangan yang ideal, yang ada adalah pasangan dengan visi misi hidup
Maka selagi belum memiliki pasangan, tentukan visi misi hidupmu. Jika sudah punya pasangan diskusikan, obrolkan, dan sepakati soal visi misi hidup
Keluarga adalah organisasi terkecil yang menyangga sebuah peradaban, maka ia mesti dikelola dengan baik; konfliknya, romantismenya, kembang tumbuh anaknya, hingga urusan apa yang dipakai dan dimakan.
Dan mengelola organisasi itu butuh visi misi
Renungan kita akan rasa-rasa yang ada—seperti bersabar atas ujian, bersyukur atas kenikmatan— haruslah dilandasi pada ilmu yang benar soal itu. Agar yang membimbing kita dalam merasakan rasa adalah cahayaNya bukan hawa nafsu, atau tipu daya syaithan, yang seolah-olah benar
Logika menekankan pada pengambilan kesimpulan dari beberapa pernyataan (premis) yang diberikan.
Contoh suatu argumen yang valid secara logis (1) Semua buku filsafat membosankan (2) Buku ini buku filsafat (3) Buku ini membosankan
Pada argumen ini, (1) dan (2) adalah premis, dan (3) adalah kesimpulan.
Jika (1) dan (2) benar maka pasti (3) juga benar. Tidak mungkin (3) itu salah jika diberikan bahwa (1) dan (2) benar. Akan terjadi kontradiksi jika (1) dan (2) benar, tapi menyangkal kesimpulan (3)
Tapi jika dimodifikasi menjadi tidak valid maka seperti ini (1) Banyak buku filsafat yang membosankan (2) Buku ini buku filsafat (3) Buku ini membosankan
Pada contoh ini (3) tidak mengikuti keharusan (1) dan (2). Bahkan jika (1) dan (2) benar, maka buku ini boleh jadi jadi salah satu yang minoritas dari buku-buku filsafat yang tidak membosankan. Menerima (1) dan (2) sebagai sesuatu yang benar dan (3) sebagai yang salah bukanlah kontradiksi. Argumen ini tidak valid.
Tetapi juga bisa mendapatkan kesimpulan yang valid, walaupun keliru (1) Semua kucing punya lima kaki (2) Bugs Pussy adalah kucingku (3) Bugs Pussy punya lima kaki
Ini adalah sebuah deduksi (penarikan kesimpulan) yang valid. Jika (1) dan (2) benar, maka (3) haruslah benar. Padahal disini kita tahu bahwa (1) dan (3) itu salah. Akan tetapi ini tidak memengaruhi fakta bahwa argumen tersebut valid.
– dari Buku Sains Tidak Sepasti Itu, ulasan dari buku "What is Thing Called Science" karya Alan Francis Chalmers
Faidah dari Bahasan ”Penyampaian Perihal Kelebihan dan Penganjuran Amalan : Hukumnya Fardhu”
Imam al Shaybani rahimahullah ta'ala berkata "apa yang dianjurkan oleh Rasulullah dari kelebihan-kelebihan sesuatu, maka menyampaikannya kepada orang lain hukumnya fardhu"
Penjelasannya adalah mengamalkan amalan ketaatan yang bukan wajib dan amalan sunat itu bukanlah fardhu, sehingga meninggalkan dari beramal itu tidak berdosa, tetapi menyampaikan ilmu tentang amalan sunat itu hukumnya fardhu.
Jadi jika ada orang-orang yang mengabaikan penyampaian ilmu itu, dia mengabaikan sesuatu yang fardhu, sehingga mereka bisa terjatuh pada dosa. Karena ketika ketika ilmu tidak disampaikan, ditakutkan akan terputus ilmu tersebut (padahal amalan sunat bagian dari syariat), tapi ketika tidak diamalkan ia tidak memutus ilmu itu.
Analoginya adalah siapa yang meninggalkan sholat sunat dia tidak berdosa, tapi ketika dia sholat sunah tidak berwudhu dia berdosa besar. Karena sholat tanpa wudhu mengubah syariat (ilmu mengenai sahnya sholat), sedangkan meninggalkan amalan sholat sunah, tidak mengubah syariat (karena hukumnya yang sunah).
Tapi perlu diperhatikan, mengamalkan ketaatan ada 2 tujuan :
Berlindung dari godaan syaitan, karena syaitan akan berkata : "yang sunnah saja dilakukan, apalagi yang wajib"
Penyempurna amalan wajib kita, sebagaimana hadits Rasulullah "Allah berkata, 'Jadikanlah amalan sunah HambaKu sebagai penyempurna amalan fardhunya'"
Sehingga jika dalam menjalankan ketaatan terdapat 2 tujuan tersebut, tidak menyampaikan ilmu mengenai itu sebagai sesuatu yang tidak dibenarkan. Maka pandangan yang dipilih ialah menyampaikan ilmu kepada orang lain itu fardhu, walaupun ketika mengamalkannya tidak terhukumi fardhu
– dari Sharh Kitab al Kasb karya Imam al Shaybani yang diterjemahkan dalam ‘Adab Menyara Hidup’

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
"Sesungguhnya, saya menyajikan contoh ini di hadapan anda agar anda bisa meningkat dari posisi taqlid dalam masalah tauhid menuju penggunaan akal pikiran dalam memahami aqidah"
Contoh yang beliau tulis memaparkan mengenai kekuatan dan kelemahan aqidah seseorang yang terbagi dalam beberapa tingkatan, sesuai dengan kadar kemantapan dan kemapanan argumentasi yang ada dalam jiwa mereka masing-masing
Setelah beliau memaparkan contoh tersebut, beliau menjelaskan kelas-kelas sesuai tarafnya di hadapan aqidah
Ada dari mereka yang mentalaqqi aqidah itu begitu saja dan menyakininya karena adat dan tradisi. Namun kata beliau "model pemahaman ini sangat rawan untuk diserang kebimbangan, terutama jika ia menemui aneka bentuk syubhat"
Ada pula yang sampai menganalisa dan berpikir, sehingga dengan itu bertambahlah imannya dan semakin kuat keyakinannya.
Ada juga yang terus menerus melakukan analisa dan proses perenungan, berusaha dengan sungguh-sungguh untuk taat kepada Allah, melaksanakan perintahNya, dan berupaya memperbaiki ibadahnya. "Saat itulah" tulis beliau mengenai yang ketiga ini, "hidayah akan memancar dalam kalbunya, sehingga ia bisa memandang dengan cahaya bashirahnya"
– Imam Asy Syahid Hasan Al Banna, dalam Risalahnya di bab Al-Aqa'id
Hal ini menunjukkan perhatian sang Imam terhadap pentingnya memahami aqidah dalam kerangka ilmu, bukan hanya sekadar pengakuan atas dasar lahir dari kedua orang tua yang sudah menjadi muslim, kemudian ikut-ikutan saja. Tapi hendaknya menjadikan aqidah sebagai ilmu yang dipelajari, direnungkan, dan berbuah pada ketaatan pada Allah.
Maka salah BESAR bagi mereka yang mengikut perkataan seorang influencer, bahwa aqidah tidaklah bersifat ilmiyyah (–bukan sebagai ilmu).
Tapi aku, tidak mengerti mengapa cinta masih tak hadir
Tapi aku, tidak mengerti mengapa rindu belum berbunga
Sesungguhnya, walau ku kutip semua permata di dasar lautan
Sesungguhnya, walau kusiram dengan air hujan dari tujuh langitmu
— Sesungguhnya, Raihan