Saya ngin sekali bercerita. Boleh ya? Sesekali sambil menyereput kopi hangat di atas meja. Kali ini, saya ingin bercerita tentang refleksi saya satu tahun ke belakang. Begini, eh sebentar Saya hanya ingin menjelaskan bahwa tulisan ini tidak bermaksud menunjukkan kesombongan saya ataupun kebanggaan yang berlebihan tentang diri saya. Jadi, sudah bisa saya mulai?
Setiap anak secara naluriah memiliki keinginan untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Begitupun saya, di usia dua puluh tahun, mimpi-mimpi mulai saya bangun untuk mewujudkan keinginan tersebut. Salah satunya adalah mimpi untuk lulus dari SMAKBO (Sekolah Menengah Analis Kimia Bogor), yang bukan hanya bernilai sebagai suatu institusi pendidikan semata. Lebih dari sekedar sebuah tempat menuntut ilmu, saya banyak belajar tentang bagaimana saya menjalani kehidupan dengan baik disana. Bertemu dengan teman-teman satu visi yang saling mendukung satu sama lain dan para pendidik yang inspiratif. Salam hangat sekaligus salam rindu selalu untuk almamater saya tercinta dan terus akan dicinta. Jika saya harus meneruskan untuk menuliskan tentang yang satu itu, mungkin bisa ribuan halaman terekam oleh indah dan harunya masa sekolah. Lalu, apalagi mimpi-mimpi yang mulai saya bangun? Ada dilema “bekerja” atau “meneruskan pendidikan” saat itu. Pilihan yang sangat sulit dan harus diputuskan segera mengingat hari kelulusan akan tiba sebentar lagi. Jika boleh jujur, saat itu saya ingin sekali melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas negeri. Salah satu keinginan saya waktu itu adalah menjadi seorang mahasiswa psikologi. Agak aneh memang mengingat status saya sebagai seorang siswa kimia. Setiap hari berkutat dengan analisis, alat-alat laboratorium, laporan praktikum ataupun penelitian menjadi ingin berkutat dengan dunia psikologi yang sarat akan nilai sosial. Mengingat momen ini membuat saya banting setir ke masa lalu saat pertama kali masuk SMAKBO. Keinginan masuk SMAKBO adalah murni pilihan saya sendiri karena saya berpikir bahwa saya bercita-cita di dunia penelitian. Ingat kartun detective conan yang diputar setiap akhir pekan? (Saya tidak tahu apakah masih diputar atau sudah berhenti tayang di layar kaca) Menjadi seseorang yang mampu memecahkan masalah yang ada dengan analisis kuat adalah gambaran masa depan ideal saya saat SMP. Gambaran masa depan ideal saya kemudian mulai sirna perlahan dan tergantikan dengan gambaran yang lain. Tepatnya saat sudah memasuki tingkat II (lebih dikenal dengan sebutan kelas sebelas), saya berpikir “Chemistry is not my passion, scientific thinking is not mine, I need to find out what is my real passion”. Pernyataan tersebut keluar secara bersamaan dengan momen selesai praktikum di laboratorium. Saat itu hanya ada satu hal yang ada dalam pikiran saya tentang bersyukurnya saya masih bisa mengimbangi pelajaran yang diberikan. Tuhan sudah kasih saya begitu banyak kebaikan, salah satunya adalah kemampuan intelegensia yang saya miliki. Sebut saja itu sebagai kegalauan, tidak serta merta menyorotkan saya untuk terus berprestasi. Kenapa? Saya yakin bahwa prestasi adalah pembuka gerbang-gerbang mimpi yang akan kita bangun. Jika gerbang sudah terbuka, mudah kita masuki, mudah kita eksplorasi dan mudah kita kembangkan mimpi-mimpi tersebut. Kembali saya syukuri, selama empat tahun masih bisa mengikuti pelajaran dengan baik meski harus bersembunyi pada kenyataan bahwa jalan menjadi seorang kimiawan harus saya hentikan hingga tahu jalan mana yang sebenarnya akan saya jalani. Kemudian, Tuhan berikan jalan pertama dimulai dengan jawaban atas kedua pilihan yang sebelumnya di bahas (kalau tidak ingat, coba bisa ulangi baca dari atas). Saya akhirnya memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu setelah lulus dengan satu pertimbangan kuat yaitu agar ilmu kimia yang saya peroleh tidak terbuang sia-sia jika saya tetap kokoh pada jalan yang sudah saya tetapkan. Bertahan selama enam bulan sebagai analis kimia di salah satu perusahaan konsultan teknik di Jakarta menjadi awal mula perjalanan di mulai. Keputusan mencari bidang lain yang ditekuni kemudian terjawab dengan saya tergabung sebagai salah satu staff di industri kreatif. Selama kurang lebih tiga bulan, saya tergabung dalam tim digital marketing dari sebuah perusahaan periklananan digital. Saya menyadari bahwa itu merupakan sebuah keajaiban dan keberuntungan karena scenario Tuhan yang sangat luar biasa, bermula dari seorang siswa kimia yang ingin menjadi psikologi namun terjebak dalam dunia industri kreatif. Sempat berpikir untuk terus menjajaki karir di dunia kreatif karena sudah merasa nyaman dan jatuh cinta, semua berubah. Sore itu saat saya sudah menyelesaikan semua pekerjaan yang diberikan, saya tidak sengaja membuka aplikasi instagram. Ada sebuah ads post yang menarik perhatian, yaitu penawaran beasiswa di salah satu kampus swasta bertaraf internasional di Jakarta. Secara refleks, saya membuka post tersebut dan diarahkan pada suatu laman yang ternyata lebih menarik perhatian. Saya mengambil beberapa point krusial diantaranya, pertama, kuliah empat tahun secara gratis artinya saya tidak perlu lagi meminta orang tua saya memikirkan biaya pendidikan anaknya meskipun jika saya memilih kuliah kelas karyawan hal tersebut bisa saja juga terjadi. Kedua, rumpun ilmu yang ditawarkan adalah sosial bukan sains meskipun saya memang memiliki rencana untuk melanjutkan pendidikan di universitas dengan jurusan sosial bukan sains. Dilema pilihan kembali terjadi, bukan lagi “bekerja” atau “meneruskan pendidikan” namun “bekerja sambil kuliah karyawan” atau “kuliah reguler dengan beasiswa”. Selang beberapa dihadapkan pada pilihan kembali, saya memutuskan untuk memantapkan hati dan perasaan saya untuk memperjuangkan pilihan kedua yaitu kuliah reguler dengan beasiswa. Ada satu cerita menarik dimana perjuangan yang saya lakukan bukan hanya perjuangan personal tapi turut serta campur tangannya, I know she always can be my savior and I call her as my best friend. Beasiswa sangat mengagungkan regulasi hingga banyak sekali persyaratan yang harus saya penuhi. Mengingat jarak kantor dan rumah sangat jauh (Jakarta Barat – Bogor), saya meminta bantuan kepada salah satu sahabat terbaik saya untuk ikut andil. Terima kasih yang tak terhingga dan bahkan sudah bingung harus dengan cara apa membalaskan kebaikannya. Saat harus test tertulis, saya masih ingat betul bagaimana saya sempat mengajukan ijin karena masih dalam masa bekerja dimana cuti belum diperoleh. Waktu berselang, saya masih dalam di posisi yang sama saya bekerja. Tak ada yang aneh hari itu, kecuali penampilan manager yang berubah habis cukur rambut. Membuka e-mail pribadi dan dikabari jika lolos seleksi dan berhak menerima beasiswa yang saya inginkan adalah perasaan bahagia yang tidak ternilai. Speechless, karena bingung harus bagaimana. Satu sisi hati saya bersedih karena harus meninggalkan pekerjaan. Dengan dalil, pendidikan jauh lebih penting, kesedihan itu akhirnya berbalas menjadi semangat untuk menjalani kehidupan baru sebagai seorang mahasiswa. Surat resign resmi dilayangkan, saya mulai dengan babak baru dalam hidup saya. Sampai hari ini, dimana saya masih mengerjakan tugas kuliah yang tertunda karena seharian beraktivitas di luar rumah.
Sudah hampir dua semester saya lalui, artinya menjelang satu tahun. Ijinkan saya untuk belum menyudahi refleksi satu tahun ke belakang karena ada beberapa hal yang masih ingin diceritakan. Saat masih bekerja sebagai analis kimia, saya memutuskan untuk mengisi akhir pekan dengan menjadi seorang relawan. Keinginan yang datangnya sudah sejak lama dan baru bisa diwujudkan mengingat kesibukan yang terus mengalir bak sungai. Dengan menjadi relawan, saya berharap bahwa saya bisa mempelajari nilai-nilai kehidupan yang mungkin saya belum dapatkan pada babak hidup sebelumnya. Google akhirnya menggiring saya pada salah satu komunitas pendidikan di Jakarta yang berfokus pada peningkatan minat baca pada anak. Namanya “Komunitas Jendela Jakarta” yang sekarang lebih saya suka sebut dengan sebutan keluarga kedua setelah keluarga di rumah. November 2015, saat saya pertama kali datang ke Komunitas Jendela Jakarta, tepat pada momen hari ibu dimana adik-adik didik diajarkan nilai kasih sayang seorang ibu. Mereka diminta menuliskan surat kepada ibunya tentang apapun yang ingin mereka katakan, baik berupa ucapan terima kasih, rasa cinta, maupun harapan seperti “ibu jangan galak-galak nanti aku takut”. Disambut luar biasa hangatnya oleh kakak-kakak relawan yang lain juga menjadi awal yang baik bagi saya untuk terus bisa berkontribusi sedikit terhadap pendidikan anak di Jakarta. Terlibat dalam dunia sosial dan menemukan kenyamanan yang sama saat bekerja di dunia kerja kreatif membuka sedikit celah dari pertanyaan “apa sih passion saya sebenarnya?”. Siapa yang tidak mau bekerja atas dasar cinta dan kebaikan? Apalagi pekerjaan yang kita lakukan sangat bermanfaat dan memiliki pengaruh yang positif untuk banyak orang. Bercita-cita menjadi seorang aktivis sosial yang membantu banyak orang dalam meningkatkan kesejahteraan dan menyuarakan aspirasinya adalah keinginan saya saat ini. Jika saya boleh korelasikan dengan studi yang sedang saya tekuni saat ini adalah bisnis, mungkin ke depan saya ingin menjadi seorang pengusaha berbasis sosial atau yang lebih dikenal dengan sebutan sociopreneur. Saya selalu ingat tentang sebuah perkataan yang pernah dikatakan orang tua saya bahwa akan ada selalu keajaiban setelah kita melakukan banyak kebajikan. Sekarang, perkataan tersebut menjadi kenyataan setelah segala kebajikan membawa saya menjadi pribadi yang lebih baik. Jadi, jangan lelah untuk terus menebarkan kebaikan karena kebaikan membawa kita pada kebahagiaan yang hakiki. Dari cerita yang telah diuraikan, saya semakin percaya bahwa hidup ini bukan sekedar menetapkan pilihan yang terbaik tapi juga pilihan yang bisa menjadi berkah bagi banyak orang. Semoga bisa terus mewujudkan mimpi!