Dengan Siapa Kita Menyepi
Aku suka sekali merenungi hal-hal seperti menyesap tubruk yang pahitnya menempel di lidah.
Seseorang pernah berkata, "Pada dasarnya kita tidak bisa kesepian, kecuali kita tidak suka dengan seseorang yang kita ajak sepi."
"Pertanyaannya, siapa yang kita ajak sepi?" lanjutnya.
"Diri sendiri," jawabnya
Itu jawaban yang tidak butuh filsafat tinggi, tapi menohok. Tidak semua orang benar-benar akrab dengan dirinya sendiri. Akuโduluโmisalnya.
Malam ketika lampu padam dan deru mesin pengatur suhu ruang terdengar seperti rintihan, di situlah aku berhadapan dengan sepi. Benar, di sana hanya ada aku. Aku menatap langit-langit, berharap ada yang mengetuk pintu kamar, menjemputku dari kekosonganโpadahal kekosongan itu aku sendiri yang tumbuhkan.
Kupikir lucu juga, mengemis kehadiran orang lain, padahal sepi tidak butuh tamu. Aku menjajakan rasa laparku akan pengakuan, padahal perjamuan sepi hanya menyediakan bangku untuk satu. Yang duduk di sana, aku, bersama diri sendiri yang tidak kusukai.
Kalau aku benci dengan orang yang kuajak sepi โ yaitu diriku sendiri โ maka selamanya aku adalah tuan rumah yang tidak betah di rumahnya sendiri.
Sepi jadi penjara, dan aku membenci satu-satunya tahanan yang setiap malam harus kutemui di sana.
Padahal sepi itu bisa juga jadi gelanggang, tempat aku menggendong retakku dan mengakuinya. Ya, aku retak. Tapi aku tetap aku. Dan aku akan duduk di sebelahku, menemaniku menua, menemaniku gila, menemaniku sepenuhnya.
Kini, aku lebih sering duduk diam dengan tahanan itu, terutama saat dunia merendahkan suaranya dan mundur selangkah dariku.
Jam dinding menelan detiknya sendiri. Kursi merunduk seperti makhluk tua yang paham betul beban punggungku.
Di dalam dadaku, kesunyian mulai bernafas, hangat, seperti hewan liar yang akhirnya jinak. Aku jadi lebih pandai memeluk diriku yang pernah tercerai.
Pernah suatu kali, bayanganku bangkit dan bertanya dengan suara berlumut,
โKenapa kau tidak lari?โ
Aku menatapnya. Mata kami sama, retaknya pun serupa.
โAku ingin mendengar apa yang tak terdengar,โ jawabku.
Bayanganku tersenyum, lalu mencair menjadi air, meresap ke telapak kakiku, menuntunku tegak di udara tanpa penyangga.
Di luar jendela, angin menulis namaku di debu, lalu menghapusnya dengan santun. Luka-luka lamaku berbaris seperti lilin, meneteskan cahaya, tak lagi membakar. Bahkan waktu bersimpuh, menaruh mahkotanya padaku. Aku, menjelma tempat segala yang patah pulang.
Pada akhirnya, kita tidak bisa memaksa orang lain betah di rumah yang kita sendiri benci.
Dan diri sendiri, dialah tamu pertama, tamu terakhir, tamu abadi di meja sepi.