Patah lagi
01/11/25
Kita sama-sama sakit, tuan. Mungkin waktu itu kamu tidak berkenan atas perkataanku jikalau aku tidak pernah mempersilahkan siapapun untuk masuk ke dalam hidupu yang rumit. Aku seolah membangun pagar yang tinggi untuk berjaga agar semua tidak melewati batas yang telah aku buat. Setelah kamu paksa untuk masuk, semakin aku menolak dan memberikanmu seribu sumpah sarapah yang entah darimana keberanian itu muncul.
Kamu berharap aku bisa menyembuhkan dari segala luka yang pernah menikammu, kamu berharap juga, kamu bisa menyembuhkanku atas segala luka yang tersayat-sayat di diriku. Kita sama-sama punya luka, tuan. Kita sama-sama ingin menyembuhkan satu sama lain. Tetapi sayangnya, aku terlalu menaruh hati pada lukaku yang terus menyayat diriku tanpa henti. Aku enggan untuk disembuhkan, karena aku tahu akan ada luka baru setelah itu.
"Everything u are." Lagu itu kian bergema setiap kita berangkat dan pulang, seolah memberikan supply energy atas lelahnya hari-hari. Bertukar cerita hingga pagi, membelai luka sampai lupa diri, dan tak lupa dengan sapaan pagi kala itu. Namun seketika berubah setelah aku menolak pernyataan darimu waktu itu. Kamu menyerah dan aku tidak punya tenaga untuk menahanmu pergi. Bahkan memulaipun belum berhak atas kita.














