Hati yang Rapuh
Ada hati yang tampak baik-baik saja, padahal setiap malam diam-diam retak. Ia tersenyum agar tak ada yang bertanya, tertawa agar tak ada yang curiga, lalu menangis saat dunia telah memejamkan mata.
Hati ini rapuh. Bukan karena tak mampu bertahan, melainkan terlalu lama memikul beban tanpa pernah benar-benar diletakkan.
Banyak luka yang tak terlihat, banyak air mata yang tak sempat jatuh, karena sebagian duka belajar tinggal di dalam dada.
Aku hanya ingin tenang. Bukan hidup yang sempurna, bukan dunia yang selalu berpihak, hanya hati yang tidak lagi lelah memperbaiki dirinya sendiri.
Jika suatu hari aku kembali tersenyum, semoga itu bukan karena pandai menyembunyikan luka, melainkan karena hati yang rapuh ini akhirnya menemukan tempat untuk pulang.












