Every night you dream that you talk to a genie, when you wake up you can't remember what you wished for. One morning you wake up with a giant crab pincer replacing your right arm. What do you do?
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

izzy's playlists!
wallacepolsom
h

roma★
cherry valley forever
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

bliss lane
sheepfilms
taylor price
Not today Justin
will byers stan first human second
tumblr dot com
One Nice Bug Per Day

pixel skylines
Keni
Misplaced Lens Cap
The Bowery Presents
$LAYYYTER

seen from Germany

seen from Türkiye

seen from Greece
seen from United States

seen from Australia
seen from Bangladesh

seen from United States

seen from Germany
seen from United States
seen from France

seen from France
seen from Ecuador
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Colombia
seen from United States

seen from Netherlands

seen from Brazil
seen from Bulgaria

seen from Germany
@ziyaza
Every night you dream that you talk to a genie, when you wake up you can't remember what you wished for. One morning you wake up with a giant crab pincer replacing your right arm. What do you do?

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Rumah yang Salah Ku Tuju
Sejak kecil, aku tidak pernah benar-benar mengerti apa itu cinta. Saat teman-teman SD sibuk dengan cinta monyet mereka, aku justru lebih sibuk menjadi anak guru yang takut ketahuan melakukan hal-hal aneh.
Aku masih ingat ketika kelas empat SD. Hari itu aku tidak mengikuti upacara karena sedang sakit dan menunggu di kelas sendirian. Tiba-tiba seorang teman laki-laki datang memberikan surat.Katanya surat cinta. Aku bahkan tidak membacanya sampai selesai. Setelah melihat sekilas isinya, surat itu langsung kusobek. Bukan karena marah atau benci, melainkan karena takut ibuku yang juga mengajar di sekolah itu mengetahui semuanya. Lucu kalau diingat sekarang. Aku bahkan tidak mengerti mengapa seseorang bisa menyukai orang lain.
Saat SMP, teman-temanku mulai berpacaran. Aku tetap tidak paham. Dalam pikiranku saat itu, pacaran hanya membuang waktu. Pernah sekali mencoba membuka diri, tetapi baru beberapa kali bertukar pesan, aku merasa aneh sendiri dan mengakhirinya.
SMA pun tidak jauh berbeda. Hingga suatu hari menjelang kelas duabelas, aku sempat mengagumi seorang laki-laki dari sekolah tetangga. Hanya kagum. Tidak pernah berbicara, tidak pernah berkenalan. Aku hanya tahu ia aktif di organisasi keagamaan sekolahnya. Bertahun-tahun kemudian aku mendengar kabar bahwa ia menikah dengan teman masa SMAnya. Anehnya, saat mendengar kabar itu aku tidak merasakan apa-apa. Rasa kagum itu ternyata memang hanya singgah sebentar.
Kupikir begitulah hidupku akan berjalan.
Tanpa drama cinta, tanpa kisah patah hati.
Ternyata aku salah, tahun 2017 saat kuliah S1, aku sedang sibuk mengurus organisasi yang anggotanya tersebar dari berbagai daerah di Indonesia. Di tengah kesibukan itu, ada seorang laki-laki yang sering membantu dan memperhatikanku.
Masalahnya, aku adalah manusia yang sangat tidak peka. Aku menganggap semua orang memang sebaik itu. Sampai suatu hari ia mengirimkan jilbab ke kosku dan teman-temanku mulai menggoda. Dari situlah muncul pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah kupikirkan
"Apakah dia menyukaiku?"
"Apakah dia jodohku?"
Untuk pertama kalinya aku membawa pertanyaan itu dalam doa. Aku melakukan istikharah berkali-kali. Aku tidak bercerita kepada siapa pun. Tidak meminta pendapat siapa pun. Aku hanya berdoa sederhana
"Ya Allah, jika dia memang jodohku, dekatkanlah. Jika dia baik untukku, mudahkanlah."
Waktu berjalan. Kami sempat kehilangan kontak karena kesibukan masing-masing. Hingga suatu hari kami kembali berkomunikasi ketika aku membutuhkan bantuan di kota tempatnya melanjutkan studi. Saat itu aku bahkan sudah lupa bahwa aku pernah mengistikharahkannya. Teman yang menemaniku berkata, "Kayaknya dia suka sama kamu. Nggak mungkin sebaik itu kalau nggak ada apa-apa."
Aku hanya tertawa.
Beberapa bulan kemudian, ia menghubungiku lagi. Kali ini dengan tujuan yang lebih serius.Ia mengajakku untuk ta'aruf. Aku yang baru memulai kuliah lanjutan merasa bingung. Pesannya bahkan kubiarkan selama berminggu-minggu karena aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku menyiapkan CV ta'aruf dengan hati-hati, merevisinya berkali-kali, mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin inilah jalan yang Allah bukakan.
Namun di sinilah aku melakukan kesalahan yang kelak sangat kusesali. Aku setuju menjalani proses ta'aruf tanpa pendamping atau perantara. Aku terlalu percaya. Aku melihat latar belakang keluarganya yang baik. Aku melihat pendidikan dan penampilannya yang religius. Aku mengira semua itu cukup menjadi jaminan. Ternyata tidak. Di balik percakapan yang tampak sopan, terjadi sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Suatu hari ia mengirimkan foto yang sangat tidak pantas. Aku terkejut. Lalu itu terjadi lagi. Dan lagi.
Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana
Aku syok, kecewa, merasa dikhianati oleh ekspektasiku sendiri.
Bukankah ini proses yang katanya diniatkan untuk ibadah?
Bukankah ini proses yang katanya dijaga?Aku memilih diam. Menjauh. Tidak lagi membalas pesan-pesannya.
Di saat yang sama, aku sedang disibukkan oleh penelitian dan berbagai tugas akademik. Perlahan komunikasi kami menghilang.
Hingga suatu hari, pada bulan November, ia kembali menghubungiku. Kali ini untuk mengatakan bahwa ia sedang dijodohkan oleh orang tuanya. Aku masih ingat rasanya. Seperti ada sesuatu yang runtuh dalam dadaku. Katanya ia akan datang ke rumah seorang perempuan karena ada acara keluarga. Belakangan aku tahu itu bukan sekadar acara biasa. Itu adalah proses menuju pernikahan.
Aku marah, sangat marah, memblokir semua akses komunikasi dengannya.
Lalu aku menerima undangan pernikahannya yang dikirim lewat sahabatnya. Ketika mengetahui siapa perempuan yang dipilihnya, aku semakin terluka. Bukan karena perempuan itu buruk. Sama sekali bukan. Tetapi karena saat itu aku merasa harga diriku runtuh.
Aku bertanya-tanya dalam hati
"Jadi selama ini apa yang sebenarnya terjadi?"
"Mengapa aku diperlakukan seperti ini?"
"Mengapa aku harus mengalami pelecehan lalu ditinggalkan?"
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa henti. Luka itu ternyata jauh lebih dalam daripada yang kusadari. Mungkin karena ia menyentuh luka lama yang selama ini belum benar-benar sembuh. Mungkin karena untuk pertama kalinya dalam hidup, aku membuka ruang di hatiku yang selama ini tertutup benteng baja kokoh tinggi untuk seseorang laki-laki.
Apa pun alasannya, aku tenggelam dalam kesedihan yang panjang. Bahkan berpikir pun terasa menyakitkan. Penelitian yang seharusnya kuselesaikan menjadi berantakan. Selama hampir tiga tahun aku berjuang keluar dari kegelapan yang tidak dipahami banyak orang.
Namun di tengah semua itu, Allah mengajariku sesuatu. Bahwa istikharah bukanlah alat untuk memastikan seseorang menjadi jodoh kita.Istikharah adalah cara Allah menunjukkan mana yang harus tetap tinggal dan mana yang harus pergi. Aku dulu berdoa agar Allah mendekatkan jika memang dia jodohku. Hari ini aku menyadari, mungkin jawaban dari doa itu justru adalah dipisahkan. Karena Allah mengetahui apa yang tidak aku ketahui. Sebagaimana firman-Nya
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)
Dulu aku mengira kehilangan itu adalah hukuman. Sekarang justru sebagai perlindungan. Dulu aku mengira patah hati adalah akhir dari cerita. Sekarang aku tahu itu adalah awal dari pelajaran tentang batasan, harga diri, dan tawakal.
Aku belajar bahwa keshalihan tidak bisa dinilai hanya dari penampilan. Aku belajar bahwa proses yang baik harus dilakukan dengan cara yang baik. Aku belajar bahwa ta'aruf tanpa penjagaan bisa membuka pintu-pintu yang tidak seharusnya terbuka.
Dan yang paling penting, aku belajar bahwa nilai diriku tidak ditentukan oleh siapa yang memilihku atau meninggalkanku. Nilai diriku ditentukan oleh Allah yang menciptakanku. Mungkin kisah ini bukan kisah cinta yang berakhir di pelaminan. Tetapi ini adalah kisah tentang seorang perempuan yang perlahan belajar bahwa cinta terbesar bukanlah ketika seseorang memilih untuk tinggal. Melainkan ketika Allah menjaga kita dari sesuatu yang sejak awal tidak ditakdirkan untuk menetap.
@ziyaza.id
Muraqabatullah: Saat Kehilangan Arah, Allah Tidak Pernah Kehilangan Pandangan-Nya Atas HambaNya
Ada fase dalam hidup yang hampir semua orang pernah alami. Fase ketika rencana yang sudah disusun dengan rapi tiba-tiba runtuh dalam waktu yang hampir bersamaan. Ketika harapan yang selama ini dijaga ternyata tidak berujung pada kenyataan yang diinginkan. Ketika seseorang yang dianggap akan menjadi bagian dari masa depan justru menjadi pelajaran tentang kehilangan.
Lalu seperti efek domino, satu demi satu hal lain ikut berjatuhan. Udah jatuh ketimpa tangga begitu sekiranya peribahasa yang pas.
Pada fase itu, banyak orang mulai mempertanyakan dirinya sendiri.
Mengapa hidup terasa begitu sulit?Mengapa orang lain tampak melangkah lebih cepat?Mengapa setelah berusaha sekuat tenaga, hasil yang datang justru berbeda dari harapan?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sering muncul ketika seseorang melihat hidup dari sudut pandang manusia adalah membandingkan garis waktunya dengan garis waktu orang lain.Padahal ada satu hal yang sering terlupakan. Kehidupan tidak pernah hanya tentang apa yang terlihat di permukaan.Di balik setiap kehilangan, keterlambatan, kegagalan, dan perubahan arah, ada tangan Allah yang tetap bekerja, bahkan ketika manusia merasa sedang berjalan sendirian.
Muraqabah adalah kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi, mengetahui, dan membersamai setiap keadaan hamba-Nya.Konsep ini sering dipahami sebagai pengingat agar manusia berhati-hati dalam bertindak karena Allah selalu melihat. Namun ada makna lain yang jauh lebih menenangkan.
Muraqabatullah juga berarti bahwa tidak ada satu pun perjuangan yang luput dari perhatian Allah. Tidak ada air mata yang jatuh tanpa diketahui-Nya. Tidak ada doa yang terucap dalam sepertiga malam yang hilang begitu saja. Tidak ada rasa kecewa, kehilangan, atau kebingungan yang tidak dipahami olehNya.
Ketika seseorang merasa hidupnya kehilangan arah, sesungguhnya Allah tetap mengetahui setiap langkah yang sedang ditempuh.Bahkan sering kali, justru pada masa-masa paling gelap itulah Allah sedang membimbing manusia menuju arah yang lebih sesuai dengan fitrahnya.
Salah satu bentuk kasih sayang Allah yang paling sering tidak disadari adalah ketika Dia mendekatkan kembali dalam lingkungan yang membawa seseorang mendekat kepadaNya.Saat seseorang mulai jauh dari majelis ilmu, Allah menghadirkan teman yang mengingatkan. Saat hati mulai kehilangan semangat beribadah, Allah mempertemukannya dengan orang-orang yang mencintai Al-Qur'an. Saat seseorang merasa sendirian, Allah mengirimkan manusia-manusia yang menjadi perantara hidayah.
Pertemuan-pertemuan semacam itu sering terlihat biasa. Padahal bisa jadi itulah jawaban dari doa-doa yang telah lama dipanjatkan. Karena hidayah jarang datang dalam bentuk kejadian besar yang dramatis.Sering kali datang dalam bentuk percakapan sederhana, lingkungan yang baik, atau kesempatan untuk kembali belajar mengenal Allah.
Namun saat sebuah pintu tertutup, seseorang dipaksa berhenti. Dipaksa melihat kembali kehidupannya.Dipaksa bertanya apa yang sebenarnya penting. Dipaksa mengenali apa yang selama ini hanya dijalani karena tuntutan lingkungan, ekspektasi sosial, atau standar kesuksesan yang dibuat manusia.
Tidak sedikit yang kemudian menemukan bahwa minat terdalamnya ternyata berbeda dari yang selama ini dikejar. Ada yang menyadari bahwa dirinya lebih tertarik pada manusia daripada angka. Lebih tertarik pada perubahan sosial daripada kompetisi.Lebih tertarik pada pendidikan, komunitas, keluarga, dan pemberdayaan masyarakat daripada sekadar pencapaian individual.
Penemuan semacam ini sering dianggap sebagai perubahan arah.Padahal bisa jadi itu adalah proses kembali menemukan jalan yang memang sejak awal telah Allah siapkan.
Dalam pandangan Allah, hidup bukan perlombaan kecepatan. Hidup adalah perjalanan menuju-Nya. Karena itu, keterlambatan menurut manusia belum tentu keterlambatan menurut Allah.Bisa jadi apa yang dianggap tertunda sebenarnya adalah bentuk penjagaan. Bisa jadi apa yang dianggap kehilangan sebenarnya adalah pengalihan menuju sesuatu yang lebih baik. Bisa jadi apa yang dianggap kegagalan sebenarnya adalah cara Allah mengarahkan seseorang kembali kepada tujuan yang lebih bermakna.
Muraqabatullah mengajarkan bahwa ketenangan tidak lahir ketika semua masalah selesai. Ketenangan lahir ketika seseorang menyadari bahwa Allah tidak pernah meninggalkannya.
Bahwa di setiap fase kehidupan, Allah selalu hadir, mengawasi, menjaga, mengarahkan, dan membersamai. Mungkin tidak semua pertanyaan akan segera menemukan jawabannya. Mungkin tidak semua harapan akan terwujud sesuai rencana. Mungkin perjalanan hidup masih dipenuhi ketidakpastian.
Namun selama seseorang menyadari bahwa Allah selalu melihat dan membersamainya, ia tidak akan benar-benar kehilangan arah. Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa cepat seseorang sampai pada tujuan yang diinginkannya. Melainkan tentang seberapa dekat ia kepada Allah selama menempuh perjalanan itu.
Dan sering kali, jalan memutar yang paling menyakitkan justru menjadi jalan yang mengantarkan manusia kembali pulang kepadaNya.
@ziyaza.id
Bukan Perayaan Hanya Jeda untuk Mengenang Betapa Jauhnya Langkah ini
Waktu tidak pernah berjalan dengan tergesa, tapi diam-diam ia mencatat segalanya, setiap tawa, setiap kehilangan, setiap keheningan yang tak terucap.
Dua puluh delapan tahun di bumi mungkin bukan perjalanan yang panjang, tapi cukup untuk membuat siapa pun berhenti sejenak dan menengok ke belakang.
Ada musim di mana bumi terasa begitu sempit, langkah terasa berat, dan doa hanya bergema di dada tanpa arah.
Ada masa di mana hati begitu yakin pada rencana, lalu pelan-pelan belajar bahwa yang menggenggam arah bukan manusia.
Begitulah hidup, sering kali tidak datang dalam bentuk yang diinginkan, tapi dalam bentuk yang dibutuhkan agar manusia belajar tunduk.
Dari kehilangan, manusia belajar arti kepemilikan.
Dari jarak, manusia belajar makna rindu.
Dari sunyi, manusia belajar mendengar suara yang selama ini paling pelan, suara Tuhannya.
Dua puluh delapan putaran bukan sekadar pergantian usia, melainkan rangkaian waktu di mana seseorang ditempa untuk lebih paham pada makna “cukup.”
Cukup atas rezeki yang datang terlambat.
Cukup atas mimpi yang belum jadi nyata.
Cukup atas kasih yang tak selalu kembali.
Dan di tengah perjalanan itu, ada begitu banyak bukti kecil bahwa kasih Tuhan tidak pernah benar-benar jauh:
nafas yang tetap hangat di pagi yang dingin,
pertemuan tak sengaja yang menenangkan,
jalan pulang yang entah bagaimana selalu ditemukan.
Hidup memang tidak selalu ringan.
Ada hari-hari di mana hati terasa kering, doa terasa kosong, dan arah terasa kabur.
Namun justru di saat itulah jiwa diuji: apakah masih percaya pada tangan yang tak terlihat,
pada hikmah yang belum sempat disingkapkan.
Perjalanan manusia tidak diukur dari seberapa tinggi ia sampai,
tapi seberapa dalam ia mengenal Tuhannya lewat segala jatuh dan bangun.
Dan di antara segala luka, kehilangan, serta kebahagiaan yang sementara,
ada satu hal yang tidak pernah berubah kasih-Nya yang menuntun dengan cara paling lembut.
Dua puluh delapan tahun hanyalah tanda kecil di tengah hamparan waktu yang luas.
Tapi jika dari setiap musim manusia belajar bersyukur,
jika dari setiap kegelisahan ia belajar berserah,
maka usia berapa pun menjadi saksi:
bahwa hidup bukan tentang mengejar, melainkan tentang kembali.
Kembali pada kesadaran bahwa segala yang dimiliki hanyalah titipan.
Kembali pada hati yang tunduk, meski dunia memaksa untuk kuat.
Kembali pada Tuhan yang selalu menunggu, bahkan ketika manusia terlalu sibuk mencari arah lain.
Dan barangkali, itulah makna sesungguhnya dari perjalanan di bumi:
menjadi hamba yang terus pulang, meski dengan langkah kecil, meski dengan hati yang belum sempurna.
Tadabbur 86400 Detik Tektok Gn. Gede 2958 MDPL
1. QS. An-Nisa :28
يُرِيۡدُ اللّٰهُ اَنۡ يُّخَفِّفَ عَنۡكُمۡۚ وَخُلِقَ الۡاِنۡسَانُ ضَعِيۡفًا
"Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah." (QS An-Nisa Ayat 28)
Di ayat ini Allah memberikan keringanan sebanyak 10 kali dari awal diperintahkan sholat 50 kali. Hal tersebut terus-menerus diringankan hingga akhirnya Rasulullah ﷺ mendapat keringanan mengerjakan sholat 5 waktu dalam sehari. Inilah salah satu bentuk keringanan yang Allah berikan untuk umat Nabi Muhammad ﷺ.Allah tahu saking lemahnya manusia sholat pun sampai dikurangi sebanyak 10x, dan karena Allah yang menguatkan kaki-kaki kami mendaki menyusuri hutan² selama total 24 jam, kami enam anak ini bisa kembali ke rumah masing² menjalani aktivitas seperti biasa dengan keadaan selamat dan sehat.
2. QS. Al-Baqarah:216
كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)Sungguh rencana Allah lebih baik dari diri rencana manusia. Semula kami berencana untuk tidak camping di gunung, berangkat sabtu pagi lalu sampai basecamp selepas isya, lalu bermalam di basecamp dan kembali ke jakarta ahad pagi karena ada tanggungan yang harus kami kerjakan. Qadarullah Allah kasih kejutan salah satu dari kami sakit, yang mengharuskan kami untuk berjalan lebih lambat dan mengistirahatkan badan selama beberapa jam di salah satu pos bayangan aka warung sambil menunggu tim evakuasi datang.
Dengan keadaan tidak terduga ini Allah sedang melatih dan menguji kami, siapakah yang lebih banyak kadarnya, sabar atau syukur nya. Lewat kondisi tidak ideal ini kami yang tadinya sama sekali gak kenal hanya tau kami bertumbuh di salah satu kelas online yang sama akhirnya bisa saling mengenal.
Bahwasanya setiap apa yang telah Allah takdirkan untuk hamba-hamba-Nya, di dalamnya terdapat hikmah dan maslahat tertentu, baik ketika itu kita telah mengetahui hikmah tersebut ataupun tidak. Demikian juga ketika Allah Ta’ala menimpakan musibah kepada kita, maka kita wajib berprasangka baik kepada-Nya.
Sudah sepantasnya kita meyakini bahwa yang kita alami tersebut akan membawa kebaikan bagi kita, baik untuk dunia kita maupun akhirat kita. Minimal dengan musibah tersebut, sebagian dosa kita diampuni oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, maka lihatlah takdir ini dengan kacamata nikmat dan rahmat, dan bahwasanya Allah Ta’ala bisa jadi memberikan kita nikmat ini karena memang Dia sayang kepada kita.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
[Pencarian dan Penemuan]
Mungkin kita tidak asing dengan kalimat yang diucapkan buya hamka bahwa "kita akan dipertemukan dengan apa yang kita cari".
Dan pernyataan diatas terbukti di tahun 2021. Tahun yang mempertemukan dengan orang-orang baru yang beberapa diantaranya justru temannya teman lama, jadi saling terhubung meluaskan silaturrahim.
Tahun yang menjadi titik balik diriku. Di tahun kemarin aku belajar bahwa tidak mengapa jika sedang tidak baik-baik saja, belajar lebih mengenal diri sendiri, menerima diri seutuhnya, menerima segala emosi yang hadir, belajar keluar dari zona nyaman, belajar dari berbagai sudut pandang.
Karena apapun pilihan yang kita buat dalam hidup tentunya ada konsekuensi yang ditanggung, maka setelah setahun kemarin belajar, sehingga di tahun 2022 ini mengazzamkan diri untuk mengamalkan ilmu yang sudah didapat, karena merupakan bagian dari adab dalam belajar.
1 Januari 2022
Darurat Keikhlasan
"Apapun yang terjadi di ujung usaha kita, semuanya akan kita respon dengan hamdalah kalau sejak awal kita punya keikhlasan."
Tidak akan ada sesal yang menyempitkan jiwa. Tidak akan ada murung yang menyusutkan muka. Sebab sejak awal amal itu dibangun dengan ikhlas dan ilmu.
Sepertinya kita perlu berhenti sebentar untuk merenung. Membaca lagi amal-amal kita yang sejak awal kita lakukan, kemudian bertanya: apakah sejak mula kita jadikan ikhlas sebagai pondasi utama?
Apalagi di zaman serba zahir ini. Apa-apa ditampakkan bahkan dengan bangga direkam. Makin besar tantangan untuk menjaga ikhlas. Karena rival terbesarnya adalah pamer dan sum'ah; senang jika dilihat dan senang jika didengar.
Mungkin itu kawan yang membuat kita sering lelah melihat seliweran media sosial kita. Lelah karena banyak orang terlihat berkompetisi untuk menyatakan kehebatannya. Lelah juga karena akhirnya kita pun kena cipratan noda itu, lalu ikut-ikutan mengklaim nikmat sebagai hasil dari peluh keringat kita semata.
Walaupun sebenarnya, aku yakin banyak orang tak berniat segelap itu ketika berselancar di jagat maya. Namun pikiran kita keburu melihat dari tampak luarnya, dan itu jadi masalahnya.
Itu yang membuat kita galau minta ampun kalau pencapaian kita tak terjadi. Yang membawa kita khawatir terus jika rencana kita tak sesuai harapan. Karena apa? Ya karena ikhlas itu hilang. Kita tidak siap untuk rela. Kita tidak siap untuk berbenturan dengan takdir yang disiapkan buat kita.
Berat jadinya hidup tanpa ikhlas itu. Seperti yang ditulis Ibnu Qayyim Al Jauziyyah suatu hari...
العمل بغير إخلاص ولا اقتداء، كالمسافر يملأ جِرابه رملاً، يثقله ولا ينفعه، الفوائد ص 49
"Sebuah pekerjaan tanpa ikhlas dan meneladani Nabi ﷺ, ibarat musafir yang pergi jauh tapi mengisi kantong dan bawaannya dengan pasir; memberatkan dan tak memberi manfaat."
Wal iyadhu billah...
Rabu, 3 November 2021
Seringnya, muara dari kebingungan-kebingungan saat menjadi manusia dewasa berawal dari minimnya pengetahuan/ilmu. Dengan dalih kesibukan yang seolah tak ada habisnya, kita tidak menyediakan waktu untuk belajar. Belajar banyak hal, hal-hal yang ingin kita tahu, bahkan ketika belajar kadang kita menemukan ternyata ada hal yang selama ini tidak kita tahu kalau itu ada.
Menjadi manusia dewasa, saat kita harus membuat keputusan untuk diri kita sendiri. Beban yang sebenarnya ringan bisa jadi sangat berat karena kita tidak tahu cara membawanya. Masalah yang mudah bisa jadi menjadi rumit karena kita tidak bisa melihat semua alternatif jalan keluarnya. Dan betapa tidak menyenangkannya menjadi dewasa dalam kondisi demikian. Saat kita diselimuti begitu banyak kebingungan, clueless, tidak tahu kepada siapa harus bertanya, bahkan kita tidak tahu masalah apa yang sebenarnya sedang kita hadapi sehingga kita salah mengambil kesimpulan, berakhir pada salah membuat keputusan. Bukannya masalah kita selesai, tapi justru menambah masalah. Luangkanlah waktu untuk belajar. Ilmu adalah lentera yang bisa menerangi langkah-langkah kita berikutnya. Jangan dikira belajar kita selesai, ketika kita telah selesai sekolah :)
MENGHAFAL AL-QURAN
(Ust. Abdul Aziz)
1. Hidayah mau menghafal itu sangat mahal. Jangan sampai putus di tengah jalan .
2. Apa yang dirasakan oleh asyaikh, adalah 30 juz sperti alfatihah.
3. Bagi kita yg penting usaha yang tidak pernah berhenti. Insya Allah . ALLAH mencatat kita seperti beliau .
4. kendatipun bab kemampuan seperti itu tidak terlepas dari bisa sempurna atau sebagiannya.
5. Pada akhirnya di sisi Allah, semua penghafal yang terus berusaha sama mulya di sisi Allah.
6. Kendatipun di dunia. Ada yg sdh mampu meng - alfatihahkan alquran 100 %, 50 %, 25 % Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha-usaha hamba-Nya.
7. Jadi terus murojaah, jangan pedulikan hasil. Saat-saat sehat, waktu luang, gunakan jurus min 5 juz.
8. Sampai jiwa kita sudah ga peduli apa kata orang, mutqin or not, yg penting Allah sudah melihat dan mendengar murojaah kita yg
آناء الليل وء اناء النهار
9. Terus berusaha. Sampai jiwa kita merasa bahwa ternyata puncak menghafal itu, infestasi akhirat.
10. Jangan terlalu lama saat futur, malas, bosan. Segera bangkit. Usahakan dalam sesingkat2nya.
11. Pada akhirnya yg berprestasi di sisi Allah adalah istiqomah.
مع القران ختى الموت
bukan yg lain. Jangan ada kecil hati, kesel, putus asa. Padahal sdh diberi hidayah bersibuk-sibuk bersama Alquran.
Bebas merasakan ibroh. pengalaman sang Syaikh
Teruslah membaca, menghafal, dan mempelajari Al-Quran karena Al-Quran tidak butuh kepada waktumu. Waktumulah yang butuh kepada Al-Quran. Bersama Al-Quran waktumu menjadi berkah. Bersama Al-Quran urusanmu menjadi mudah.
-ziyaza
1 Ramadhan 1442H

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Jalan mendaki itu adalah keluarga
By. Ida Nur Laila
Jika anda pernah mendaki gunung, pastinya merasakan suka dukanya. Rasa lelah, beban yang berat, terperosok, tertusuk duri, tergelincir, kedinginan, sesak nafas, teman yang butuh pertolongan, dan mungkin juga salah jalan. Mungkin juga bertemu binatang buas atau sekedar lintah yang menjijikkan. Semua itu seakan terbayar saat mencapai puncak dengan penuh kegembiraan menyaksikan sunrise dan pemandangan yang memanjakan mata.
Racikan pengalaman yang menjadi memori indah bahkan hingga bertahun kemudian. Setelahnya kita akan menceritakan dan mengenangnya, bahkan tentang segala penderitaan perjalanan, dengan sudut pandang kebanggaan dan kebahagiaan.
Berkeluarga, ibarat pergi mendaki, dengan tim bermula dua orang, suami istri.
Terkadang salah satu mengeluh, atau keduanya mengeluh. Terkadang capek, dan harus jeda sejenak mengambil nafas. Terkadang yang satu harus menahan diri, karena pasangannya berjalan sangat lambat dan meminta pengertian.
Kekurangan bekal, menghadapi cuaca ekstrim, panas terik menyengat, gerimis hingga hujan badai berhalilintar. Dan sakit yang mungkin menyerang.
Bertemu persimpangan kadang berselisih jalan mana yang akan dipilih. Ketika kabut datang seakan gelap semua arah tak tahu hendak kemana. Hanya bisa bergandengan tangan dan meraba langkah dengan mata kaki.
Terkadang ada banyak godaan di jalan, bebungaan yang indah, buah-buahan atau ranting berserak. Ketika ingin memunguti bisa jadi menghambat perjalanan. Atau sibuk mengumpulkan renik-renik dan enggan melanjutkan ke puncak lantaran beratnya bawaan suvenir perjalanan.
Berapa banyak pendaki yang menghabiskan energi dengan mengeluh sepanjang jalan, atau ramai bertengkar tentang arah perjalanan. Beberapa ada yang terperosok atau terjungkal dalam jurang yang dalam. Ada yang selamat dan bisa kembali, ada yang hilang tak tentu rimbanya.
Berkeluarga, adalah pengalaman mendaki dengan semua tantangan dan resikonya. Semakin tinggi gunung yang ingin ditaklukkan, semakin butuh persiapan mental, pemahaman medan dan kelapangan dada bekerjasama dengan team.
Perbekalan seorang pendaki tidaklah harus banyak, namun penting membawa barang-barang vital sesuai kebutuhan. Kompas, peta, bekal makanan, minuman, obat-obatan dan sekedar alas tidur. Jaket dan kaus kaki pengusir dingin, mantol hujan, Â tongkat dan tali mungkin bagian yang akan diperlukan.
Saya hanya pendaki amatiran yang penah sesekali menjelajah gunung. Namun cukuplah kiranya menjadi pengalaman membayangkan sulit dan terjalnya medan dan dinamika pendakian. Menghadapi situasi yang mungkin tidak diperkirakan.
Berkeluarga adalah pengalaman yang diinginkan semua orang. Namun apakah telah mempersiapkan tantangan pendakian? Atau mengira bisa duduk manis di mobil hingga tiba-tiba telah sampai di puncak?
Semua berpulang kepada setiap pasangan.
Kerja keras, kesetiaan dalam team, semua racikan rasa dan cuaca ekstrim adalah kemestian yang akan memperkaya jiwa. Jadi janganlah banyak mengeluh dan milikilah daya tahan, karena itulah yang akan melahirkan rasa bahagia.
Oke, keep move on dan nikmati saja semua prosesnya karena jalan mendaki itu adalah berkeluarga.
Tidak perlu menjadi luar biasa untuk memulai, tetapi harus memulai untuk menjadi luar biasa. (Zig zigular)
Menjadi tak terlihat di mata manusia memang tak mudah, apalagi saat ini dunia seolah berebut ketenaran di mata manusia. Justru hal itu lah yang menenangkan
12 Agustus 2020
[Mencintaimu Dunia Akhirat]
Beberapa kali menghadiri pernikahan dengan pengisi taujih yang sama. Yang disampaikan juga tak jauh beda. Tapi rasanya tetap nikmat untuk disimak. Sebabnya? Karena berharap taujih itu menghujam dalam, sampai nanti jika aku sudah menikah, semoga taujih itu tak berat untuk dilaksanakan.
Memangnya apa isi taujihnya?
Sebuah ide, tentang mewujudkan rasa. Bukan hanya dalam kata, tapi juga dalam makna. Bukan hanya saat ini, tapi juga sampai nanti. Mewujudkan rasa yang katanya 'istimewa' : rasa cinta dunia akhirat.
Dinasehatkan kala itu, untuk sama-sama berdua menyepakati sebuah perjanjian.
Kurang lebih seperti ini : dalam sehari, berapa juz yang harus dibaca? Dalam satu pekan, berapa kali diikhtiarkan puasa? Saling mengingatkan untuk selalu memenuhinya. Semisal istri belum mencapai target padahal belum selesai dengan urusan rumah, tidak masalah kalau sesekali, suami menggantikan untuk mencuci pakaian. Istri dipersilahkan menyelesaikan target tilawah. Semisal suami belum mencapai target sepulang kerja, istri menyiapkan jamuan sedemikian rupa (minuman hangat, buah, atau apapun) untuk menemani suami menuntaskan apa yang sudah menjadi kesepakatan. Saling menyimak murajaah sebelum tidur, satu atau dua ayat? Boleh juga. Menyepakati 10% dari pendapatan bulanan keluarga untuk didonasikan? Sepertinya seru juga.
Yah, intinya, bersama saling menjaga ruhani.
Sederhana saja sih sebenarnya. Hanya saja, bagiku yang memang belum terpikirkan untuk menikah, sementara sudah sering melihat banyak keluarga dengan berbagai macam keadaan, hal 'sederhana' ini cukup menarik. Karena ruhani yang kuat adalah bekal yang sangat baik. Untuk memberi kekuatan dalam menghadapi apa saja. Untuk memberi kesabaran dan kelapangan dalam menjaga keutuhan, kapan saja. Yang pasti, pondasi kuat, semoga menjadi bahtera ke surga.
Ya, meskipun belum ada rencana pasti untuk menikah, agaknya hal ini patut menjadi catatan utama. Bukan untuk diangan-angankan, tapi untuk diusahakan. Karena mewujudkan itu butuh dicicil dari sekarang. Butuh dimulai dari sekarang. Karena mencintai Qur'an tidak semudah membalikkan telapak tangan, bukan? Butuh proses.
[Luka Suatu Gendongan]
Sadar atau tidak, biduk bangsa ini sedang lampuh layuh
Tatas-titis-tetes sang hagemoni tergilas nafsu berebut kursi
Kursi yang menjadi saksi gerudak-geruduknya sang hagemoni
Penentu suatu kebijakan
Luapan amarah di depan layar kaca
Pencitraan belaka kah?
Kegalauan Rakyat dan para kognitariat yang tertampik
Sang hagemoni tak lagi menggendong dengan cindhe
Fakta yang ada, justru silodanlah yang dipakai
Dan itu menimbulkan luka
Luka yang tak terlihat oleh elite
Luka suatu gendongan
@jiwadigital
8 Juli 2020
#puisi #sajak #indonesia #instagram #literasi #syair #katabijak #motivasi #kata #quotes #melodidalampuisi #rakyat #politikindonesia #demokrasi #nkri #perbaikan #luka #meregenerasi

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Romantisme Ramadhan
Kini dunia sedang hening
Bumi sedang memulihkan diri
Manusia-manusia tak berkeliaran
Roda perekonomian terlindas akan hadirnya corona
Makhluk tak kasat mata nan berbahaya
Dia
Ramadhan
Datang
Bulan kemenangan
Satu-satunya bulan yang selalu dirindukan
Saat tidur pun bernilai pahala
Amalan kebaikan dilipatgandakan nilainya
Ramadhan kali ini spesial
Tak bisa sholat berjamaah di masjid
Tak ada jadwal buka bersama
Ramadhan kali ini
Mengajarkan muhasabah sesungguhnya
Selama ini benarkah kita merindukannya?
Atau hanya bualan belaka
Menjadi ajang pembuktian
Bahwasanya dia tak sekedar perayaan tahunan belaka
Diam di rumah
Itu artinya
Kita lebih bertambah amal shalihnya
Semakin khusyu beribadah
Tinggalkan hal yang tak bernilai pahala
Agar ramadhan kali ini
Kita menang
1 Ramadhan 1441H
Jiwa yang Membumi
Jemari merangkum ekspresi
Kau abadikan dalam pigura romansa
Sebagai panduan hidup bagi jiwa yang membumi
Jiwa rasa asa karsa
Menyatu dalam tiap kata yang mengagungkan asmaMu
Hangat meneduhkan jiwa berlumur gelap
Memang tak mudah dan tak pernah mudah
Jiwa yang tergulati rasa dalam rerajut
Adakah terbaca olehmu duhai jiwa pecinta?
Bahkan sudah tertuliskan acuan dengan rinci berukuran nano untukku membumi
Menggali sedalam makna yang terangkai dengan mudah
Arti makna sekedar apresiasi ataukah pemenuhan rasa?
Saat hujan memeluk
Selayak engkau
Tiada henti merasa kepada utuh-Nya segala-Nya
Aku itu jiwa yang akan kembali pada-Nya
Diriku membumi hanya sementara
Sadarkah aku? Masihkah akan terus terlumuri gelap?
Akhir sya'ban 1441 H